KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
35• (Mayra's decision)


__ADS_3

"You have a problem huh?"


Aktivitas mengaduk minuman dengan sedotan pun terhenti. Fara mendongak, menatap siapa yang mencoba mengajaknya bicara. Fara menggeleng tak percaya.


Di hadapannya saat ini ada siswi berkacamata yang selalu dijuluki 'Cupu' ketika di sekolah. Lagi-lagi tanpa diminta terjadi pertemuan yang murni karena sebuah ketidaksengajaan malam ini di Negeri Patung Merlion.


"Oh, sorry if I bother you," kata gadis itu yang melihat ekspresi tak menyenangkan dari Fara. "I go first. Good night, Far—"


"I have no problem," tukas Fara memotong ucapan gadis di depannya. Ntah angin apa yang membuatnya seakan menhalangi kepergian gadis itu. "Mmm ... what is your name?"


"OH MY GOD!"


Gadis pemilik julukan 'Cupu' itu menutup mulutnya. Tidak percaya jika Fara yang selalu mengacuhkannya, menghindarinya, bahkan tak segan menampakkan ketidaksukaannya kini bertanya siapa namanya.


"Thank you God ...," gumam gadis itu lirih dengan senyum kecilnya.


Fara yang melihat tingkah gadis di depannya, menghela napas dan merasa bodoh karena melontarkan kalimat 'What is your name'. Fara mengumpat dalam hati.


Fara berdiri, otomatis mendorong kursi yang didudukinya mundur dan menimbulkan suara deritan dari kaki kursi. Fara berniat menyudahi di coffe shop yang ia kunjungi malam ini.


"HEI FARA! INTRODUCE MY NAME IS ZEA!!"


Gadis yang Fara tinggalkan begitu saja kini berteriak menyorakan namanya. Fara mendengarnya, namun tetap berjalan pergi. Tak berniat menoleh ke belakang.


Gadis itu merutuki dirinya sendiri saat ini. Tak seharusnya ia kesenangan sendiri dan mengabaikan Fara. Dan, akhirnya berakhir seperti ini. Ia ditinggal Fara pergi.


Zea!! Siapa yang tahu jika Fara tersenyum tipis saat ini.

__ADS_1


*****


"Shadaqallahul adzim ..."


Mentari menyingsing. Menyembulkan alap cahayanya yang begitu bermanfaat bagi kehidupan makhluk di bumi. Usai salat subuh, Mayra membacakan neneknya salah satu surah dalam Al-Qur'an. Ini salah satu kebiasaan yang melekat pada Mayra adalah bawaan dari pesantren.


Nenek meneteskan air mata terharunya. Tiba-tiba nenek merasa malu dengan Mayra. Ah, cucunya satu ini ternyata tumbuh dalam balutan agama yang kental dibanding dirinya yang terkadang awam dengan ilmu agama.


"Mayra ..." Nenek menyapa Mayra yang tengah melipat mukenanya. Mayra menoleh dan segera menghampiri. "Makasih ya sudah bacain nenek Qur'an yang menyentuh hati."


Mayra tersenyum, membalas tatapan sendu neneknya. "Alhamdulillah, kalau nenek suka."


"Seandainya saja nenek bisa setiap hari mendengarkan lantunan Al-Qur'an Mayra, pasti nenek senang sekali."


Mayra dibuat mencelos. Keputusan yang sedang ia siapkan ternyata keputusan terbaik yang memang seharusnya ia pilih. Meski tadi sempat tersentak gugup tak membuat senyumnya mengendur.


Nenek mengerutkan dahi, sorot matanya yang menatap Mayra seakan isyarat pertanyaannya.


"Aku putusin buat melanjutkan sekolahku di sekolah biasa, Nek," kata Mayra kembali. "Dan, sehubungan ini aku mau minta pendapat nenek."


Nenek kembali menatap sendu Mayra. Ia raih dan genggam dua tangan cucunya. "Apa ini karena nenek, Mayra?"


Mayra membeku sesaat, lalu ia menggeleng. "Ini murni keputusan aku, Nek. Jadi ... gimana menurut Nenek?"


"Nenek setuju kalau kakekmu juga setuju." Nenek tidak boleh egois. Ia tak mungkin hanya memikirkan dirinya sendiri. Kakek berhak memberi pendapat lain.


"Tapi ...." Nenek seakan keberatan sekarang. ".... seharusnya nenek tidak membuatmu keluar dari pesantren, Mayra. Di sana banyak memberimu pengaruh positif, apa kamu tidak keberatan kalau harus pergi?"

__ADS_1


Mayra tak dapat membendung air matanya lebih lama lagi, hingga kini ia meneteskannya. Sungguh ia keberatan, tapi demi nenek dan kakeknya Mayra memilih keputusan ini, menghentikan menimba ilmu di pesantren.


"Nenek berubah Mayra, nenek tidak setuju."


*****


//Nanti aku kabari lagi, ya, Pa? Ini juga kebetulan ada deadline di Rika. Aku juga harus ngertiin itu.//


Kakek terdiam usai mendengarkan alasan putranya. Ia menghembuskan napas. Terkadang kakek ingin egois pada putranya yang kini berkelana di negara tetangga.


"Papa tidak memaksamu, kemarin hanya kabar yang harus kamu tahu tentang wanita yang telah melahirkanmu."


Suara kakek terdengar datar, tetapi aslinya kecewa. Tetapi, kakek harus mengerti keadaan.


//Kalau bisa secepatnya kita akan take off ke Indo, Pa. Do'akan saja.//


Kakek memandang ke depan. Tak berniat mengulur jawaban tetapi ia ingin saja terdiam untuk kedua kalinya.


//Sudah dulu, ya, Pa. Titip salam dan maaf buat Mama.//


Tutt tut tutt.... Panggilan terputus. Kakek tak bisa berkata apa-apa, hingga akhirnya Candra yang katanya sibuk mematikan panggilan itu. Walau begitu hingga detik ini kakek masih terdiam.


.


.


.

__ADS_1


Lolos revisi 12 Juni 2021


__ADS_2