
Kecewa pada seseorang.
Ya, itulah yang saat ini Fara alami. Bagaimana bisa ia tidak kecewa? Niat baiknya selalu gagal. Orang yang ia cari tidak pernah muncul. Tetapi, kemarin saat ia tidak mencari, malah datang. Aneh, bukan?
Perjalanan ke bandara tidak Fara nikmati sama sekali. Hari Minggu ini, orangtuanya akan kembali ke Singapura. Jadi, kakek-nenek, Mayra dan dirinya mengantar hingga ke bandara.
Mayra yang tahu bahwa Fara masih kecewa bercampur kesal saat ini, hanya bisa tersenyum saja. Ia biarkan Fara meluapkan semeluap-luapnya rasa kecewanya.
Kenapa bisa sampai kecewa?
Bagaimana tidak kecewa, Fara sudah beberapa kali menyempatkan waktu ke halte bus untuk menunggu Reynar, namun hingga Jumat kemarin sama sekali tidak ia temukan. Wajar, 'kan? Ah, wajarlah.
Mayra dan yang lain tidak mengantar om dan tantenya lebih jauh dari parkiran bandara. Namun, perhatian tantenya pada putrinya—Fara—mampu merenyuhkan hati, dan mengingatkan akan orangtuanya yang telah Allah panggil.
"Apa pantas aku menangis jika ayah dan ibu bahagia di sana?"
Mayra menatap langit, mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Ia harus terlihat tegar dan tetap tersenyum meski terkadang hatinya dirundung rindu yang teramat.
"Mayra ..."
Seketika Mayra membenarkan posisi kepalanya. Ia mengulas senyum seperti biasa.
"Maafin tante, ya, kalau selama di sini tante melakukan kesalahan." Rika tersenyum. "Tolong, ya, jaga Fara di sini."
Mayra mengangguk dengan senyum tulusnya. "InsyaAllah, Tante. Hati-hati, ya, Om, Tant."
Candra dan Rika mengangguk serempak.
Setelah mengantar kepergian Candra dan Rika. Kakek sengaja membawa Mayra ke rumah orangtuanya. Sejak pertama Mayra tinggal di rumah hingga kemarin, ia belum menjenguk orangtuanya. Selama tiga tahun pula Mayra berada di pesantren. Jadi, ini saatnya Mayra menjenguk orangtuanya.
"Mayra, Fara, kita ke TPU dulu, ya."
******
Sedikit demi sedikit Mayra menaburkan pritilan mahkota bunga merah putih di atas makam ayah dan ibunya bergantian. Sekali lagi, Mayra tidak ingin kakek, nenek dan Fara melihatnya menangis. Meski sebenarnya tidak dilarang. Pasti kakek, nenek dan Fara mengerti keadaan Mayra.
__ADS_1
"Assalamualaikum Ayah, Ibu." Mayra tersenyum getir menatap keramik nisan orangtuanya. Sudut matanya pun berair.
"Maafin aku yang baru bisa jenguk Ayah sama Ibu hari ini. Sebenarnya aku pengin datang ke sini, tapi saat itu aku di pesantren.
"Iya, kakek yang masukin aku ke pesantren. Dan, alhasil aku jadi mengerti agama sampai-sampai aku nggak mau melepas jilbabku.
"Ayah, aku nggak mau nyusahin Ayah di sana dengan membuka auratku. Aku udah baligh, Yah. Aku sekarang udah besar. Dan menutup aurat udah jadi kewajibanku."
"Wassalamualaikum Ayah, Ibu."
Tepat Mayra mengucap salam setetes air mata membasahi pipinya. Mayra tidak menyekanya, ia biarkan air matanya itu.
Mayra mendongak kala usapan lembut ia dapati di kedua sisi bahunya. Mayra tersenyum, itu tangan Fara yang mencoba menegarkan secara tidak langsung.
"May ... kenapa, sih, kamu kelihatan tegar kayak gini kalau aslinya kamu sedih banget?"
******
"May ... itu cowok kemarin!!"
Pekikan Fara membuat Mayra terkejut. Pandangannya ikut memandang ke arah yang Fara tunjuk. Dan benar saja, ada remaja kemarin—Reynar—tidak jauh dari posisinya. Mayra melihat Fara berlari ke arah Reynar.
Kakek dan nenek yang aslinya memang tidak tahu apa-apa kini menjadi bingung. Apalagi melihat Fara yang berlari—seperti tidak mau kehilangan—ke arah seorang remaja lelaki di parkiran TPU.
"Itu temannya Fara, Nek. Dari kemarin Fara nyari dia, tapi nggak pernah berhasil." Begitulah jawaban Mayra. "Mungkin ini waktunya mereka bertemu."
Fara, gadis itu menepuk bahu kanan Reynar dari belakang. Otomatis empunya menoleh. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, tetapi hampa yang Fara lihat dari wajah Reynar. Ada apa?
Fara tersenyum canggung pada Reynar. "Ha-hai Rey! Dari kemarin dicariin nggak nonggol ke mana aja?" kata Fara ingin mencairkan keadaan. Bukan respons yang Fara dapat, melainkan palingan wajah.
Ya, Reynar memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Rey ... kenapa, sih, kok kelihatannya lesu banget? Belum makan?" kata Fara kembali. Duh, jawab dong, Rey!! Fara memekik dalam hati.
"Rey ..."
__ADS_1
Tidak direspons.
"Rey ..."
Tidak direspons.
"Re—"
"NGAPAIN DI SINI!!? PERGI JAUH-JAUH SANA!!!"
Terkejut, Fara terkejut Reynar membentaknya. Bukan hanya Fara, Mayra dan kakek nenek yang mengamati dari jauh pun terkejut. Fara terhenyak beberapa saat, lalu ia menggelengkan kepala tidak percaya.
Apa Reynar masih marah tentang kejadian terakhir kali mereka bertemu?
Apa Reynar benar-benar menganggap amarahnya seserius ini?
Apa Reynar memang saat itu benar-benar marah, tidak main-main?
Apa Reynar ....
Ntahlah, begitu banyak pertanyaan dalam benak Fara hingga Fara bingung sendiri. Reynar, orangnya memang absurd, petikalan, rewel, suka bolos, jahilnya naudzubillah, tetapi ia juga selalu santai. Tidak pernah menganggap sesuatu itu serius. Pertengkaran dan adu mulut antara dia dan Fara salah satu contohnya.
Reynar memalingkan wajahnya kembali. Enggan bersitatap dengan Fara. "PERGI LO!!"
Kali ini, Fara benar-benar yakin bahwa Reynar marah padanya. Dan, satu hal yang Fara sesali, yakni perubahan Reynar. Mengapa harus berubah kalau bisa tetap menjadi yang dulu?
Tanpa berkata, Fara melangkah mundur. Ia pergi sejauh-jauhnya dari Reynar. Memang dulu ia membenci Reynar yang selalu mengusik kedamaiannya, tetapi sebenarnya tidak benar-benar benci.
Tetapi, sekarang?
Ah, ntahlah. Fara benar-benar baru kali ini membenci pertemuannya dengan Reynar yang telah berubah.
.
.
__ADS_1
.
Lolos Revisi 17 Juni 2021