
Walau kejadian kemarin telah berlalu, dan Mayra sudah jauh-jauh membuang ingatannya tentang itu, tetap saja masih ada ketakutan yang Mayra rasakan saat kembali menunggu di halte seorang diri.
Namun, ketakutan itu tidak berlangsung lama. Saat beberapa orang mulai menemani kehadiran Mayra di halte. Mayra semakin lega lagi saat memastikan tidak ada remaja buaya kemarin di dekat halte.
Jujur, kejadian kemarin membuat Mayra sedikit trauma namun ia sama sekali tidak memberitahu keluarganya. Toh, ia baik-baik saja. Remaja buaya itu pun tidak sampai menyentuhnya, jadi tidak apa bila keluarganya tidak tahu.
Bus hari ini tiba lebih cepat dari hari kemarin. Orang-orang yang ada di halte berbondong-bondong naik ke dalam bus berwarna merah itu. Namun, saat pintu akan ditutup oleh petugas kondektur, terdengar teriakan kecang dari seseorang.
"TUNGGUUUU!!!"
Mayra dan beberapa orang dalam bus menjengit kaget. Keterkejutan Mayra bertambah kala remaja lelaki kemarin mulai masuk ke dalam bus. Bukan remaja buaya kemarin, tetapi tetap saja Mayra gemetar takut dan was-was.
Menyadari seorang gadis tampak gemetar, remaja itu pun menatap ke arahnya. Arah itu mengarah ke Mayra.
Bus mulai berjalan. Remaja laki-laki kemarin memandang Mayra yang disebrangnya tanpa makna. Namun, detik selanjutnya ia melempar bungkus permen kecil ke Mayra. Otomatis Mayra mendongak.
Dan, dua pasang mata itu saling bertubrukan untuk beberapa saat. Bersitatap itu berakhir karena Mayra lekas menundukkan padangannya dengan lafal istigfar.
"Sessssttt..."
Remaja laki-laki itu memberi kode pada Mayra, namun sayangnya Mayra tidak mampu mendengarnya.
"Sesssssttt..."
Lagi-lagi mengode namun Mayra tidak merespons. Ntah tidak dengar atau tidak peka atau bahkan sengaja. Ntahlah. Yang pasti suara cekikian terdengar dari kondektur bus yang memang dekat dengannya.
__ADS_1
"Nggak ada jago-jagonya jadi laki!" cibir kondektur bus membuat remaja itu menghela napas.
"Dek!" Mayra, remaja itu, dan beberapa siswa SMA lain mendongak, menatap ke arah kondektur bus. "Adek jilbab putih!" Kondektur itu memperjelas.
"Iya, Pak?" Mayra tetap mendongak.
Kondektur bus tersebut tersenyum jahil sembari melirik ke arah remaja lelaki yang ada beberapa jarak darinya. Mayra yang mengerti pun memandang remaja lelaki di depannya sejenak.
"Ayok ngomong, udah dibantu ini lho!" sindir kondektur bus pada remaja lelaki tersebut. Apalagi Mayra kini telah menatapnya.
Remaja tanpa name-tag di seragamnya itu mencebik. "Kagak usah dibantu juga nggak pa-pa kali!" katanya ketus.
Kini ia memandang Mayra membuat empunya menunduk. "Jangan banyak nunduk, orang mau bicara juga!" sindirnya pada Mayra, namun diabaikan. Kondektur bus hanya bisa cekikian ditempat.
"Rumah lo nomor berapa blok apa?"
Mayra terus berjalan meski remaja lelaki di belakangnya mengekori. Hingga ia telah berada di depan gerbang rumahnya, Mayra baru menghentikan jalannya. Ia memutar tubuhnya dan tetap menunduk.
"Ka-kamu ngapain ngikut aku?" tanya Mayra terbata.
Remaja di depannya menghela napas. Untung rumah kakek tidak terlalu jauh dari gerbang perumahan. Hanya melewati sekitar lima rumah untuk sampai.
"HEH!" Remaja lelaki itu tampak kesal. "Makanya kalau ditanya tuh dijawab. Gue jelas-jelas tanya sejak masuk gerbang komplek, lo malah baru jawab! Nggak budeg 'kan lo!!?"
Mayra menggeleng. "Maaf..."
__ADS_1
"Hah! Gue nggak butuh maaf lo!" kata remaja itu lagi. "Nggak makasih?"
Mayra menatap remaja di depannya beberapa saat, lalu menunduk lagi. "Buat?"
Dan pertanyaan itu berhasil membuat remaja di depannya melongo tak percaya. Lupakah Mayra?
"Lo masih tanya buat apa?" tanyanya gregetan dan kesal. "Buat kemarin, lo ingat, 'kan?"
Mayra mengangguk.
"Terus buat hari ini, secara nggak langsung lo bikin gue nganter lo sampe depan rumah. Inget!!?"
Mayra kembali mengangguk.
"Terus?" Remaja itu menaikkan satu alisnya.
"Makasih."
.
.
.
Lolos revisi 16 Juni 2021
__ADS_1