KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Berita baik untuk Meyna, ia yang mendapat berita ini juga tidak menyangka. Senang, tentu saja Meyna rasakan. Sebentar lagi ia akan sederajat dengan Tasya, ia mendapat berita baik dari kepala madrasah ponpes As Salam jika mulai hari ini ia masuk dikelas 9.


Karena, Meyna yang cepat tanggap dengan pelajaran yang ia pelajari, menjadikan alasan untuknya bisa masuk ke kelas 9. Ustadzah, wali kelasnya merasa jika Meyna bisa loncat ke kelas 9, karena tingkat kecerdasannya cukup tinggi.


Ya, jadi Meyna tidak perlu menunggu waktu setahun untuk naik ke kelas 9. Hanya baru beberapa bulan dikelas 8, ia langsung bisa loncat ke kelas yang sesuai usianya. Kakek, Om Candra, dan Tante Rika juga setuju jika Meyna diloncatkan ke kelas 9.


Pagi hari yang cerah ini dengan hembusan angin sepoi - sepoi ditambah suasana asri pesantren, dan ritual - ritual keagamaan yang selalu mereka laksanakan, menambah semangat para santri santriwati untuk memulai awal kegiatan mereka dipagi ini.


Meyna dan Tasya tambah semangat '45 menuju kelas khusus santriwati kelas 9. Meyna tambah semangat untuk menghadapi rintangan baru yang akan ia hadapi dikelas 9 ini. Tasya dan Meyna mereka tidak satu kelas, jika Tasya dikelas 9F Meyna dikelas 9B.


* * * *


Kairo, Mesir..


Sejak pertemuan Mayra dengan Furqon dipelataran masjid kampus Al Azhar, hal itu menjadi awal pertumbuhan benih - benih kagum diantara keduanya. Mereka sama - sama kagum dalam diamnya. Mereka juga sama sekali tidak menampakkan rasa kagum masing - masing.


Ini kali pertamanya bagi Mayra mengagumi lawan jenis, sebenarnya Mayra sudah kagum pada seseorang. Seseorang itu yang tidak lain adalah, Ayahnya, Kakek, dan Om Candra. Mayra sudah menyimpan rasa kagum pada ketiga lelaki tersebut, yang tak lain anggota keluarganya sendiri.


Mayra benar - benar memegang prinsipnya untuk tidak mengenal lawan jenis melebihi batas wajar, apalagi sampai membuat sebuah ikatan, seperti pacaran. Ia percaya jodoh akan datang sendirinya, karena Allah telah menulis takdir hamba - hamba-Nya di Lauhul Mahfudz.


Pacaran menjadi salah satu hal yang dilarang dalam agama Islam, pacaran dapat membuat si pelakunya terjerumus dalam neraka. Jadi, orang - orang yang jomblo tidak pacaran artinya ia selamat dari api neraka.


Lebih baik tidak terikat ikatan apapun daripada nantinya terjerumus dalam jurang kemaksiatan yang menjadikan awal hal - hal yang tidak di inginkan. Jika antar lawan jenis ingin membuat ikatan, Islam sudah mempunyai caranya yaitu dengan cara ta'aruf (perkenalan) dan khitbah, selanjutnya pernikahan.


Mayra sendiri mewanti - wanti dirinya agar tidak terjerumus dalam hubungan terlarang, seperti pacaran contohnya. Ia selalu mendekat pada Sang Kuasa dan selalu menjauhi larangan - laranganNya.


Dilain tempat, dilain negara ada seorang perempuan yang selalu menyebut nama Furqon dalam tiap do'anya. Perempuan tersebut adalah Kayla, ia baru saja kenal dengan Furqon tapi rasanya ia sudah jatuh hati lebih dulu.


Namun,perasaan manusia tidak dapat di paksakan juga tidak ada seorang pun yang dapat memaksa perasaan seseorang. Sebesar apapun pengorbanan yang kita lakukan agar orang tersebut jadi milik kita, jika sudah digaris bukan jodoh kita maka itu sia - sia.


