KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Mayra tersenyum sambil berhenti sejenak.


"Bisa saja jodoh Akhi Furqon adalah orang lain, aku tidak pernah berharap jika Akhi Furqon adalah jodohku dari Allah. Jika memang orang lain atau Kayla yang menjadi jodohnya, aku akan turut bahagia. Sepantasnya jika seorang muslim bahagia, muslim lainnya juga turut bahagia, bukankah begitu?" sambung Mayra.


"Benar katamu, May. Kalau begitu kita temui Akhi Furqon untuk memberikan surat ini ya? Aku akan mengantarmu, jadi kamu tidak perlu takut. Yang ditakuti apanya coba? mukanya aja ndak serem kok. Ha ha ha" Ana terkekeh diakhir ucapannya.


Mayra hanya tersenyum, "Ayo kita temui sekarang!"


"Iya, May. Ayoo!!"


* * * *


Tiba - tiba bahu Safa ada yang menepuk dari belakang, sontak Safa langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Astagfiirullah... Astagfiirullah... Astagfiirullah...baru aja aku bilang, kenapa udah dateng aja sih?!" gumam Safa ketakutan.


Jihan yang ada di belakangnya mengernyit mendengar ucapan Safa.


"Dateng?? Emang tadi kamu bilang ke siapa?" tanya Jihan heran.


Bukannya menjawab atau bahkan menoleh, justru Safa malah membacakan ayat kursi dengan cepat.


Jihan semakin mengernyit bukan hanya Jihan, tapi Kayla yang sadar pun ikut mengernyit melihat Safa membaca ayat kursi secepat kilat.


"Saf, kamu ngapain disitu? Pakai baca ayat kursi gitu lagi. Emang kamu lihat hantu??" ucap Kayla.


Safa melepaskan telapak tangannya yang menutupi wajahnya, "Haisss kamu nggak lihat apa, Kay?! Dibelakang ada Nyi Blorong, padahal aku cuma bilang gitu. Ehhh malah dateng, aku jelas takut lah." jawab Safa.


Kayla yang mendengar ucapan Safa tertawa, ia menertawai Jihan yang dibilang Nyi Blorong oleh Safa. Melihat itu Jihan langsung menggeram dalam hati, namun niat jahilnya terbesit.


Awas kalian!!! Safa keterlaluan katain aku Nyi Blorong lagi Kayla malah ketawa tanpa dosa


batin Jihan menggerutu.


Safa bergidik ngeri seakan benar - benar ada Suzana disana, padahal itu adalah Jihan.


"Hmmmfftt" Kayla menahan tawanya.


"Kayla! Kok malah ketawa sih?! Aku ketakutan nih." ucap Safa kesal.


"Ha ha ha ha" tawa Jihan pun lepas.

__ADS_1


* * * *


Setelah memantapkan diri akhirnya Mayra datang untuk menemui Furqon, ia tidak sendiri tapi ada Ana yang menemaninya. Padahal kalau Mayra menemui Furqon tanpa Ana sama saja mereka tidak berdua, melainkan ada Alif disana.


Kini Mayra dan Ana telah tiba ditempat acara wisuda, Mayra masih mengedarkan pandangannya dari kejauhan untuk mencari keberadaan Furqon. Dia! akhirnya Mayra melihat Furqon yang baru saja keluar dari aula tempat wisuda, Furqon tidak sendiri tapi ada juga orang tuanya.


"May, itu Akhi Furqon! Ayo kita hampiri!" ucap Ana.


Ana menarik tangan Mayra, namun baru melangkah tiga langkah ke depan Mayra kembali menarik tangan Ana.


Ana menoleh, "Ada apa, May? Bukannya- -"


"An, disana ada orang tuanya. Aku malu untuk datang menghampiri, apalagi untuk memberi surat." potong Mayra.


Ana tersenyum, "Udah ndak apa, May. Lagi pula surat itu bukan darimu." Ana meyakinkan.


Mayra terlihat berpikir, akhirnya ia mengangguk tanda siap untuk menghampiri Furqon.


Disisi lain...


