
Hari ini Furqon ikut Ustadzah Abidah, kakak iparnya ke pesantren sebelah. Ia hanya ingin sekedar melihat - lihat saja disana, dan mungkin bisa sedikit membantu sesuatu jika ada yang perlu dibantu. Tidak perlu waktu lama, Furqon dan Ustadzah Abidah sampai disana.
Beberapa santri santriwati disana sedikit asing melihat Furqon. Ya, karena Furqon memang kali pertama datang kesini walau ia sudah hampir sepekan di pesantren As Salam. Dan sebentar lagi ia akan kembali ke Kairo.
"Bagaimana menurutmu, Fur? Ada yang beda atau tidak dipesantren ini sama pesantren As Salam sebelah?" tanya Ustadzah Abidah pada iparnya.
Furqon tersenyum simpul namun, senyuman sesimpul itu mampu melelehkan hati para kaum hawa jika melihatnya.
"Hampir sama sih, Mbak. Hanya disini santri santriwatinya sudah pada dewasa, kalau disebelah kan campur." jawab Furqon.
"Oya, kamu sebentar lagi kan mau kembali ke Kairo. Apa sudah ada kenangan yang layak kamu ingat tiap saat?" tanya Ustadzah Abidah kembali.
Furqon mengernyit tidak mengerti. "Maksudnya apa, Mbak? kenangan keluarga? kalau kenangan hangat sama keluarga ada."
Ustadzah Abidah terkekeh kecil. "Adik ipar Mbak ini polos apa pura - pura polos sih? sudahlah sana kamu nyusul Mas mu! Mbak tak pergi ke Mbak Aina dulu."
"Iya, Mbak. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Ustadzah Abidah dan Furqon berpisah, Furqon berjalan menghampiri Ustadz Hakam sambil mencerna ucapan kakak iparnya, Ustadzah Abidah.
Apa maksud Mbak Abidah? kenangan,kenangan apa? sudahlah tidak usah ku fikirkan.
batin Furqon.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Eh, kamu datang Fur. Kenapa melamun gitu?" ucap Ustadz Hakam.
"Oh, ndak papa kok Mas. Mas, ada yang bisa Furqon bantu disini ndak?" balas Furqon.
"Bantu apa ya? ndak ada, Fur. Kamu jalan - jalan aja sekitar sini, daripada bosen nanti." ucap Ustadz Hakam.
"Ooh, ya sudah Mas. Aku tak pinjem bukunya ya, Mas?"
"Ambil saja! Pilih yang mana yang mau kamu baca." balas Ustadz Hakam.
Furqon mengangguk, ia pun mengambil buku yang menceritakan sejarah islam dirak milik Ustadz Hakam.
Disisi lain, Meyna masih mengikuti pelajaran di kelasnya. Meyna dan santriwati lain tampak seksama memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh Ustadzah.
Teng..teng..teng
Hingga suara bel istirahat pun berbunyi, para santri santriwati langsung berhamburan keluar kelas setelah Ustadz Ustadzah yang mengajar mengakhiri pelajaran.Dan seperti biasa, Meyna dan Tasya bertemu didekat tangga untuk turun bersama.
"Assalamualaikum, Sya." salam Meyna.
"Waalaikumsalam, Meya. Yuk turun! dah laper banget nih aku." balas Tasya.
"Ya udah, ayukkk!"
Mereka pun turun bersama, namun tiba - tiba mata Meyna menangkap sosok yang sangat ia kenali dan juga sebuah mobil yang ia kenali pemiliknya.
Senyum menerkah di wajah Meyna saat melihat Kakek, Om Candra, dan Tante Rika keluar dari mobil.
Meyna pun melangkah untuk mendekat kearah mereka.
Baru saja beberapa langkah, Tasya sudah menghentikan langkahnya lagi.
"Mau kemana, Mey? ruang makan santriwati disana, kok kamu malah mau ke parkiran? mau makan ban motor kamu?!" ucap Tasya.
Meyna terkekeh kecil. "Ya nggaklah, Sya. Masa' aku mau makan ban motor, ada - ada aja kamu."
"Terus ngapain mau kesana?"
__ADS_1
"Aku mau nemuin Kakek disana. Tuh lihat!" ucap Meyna sambil menunjuk kearah Kakek.
Tasya melihat kearah yang ditunjuk Meyna. Ia pun akhirnya tersenyum malu.
"Hehehe, maaf Mey. Ya udah sana temuin dulu, aku duluan aja ke ruang makan ya? gapapa kan?" ucap Tasya diangguki Meyna.
"Gapapa, Sya. Aku kesana dulu ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Meyna pun menghampiri Kakek, Om Candra, dan Tante Rika. Sementara, Tasya ia lebih dulu ke ruang makan santriwati.
Meyna langsung menyalimi Kakek, Om Candra, juga Tante Rika.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Bagaimana kabarmu, Meyna?" tanya Kakek lembut.
"Alhamdulillah Meyna baik, Kek. Kakek, Om Candra, dan Tante Rika baik juga kan?" jawab Meyna.
"Alhamdulillah kami baik, Mey." ucap Tante Rika.
"Kek, makasih ya Kakek udah jenguk Meyna. Makasih juga buat Om dan Tante." ucap Meyna.
Kakek, Om Candra, dan Tante Rika mengangguk.
"Mey, bagaimana disini? baik - baik saja, kan?" tanya Kakek.
Meyna mengangguk, "Lancar dan baik, Kek."
"Kita bicara disana saja, ayo!" ajak Om Candra mengajak menuju ruang jenguk khusus santriwati.
