
Hari terakhir ujian kelulusan dan kenaikan kelas telah tiba di hari ini. Elok mentari menyingsing menyambut para santri-santriwati yang terlihat serempak menuju madrasah. Sedikit berbeda dari wajah mereka di hari sebelumnya, hari ini wajah mereka terlihat berseri-seri.
Ntah karena air wudhu atau karena ujian yang mereka hadapi telah mencapai puncak akhirnya hari ini. Yang pasti, mereka tak pernah berhenti tersenyum meski dihadapkan dengan sukarnya kehidupan pesantren. Tetapi dibalik itu semua, mereka akan menerima kenangan dan kesan tak terlupakan nantinya.
Di kelas khusus santriwati kelas sembilan, kelas Mayra. Hampir semua santriwati fokus ke buku mereka. Tak luput jua Kayla. Benar-benar amazing view, bukan? Dan, Safa ia kini percaya bahwa Kayla memang berniat berubah. Tak menyepelekan belajar seperti dulu.
"Assalamualaikum warrahmatullahi wabbaraktuh."
Suara lembut perempuan muda berbalut gamis abu-abu, dan jilbab segiempat hitamnya memasuki kelas. Itu ustadzah Aina. Seluruh santriwati pun serempak menjawab salamnya.
******
Jika Mayra di pesantrennya hari Sabtu tetap masuk madrasah, melangsungkan berbagai pelajaran umum dan agama. Maka, Fara tidak. Sekolahnya yang memang full day school, di hari sabtu seperti hari ini ia libur.
Dan, untuk mengisi waktu akhir pekannya Fara memilih video call bersama dua temannya yang minmba ilmu di Jepang menggunakan tablet. Segelas milkshake dan pancake bertopping saus karamel serta es krim vanilla, menemaninya di meja belajar.
Pintu balkon sengaja Fara buka untuk menikmati tiap desiran angin pagi. Namun, pintu kamarnya tertutup rapat bahkan dikunci. Apa tujuannya? Tentu saja agar menghalangi Reynar masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Ntah mengapa akhir ini Reynar sering berkunjung, dan hanya merecokinya. Sungguh anak kurang kerjaan!
Namun, siapa sangka jika sesekali Fara melirik pintu kamarnya yang terkunci rapat dari dalam. Berharap akan ada ketukan atau teriakan seperti biasanya. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah sembilan, Fara telah menyelesaikan video call-nya.
Sekali lagi Fara melirik ke pintu, bahkan ia tatap terang-terangan dengan ekspresi datar. Tidak menyangka jika ia akan merasa kesepian tanpa Reynar, tetangga menyebalkan yang selalu seenaknya sendiri di kamarnya, keluar masuk apart-nya, hingga merecokinya dengan kalimat tak berhenti dari lisannya.
Jeda beberapa detik, Fara menatap wall grid di dinding depannya. Ia menatap beberapa foto polaroid yang ia punya. Hingga akhirnya Fara mengambil polaroid photo yang ada dirinya dan Mayra.
Lagi dan lagi, Fara ingin sekali berjumpa dan berhambur memeluk Mayra seerat-eratnya. Senyum tipis terbit di Fara. Ntah apa arti senyum itu, hingga akhirnya ketukan pintu mendobrak ketenangan di kamarnya.
Tok tok tok!!
Seorang gadis dengan balutan gamis dan jilbab segiempatnya tengah tersenyum manis ke arahnya. Tanpa aba tubuh Fara menubruk tubuh gadis itu. Fara mendekapnya erat hingga gadis itu terkekeh kecil.
"May ... kamu ke sini kenapa nggak bilang-bilang?" Fara memegang dua tangan gadis berjilbab itu dengan senyum merekah.
Namun, yang ditanya hanya mengulas senyumnya terus-menerus.
__ADS_1
"May!" Fara menekuk bibirnya cemberut karena merasa diabaikan. "Ini Mayra saudara aku, 'kan? Mayra Athifa, 'kan?!"
Lagi-lagi Mayra hanya tersenyum. Jeda beberapa detik Mayra memeluk Fara erat. Sama seperti Fara tadi. Hingga Fara juga terkekeh kecil saat ini. Dekapan hangat dua gadis itu benar-benar hanyut hingga ke dasar terdalam. Fara nyaman dengan dekapan seperti ini.
"FARAA!!"
Deg! Fara terpelonjak kaget ditambah kehadiran Reynar di depannya, semakin membuat ia membelalakan mata. Fara menatap pholaroid photo yang tergeletak di meja belajarnya. Mayra dan dia tadi saling mendekap, senyum mereka merekah lebar. Tapi, hanya mimpi belaka?
"Woy, sadar! Ini masih siang udah molor aja lo, Ra!" tegur Reynar. Ia menuju single sofa Fara yang biasa ia duduki jika berkunjung. "Lo mimpi apa sampai kagetnya kek lihat drakula?"
Fara mendengus lirih. Ia masih berharap momentum tadi bukan hanya mimpi, tetapi kenyataan. Sayang seribu sayang, Tuhan hanya mengobati rasa rindunya ke Mayra, dengan menghadirkan Mayra dalam mimpi bukan kenyataan.
"Nggak usah sok tau bisa nggak, Rey!?!"
.
.
__ADS_1
.
LOLOS REVISI 10 JUNI 2021