Manusia boleh berangan, boleh berharap, tapi Allah SWT yang berkehendak. Kehendak-Nya adalah yang terbaik untuk setiap makhluk-Nya, Allah juga yang lebih tahu mana yang terbaik untuk makhluk-Nya.


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah menginjak 3 tahun Mayra menuntut ilmu di negara piramida, Mesir. Disaat itu juga selama itu pula, Mayra mengagumi Furqon dalam diam. Sudah berkali - kali Mayra dan Furqon saling bertemu, bukan hanya mereka berdua saja tapi juga Ana dengan Alif.


Namun, Ana dan Alif tidak saling memiliki perasaan mereka hanya sebatas teman. Apalagi Ana, ia sudah berta'aruf dengan anak sahabat orang tuanya. Ana akan melaksanakan akad setelah lulus dari Kairo. Walau sudah 3 tahun lamanya di Kairo, Mayra tetap tidak lupa akan negara kelahirannya.


Mayra pulang ke Indonesia saat hari raya, waktu libur, dan terakhir ia pulang ke tanah air adalah saat menjenguk Kakek. Waktu itu Kakek hampir sepekan lebih dirawat di rumah sakit, keluarga begitu sedih saat mendapati kondisi Kakek yang buruk.


Namun, siapa sangka jika Kakek masih diberi umur panjang oleh Sang Kuasa. Ya, saat ini Kakek masih menikmati sisa hidupnya dengan anak menantunya ditanah air. Walau Mayra dan Fara jarang bertemu sang Kakek, mereka selalu menyempatkan untuk bertukar kabar.


Seakan mereka tidak mau melupakan keluarga di tanah air sedikit pun. Rindu berat pasti Mayra dan Fara rasakan, karena jauh dari keluarga yang amat disayangi. Tinggal menunggu sekitar 2 tahunan lagi, Mayra dan Fara bisa kembali berkumpul dengan keluarga ditanah air.

__ADS_1


* * * *


Di sore yang cerah yang hampir senja, Kakek dan anak menantunya sedang berkumpul sambil menikmati hembusan angin ditaman belakang rumah. Mereka sedang menikmati kehidupan ini sambil merenungkan pikiran masing - masing.


Kakek sangat amat bersyukur pada Sang Kuasa, dirinya masih diberi kesempatan hidup didunia ini melihat ketiga cucunya tumbuh menjadi perempuan dewasa. Bayang - bayang anak sulungnya dan istrinya, juga mendiang Nenek masih tersimpan dalam benaknya.


Kakek masih merasa kehilangan walau waktu telah berjalan dan terus berganti. Namun, Kakek tersenyum simpul mengingat bahwa dirinya juga akan segera menyusul sang anak, menantu, dan juga istrinya dialam akhirat.


Kemungkinan untuk terus dapat melihat keluarganya didunia ini tidak besar. Apalagi usia Kakek yang dapat dibilang usia telah senja. Kakek juga sudah sering keluar masuk rumah sakit, karena kadang tubuhnya tiba - tiba drop. Hanya pertolongan dokter dan takdir Allah yang mampu membuat Kakek masih bernafas.


Segala renungan Kakek buyar saat tubuhnya merasa lemas, dan nafasnya terasa sesak. Sontak Om Candra dan Tante Rika panik dan cemas melihat Kakek.


"Pa, Papa kenapa? Kita langsung ke rumah sakit saja ya Pa." ucap Om Candra kalang kabut.


"Pa, Rika akan minta Pak Ade menyiapkan mobil ya." ucap Tante Rika cemas.


Om Candra mengangguki ucapan istrinya.


Tante Rika berlari menghampiri Pak Ade didepan rumah. Cemas benar - benar mereka rasakan melihat Kakek yang sesak nafas.


"Ca-n-dra, Papa titip Mayra dan Meyna padamu ya. Didiklah ketiga cucu Papa dengan baik, semoga mereka menjadi perempuan yang sholehah." ucap Kakek bergetar dan lirih.