"Mey, kami pulang dulu. Jaga kesehatan dan ikuti semua kegiatan pesantren dengan baik!" ucap Kakek.
"Iya, Kek." timpal Meyna.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, hati - hati!"
Meyna menatap kepergian mobil Kakek yang perlahan meninggalkan halaman pesantren.
Senyum diwajah nya masih sempurna disana. Kini ia pun kembali ke kelasnya.
Setelah pulang dari madrasah, para santri santriwati beristirahat sejenak di asrama.Lalu, dengan segera para santri menuju kamar mandi untuk bersiap diri sholat jumat. Para santri baik santri As Salam maupun pesantren As Salam 2 (pesantren sebelah) mengikuti sholat jumat di masjid utama.
Dan kali ini Furqon yang menjadi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) di sholat jumat hari ini. Dan Abah nya, adik dari Pak Kyai yang menjadi imam sholat jumat hari ini. Dengan pelafalan yang jelas nan merdu, Furqon mengumandangkan adzan. Para jama'ah sholat jumat terkagum akan suara Furqon.
Bukan hanya jama'ah sholat jumat saja yang merasa kagum, para santriwati juga ikut kagum mendengar adzan dari Furqon yang mengiang di speker masjid.
"Subhanallah merdu banget. Siapa ya yang adzan hari ini? kok kayaknya nggak pernah denger sebelumnya." ucap Meyna sambil menikmati lantunan demi lantunan adzan.
"Iya ya, Mey. Apa jangan jangan Ustadz ganteng itu ya?!" balas Tasya.
"Itu namanya Ustadz Furqon, Sya. Bukan Ustadz ganteng!" timpal Meyna.
"Hehehe iya - iya, Mey. Tapi kan emang ganteng Ustadz Furqon ya kan?"
"Terserah kamu." balas Meyna.
Bukan hanya Meyna dan Tasya saja yang kagum, santriwati lainnya pun sependapat dengan mereka. Kayla,Safa,Jihan juga santriwati As Salam 2 pun ikut kagum.
"Siapa yang adzan ya? merdu banget." gumam Kayla.
__ADS_1
"Iya, merdu banget. Duuhh suaranya dah kayak Guz Azmi." timpal Safa.
"Bukan cuma Guz Azmi doang, tapi dah kayak Syakir daulay atau Yan lucky Az zahir. The best banget! cocok nih jadi daftar personil Az zahir atau Syubbanul muslimin atau Ba..." ucapan Jihan langsung di potong Kayla.
"Memang merdu tapi, gak usah lebay disebutin satu - satu gitu." potong Kayla.
Jihan tersenyum malu.
"Kapan ya As Salam ngadain As Salam bersholawat? Aku pengen Syubbanul muslimin, Az Zahir, Habib syech yang ngisi acaranya nanti. Uuhh pasti rame banget." gumam Safa berandai - andai.
Kayla dan Jihan saling menatap.
"Mana muat tempatnya, Saf?!" ucap Kayla dan Jihan bersamaan.
"Hehehe kan andai, Kay." timpal Safa menyeringai.
"Sssttt dengerin dulu adzan nya, malah pada ngomong." ucap Jihan.
"Hehehe" Kayla dan Safa tersenyum malu.
Jihan geleng - geleng kepala.
"Aku juga sih, Hahaha" ucap Jihan tertawa.
"Ssstttt" Kayla dan Safa menempelkan telunjuknya di mulut mereka masing - masing. Jihan pun tersenyum malu.
* * * *
Kairo, Mesir
Seorang gadis cantik berhijab lebar tampak sedang fokus dengan laptopnya. Mata dan jari jemarinya tengah bermain - main di laptop.
Mayra tanpa lelah terus belajar dan belajar agar impian nya tercapai suatu hari nanti. Mayra memiliki impian ingin lulus dengan hasil yang baik dan setelah itu ia ingin umroh bersama keluarganya.
Gadis yang usianya hampir menginjak kepala dua selalu terlihat optimis dalam menjalani hari - harinya. Semangat yang ia punya patut dijadikan contoh bagi sekitarnya. Saat asik dengan laptop nya, tiba - tiba teman satu kamarnya mengejutkan dirinya.
"Assalamualaikum Mayra!"
"Astagfiirullah, kamu ini ngagetin aja. Waalaikumsalam, ada apa?"ucap Mayra terkejut.
"Gapapa, cuma mau pinjem laptop boleh?"
"Ooh, kirain apa.Ini bawa aja, bentar lagi tugas ku selesai kok." jawab Mayra lembut.
"Makasih ya. Syukron!" ucapnya
"Afwan" balas Mayra.
Gadis berhijab lebar warna biru muda itu beralih menatap ke luar jendela. Menikmati suasana asrama di Al Azhar dengan takjub. Jauh mata memandang ia sedang memutar memori nya saat di tanah air. Memori dengan keluarganya, memori dengan kedua orang tuanya dahulu membuat Mayra berkaca - kaca.
Betapa panjang nya momen - momen yang penuh kasih sayang dan kehangatan itu memutar di benaknya dan terjadi dalam hidupnya. Syukur ia rasakan bisa hadir di tengah keluarga yang penuh keharmonisan.
Tiba - tiba benaknya memutar kejadian dimana ia akan dinodai oleh pria tak dikenal, hingga pria baik yang menyelamatkan dirinya.
Siapa pria yang telah menolong ku? aku sangat berterima kasih padanya. Ya Allah untuk ada pria itu yang menolong ku. Semoga kebaikan nya Engkau balas dengan yang lebih Ya Allah... Aamiiiin
batin Mayra.
.
.
.
Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!! Makasih:) tinggalkan jejak kalian!
__ADS_1