
Tanpa disangka jika mereka akan bertemu Alif di kedai tersebut. Sejenak mereka menyapa Alif yang sedang menikmati sarapannya sambil sibuk mengamati laptopnya.
"Assalamualaikum" Salam Mayra dan Ana.
"Waalaikumsalam. Eh, Kalian hendak sarapan juga?" balas Alif.
"Iya, Akhi Alif."
Alif mengangguk - ngangguk.
"Kami permisi dulu ya, Assalamualaikum."
Alif mengangguk. "Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabbarakatuh."
Mayra dan Ana kini duduk disalah satu meja yang berjarak empat meja dengan meja Alif. Sambil menunggu menu sarapan mereka datang, Mayra dan Ana mengobrol ngobrol ringan. Beberapa menit kemudian, sarapan mereka datang. Terlihat begitu menggugah selera mereka makanan tersebut yang tidak lain adalah kushari.
Dengan awalan do'a Mayra dan Ana menyantap kushari yang telah tersedia didepan mereka. Selama aktivitas makan suasana hening tanpa obrolan, namun suara dari meja lainnya yang samar - samar terdengar. Hanya sesekali Mayra dan Ana terlihat mengutik handphone mereka.
Kushari makanan khas Mesir, jika di Indonesia kushari dikenal dengan nasi uduk. Menu kushari adalah salah satu menu disaat sarapan di Mesir.
* * * *
__ADS_1
Disebuah bandar udara internasional Singapura tampak seorang gadis sedang duduk dikursi tunggu. Matanya sesekali menyapu sekitaran dan juga sesekali menatap layar benda pipih di genggamannya. Ada raut kebahagiaan dan cemas terpancar dari wajah gadis itu, yang tidak lain adalah Fara.
Gadis berusia 22 tahun itu begitu antusias untuk ke bandara menjemput sang pengisi hatinya. Sudah tiga hari Arnoz berada di Indonesia dan baru tadi malam ia memberi kabar pada Fara. Tentunya saat mendengar kabar Arnoz pulang hari ini, Fara terlihat begitu senang.
Tling.
Sebuah notif pesan dari aplikasi whatsapp terdengar di handphone Fara. Fara langsung mengukir senyum nya saat mendapat pesan dari Arnoz.
// Aku sudah tiba di bandara. Tunggu aku, aku akan segera datang menghampiri. // by Arnoz.
Hmmm...syukurlah Arnoz sudah tiba. Aku benar - benar ingin menghujaninya banyak pertanyaan hari ini. Aku benar - benar kepo dengan urusannya di Indonesia.
Tap! tap! derap langkah kaki yang samar terdengar. Niat jahil Fara untuk mengejutkan Arnoz terbesit dalam benaknya. Fara berpura - pura menunduk tidak menyadari tibanya Arnoz. Langkah Arnoz yang semakin dekat membuat Fara tersenyum jahil, sebentar lagi keusilannya akan meluncur.
Tap! Arnoz sudah disamping Fara sekarang.
"Hai Arn- - -" kecerian Fara terhenti, raut itu berubah terkejut.
Fara pun mencoba memulihkan keterkejutannya. Ia tersenyum menyambut Arnoz yang telah tiba, tapi dia tidak tiba sendirian disana melainkan bersama seseorang.
~ Indonesia
__ADS_1
Hari ini Om Candra, Tante Rika, dan Meyna sedang berada di TPU. Mereka sedang menjenguk makam Kakek dan Nenek. Saat sedang menaburkan bunga diatas gundukan tanah yang merupakan makam Kakek dan Nenek, tangis haru kesedihan muncul seketika. Tante Rika tidak kuasa menahan air mata untuk sang mertua.
Om Candra pun sama, matanya berkaca - kaca melihat kedua orang tuanya telah kembali pada Sang Ilahi. Meyna menatap nanar kedua gundukan tanah yang saling bersebelahan itu, ia juga merasa sedih dan matanya pun berkaca - kaca.
Pa, Ma, maafkan aku. Mungkin selama ini aku belum bisa membahagiakan kalian seperti keinginan kalian. Setelah kepergian Mas Heru dan Mbak Ratna, beberapa tahun kemudian Mama menyusul mereka. Dan setelah sepeninggalnya Mama, Papa pun menyusul kalian. Hanya satu yang ku harapkan untuk kalian, semoga kalian dihindarkan dari siksa Sang Kuasa.
Air mata Tante Rika menetes berlinang membasahi pipinya.
Pa, Ma, maafkan anakmu ini. Maafkan segala kesalahanku pada kalian selama ini, mungkin aku terlalu banyak membantah kalian. Tapi, do'a dan sayang ku selalu ku curahkan untuk kalian. Semoga kalian tenang dan bahagia disana.
Om Candra menitikkan air mata, ia benar - benar tidak dapat membendung air matanya.
Setelah menabur bunga dan meletakkan beberapa bunga mawar diatas kedua gundukan tanah itu, selanjutnya mereka membacakan surah yasin. Terlihat khusyu' namun terkadang Tante Rika deras mengeluarkan air matanya. Tidak terasa tahun telah berganti, umur kedua gundukan tanah tersebut semakin bertambah.
Walaupun sudah tahunan usia makam keduanya, tetap saja makam tersebut terlihat terawat. Rumput hijau menyelimuti gundukan tanah berbentuk persegi panjang dengan bunga segar yang selalu ditabur di atasnya. Karena, setiap berkunjung ke makam Kakek dan Nenek keluarga selalu membawakan bunga tabur juga bunga pertangkai.
* * * *
Kembali ke bandara internasional Singapura, Fara masih menatap Arnoz dan seorang gadis di samping Arnoz bergantian. Benaknya bertanya - tanya siapakah perempuan disebelah Arnoz, jika saudaranya tidak mungkin. Karena, orang tua Arnoz adalah anak tunggal jadi mereka tidak punya kerabat lain.
Arnoz dan sang Kakak adalah cucu Kakek Neneknya, tidak ada yang lain juga. Fara akhirnya bertanya pada Arnoz mengenai perempuan tersebut, namun respon Arnoz tampak bingung dan takut untuk menjawab pertanyaan Fara. Melihat gelagat aneh Arnoz, Fara semakin mendesaknya agar Arnoz menjawab pertanyaan darinya.
__ADS_1