Om Candra menggeleng, ia takut dengan ucapan Kakek. Ucapan Kakek menandakan ajal Kakek yang sudah dekat baginya.


Tante Rika kini datang bersama Pak Ade, satpam rumah mereka. Kalang kabut dan tergesa mereka segera membawa Kakek meluncur ke rumah sakit. Tapi, Kakek justru menolak untuk dibawa ke rumah sakit, Kakek justru minta dokter yang datang ke rumah.


Om Candra dam lainnya menyetujui permintaan Kakek. Bi Ina pun langsung menelphon dokter untuk datang ke rumah. Om Candra dan Pak Ade langsung membawa Kakek ke kamarnya. Tante Rika bolak - balik mengambil segala keperluan Kakek.


Melihat Kakek yang semakin sesak, membuat mereka semua menjadi panik. Om Candra tidak sabar fan geram karena Dokter tak kunjung datang.


"Bi, kenapa dokter nya tidak datang juga?!" ucap Om Candra panik.


"Mungkin sebentar lagi, Pak." balas Bi Ina.


"Tenang ,Pa! Semoga dokter segera datang." Tante Rika mengusap bahu suaminya guna menenangkan.


1 menit..


2 menit..


3 menit..

__ADS_1


Dokter belum juga datang hampir 5 menit mereka menunggu. Om Candra pun semakin panik dan geram disana. Ia takut terjadi apa - apa dengan sang Papa.


"Candra" panggil Kakek lirih.


Om Candra dan Tante Rika langsung menghampiri Kakek yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Wajah Kakek semakin pucat dan nafasnya juga semakin sesak. Mereka yang melihat kondisi Kakek prihatin rasanya.


"Pa, Papa butuh sesuatu? atau Papa minta diantar ke rumah sakit sekarang? bilang sama Candra, Pa!" ucap Om Candra kalang kabut.


Kakek menggeleng, ia justru tersenyum tipis di bibirnya yang memutih pucat.


"Papa minta apa? Bilang saja, Candra usahakan akan memenuhi permintaan Papa." ucap Om Candra kembali.


"Jagalah cucu Papa! Papa minta maaf jika ada salah dengan kalian semua, mungkin.... mungkin ini terakhir kalinya Pa-pa melihat kalian." ucap Kakek terbata - bata.


Om Candra menggeleng cepat, "Papa jangan bilang seperti ini, cukup buat kami khawatir Pa!"


Namun, sepertinya Allah berkehendak lain. Dada Kakek naik turun seperti orang yang akan diambil nyawanya oleh malaikat izrail.


Semuanya semakin panik dan pucat seketika. Om Candra tidak bisa menerima keadaan ini, ia pun berteriak menyuruh Bi Ina menelphon dokter kembali.


"Bi, cepat telepon dokter lagi! Cepat Bi!" ucap Om Candra dingin dan kalang kabut.


Bi Ina mengangguk, lalu Bi Ina berlari keluar untuk menelphon dokter.


Om Candra dan Tante Rika menatap Kakek sendu, mereka berharap ada keajaiban pada Kakek.


Namun, satu hembusan.... dua hembusan.... tiga hembusan.... mata Kakek terpejam. Sontak Om Candra menggoyang - goyangkan tubuh sang Papa.


"Papaaaaaaaaa!" Om Candra histeris mendapati sang Papa telah tiada.


Tante Rika dan Pak Ade (satpam rumah) tak kuasa menahan air mata mereka. Kakek sudah memejamkan matanya untuk selama - lamanya, Kakek telah pergi menyusul anak, menantu, dan istrinya diakhirat.


Bi Ina yang baru datang dengan dokter langsung terkejut melihat semuanya yang ada dikamar Kakek menangis. Ia dapat mengetahui kejadian apa yang terjadi, Bi Ina pun ikut menitikkan air mata melihat kepergian majikannya.


DEG!!


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa Like n' Comment dibawah Kakak readers!!! STAY


😢😢😢😢


__ADS_2