"Selamat ya Nak, sekarang kamu sudah sarjana. Abah hanya ingin berpesan, gunakan dan tebarkan ilmu mu untuk membantu orang - orang diluar sana. Jadikan ilmu yang kamu miliki sebagai amal jariyah yang akan terus mengalir pahalanya." Abah menepuk bahu Furqon sambil tersenyum.


Furqon mengangguk, "Insya Allah, Furqon akan membagi ilmu yang Furqon miliki untuk membantu orang - orang. Furqon akan membantu mengajar dipesantren As Salam, Bah."


"Umi dan Abah bangga padamu, Fur. Jadilah orang yang sholeh, dan kelak jadilah imam yang baik untuk istrimu." ucap Uminya Furqon.


Furqon hanya mengangguk.


Tiba - tiba...


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Furqon dan orang tuanya menoleh.


Mayra terkejut melihat Abah dan Uminya Furqon, pasalnya saat ia berkunjung ke pesantren ia tidak tahu jika adik Bu Nyai adalah orang tua Furqon. Iya! selama ini Mayra tidak tahu jika Furqon adalah keponakan Bu Nyai, pemilik pesantren As Salam.


A-apa mereka adalah orang t-tua Akhi Furqon??


Mayra mematung tak bergeming.


"Nak Mayra?! Benar ini Nak Mayra kan?" ucap Uminya Furqon memastikan.

__ADS_1


Mayra tersadar, ia tersenyum kemudian menyalimi orang tua Furqon, diikuti oleh Ana juga.


"Inggih, Bu Nyai. Saya Mayra, yang berkunjung ke pesantren waktu itu." ucap Mayra ramah tamah.


Furqon dan Ana heran melihat keakraban dua perempuan tersebut. Furqon sendiri tidak tahu, jika orang tuanya telah mengenal Mayra, gadis yang ia kagumi. Ana pun begitu, ia terlihat heran saat Mayra sudah akrab dengan orang tua Furqon.


"Abah, Umi, kalian sudah mengenalnya?" tanya Furqon tidak percaya.


Abah dan Uminya mengangguk bersamaan.


"Iya Akhi, kami sudah saling mengenal walau hanya beberapa kali pertemuan saat dipesantren As Salam." ucap Mayra sambil menunduk.


"Ooh, pantas saja." timpal Furqon.


"Nak Mayra, ada apa??" tanya Abah mengenai maksud kedatangan Mayra.


DEG! jantungnya berdetak kencang, seketika Mayra gugup. Ia tidak tahu akan menjawab apa soal pertanyaan Abahnya Furqon.


Ana melirik gadis di sampingnya yang mematung, ia sendiri bingung untuk membantu apa.


"Maaf Pak Kyai, saya kesini ada urusan dengan Akhi Furqon sebentar. Kalau dijinkan, saya ingin berbicara suatu hal dengan Akhi Furqon." ucap Mayra lirih sambil tertunduk.


Sebenarnya hati Mayra sangat deg - degan saat ini, apalagi ia juga kelu saat mengucapkan kata - kata tersebut. Mayra menunduk dengan perasaan campur aduk.


Abahnya Furqon menghela nafasnya, "Mayra, apa kamu tidak malu mengajak bicara orang yang bukan mahram mu?"


DEG! DEG! Jantung Mayra semakin kencang berdetak mendengar ucapan Abahnya Furqon barusan. Kata - kata itu memang lembut, namun menerusuk hingga ke relung hati atau bisa dikatakan sedikit pedasss.


"Ma-maaf, Pak Kyai. Saya hanya ingin menyampaikan amanah dari teman saya." Mayra memberi alasan yang sebenarnya.


"Bah, biarkan Furqon bicara dengannya. Lagi pula ada Ana, jadi kami tidak berduaan bicaranya." Furqon mencetus.


Abahnya pun menghela nafasnya kemudian mengangguk.


.


.


.


Gimana kira - kira??? Tunggu kelanjutannya ya🙌

__ADS_1


Jangan lupa Like Comment dulu yaa dibawah Kakak readers!!!


__ADS_2