
"Great!"
Fara melangkah lebar, meninggalkan bangku yang didudukinya juga siswi berkacamata yang sudah dua hari ini tiba-tiba merecoki hidupnya. Dan, anehnya meski diacuhkan siswi itu terus mendekati Fara. Seolah tak kapok diperlakukan acuh seperti itu.
Fara mendengar jelas jika siswi berkacamata itu memanggilnya, namun ia memilih memasang earphone di telinganya. Mendengarkan tiap lirik lagu Bad Liar dari Anna Hamilton.
Roda berputar di atas aspal jalan. Kepadatan lautan manusia seolah tak pernah menghilang. Kali ini Fara dan mamanya akan makan siang bersama. Walau sudah kelewat jam. Karena sekarang pukul tiga sore di Singapura.
Dalam mobil hanya ada senyap. Rika fokus mengemudi mobil, dan Fara fokus memandang ke luar kaca mobil. Dengan lagu favorite-favoritenya yang sudah tersimpan di playlist-nya.
"Fara?" Rika merasa kurang suka dengan senyapnya keadaan mobilnya. Yang dipanggil menoleh. Melepas satu earphone agar dapat mendengar mamanya kala bicara.
"Gimana sekolahmu hari ini?" tanya Rika hanya sekadar basa-basi. Karena ia tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Sekalipun itu dengan putrinya, Rika merasa sulit berkomunikasi biasa saja.
Rika juga sadar, bahwa Fara yang sekarang tak sepolos dulu. Fara yang sekarang tumbuh menjadi sosok acuh tak acuh bahkan dengan orangtua sendiri.
Fara tersenyum miring tanpa memandang mamanya di samping. Karena ia fokus memandang lurus ke depan.
"Tumben Mama tanya, ada apa?" balas Fara. "Biasanya juga nggak!"
Dari kalimat yang Fara lontarkan, hanya kalimat, tapi mampu menyayat hati Rika sebagai Ibunya sendiri. Rika berusaha menutupi sakit di hatinya dengan senyum. Oh, bukan sakit. Tapi ngilu yang tak karuan.
__ADS_1
"Karena Mama baru sempat ada waktu sama kamu, Fara. Bicaranya jangan ketus gitu dong." Rika tersenyum tapi hanya bisa Fara lihat dari samping. Mamanya sedang fokus menyetir.
"Masih lama nggak, Ma?" Fara bertanya yang lain. "Aku pengin cepat pulang."
"Sabar, sebentar lagi sampai kok. Papa juga kayaknya udah sampai duluan." Rika tetap tersenyum. Walau ia canggung berada di dekat putrinya. "Kenapa pengin cepat pulang? Tugas banyak, ya?"
"Nggak juga. Cuma pengin rebahan, badanku capek banget."
Rika hanya mengangguk paham.
"Tadi ... siapa, kok kayaknya akrab banget sama kamu?" Rika kembali bertanya. Mencoba biasa saja di dekat putrinya. "Teman sekelasmu?"
Fara kali ini menatap Mamanya yang sesekali juga melakukan hal yang sama. "Siapa? Yang tadi pake kacamata?"
"Bukan siapa-siapa. Nggak kenal. Nggak teman sekelas juga."
"Ah, masa sih bukan siapa-siapa?" Rika menyangkalnya. Tak percaya saja.
"Mama tanya apa ngeyel sih?!" cibir Fara. "Emang dia-nya aja yang sok akrab sama Fara. Ogah banget punya teman cupu gitu!"
"Jangan bicara gitu, Fara," tegur Rika. Secara tak langsung Fara menjelek-jelekkan siswi berkacamata padanya. Padahal, Rika rasa ia anak baik. "Manusia itu berbeda-beda. Tidak semuanya sama kayak kamu, yang menjaga penampilan. Mereka punya kenyamanan sendiri dalam memilih stlye."
__ADS_1
******
Malam hari di negera pemilik patung Merlion, hujan deras mengguyur. Menghambat pergerakan para manusia yang biasanya menghabiskan malamnya di luar. Walau tidak semuanya terhambat, namun hujan deras ini memancing umpatan para manusia.
"Twice we met today. Say hello!"
Dari siang hingga malam pun tiba, hari ini bagi Fara adalah hari yang tak pernah ia inginkan. Lagi-lagi, di manapun ia ada pasti selalu bertemu siswi berkacamata yang tak pernah ia inginkan. Fara mengumpat dalam hati sambil menatap hujan di luar sana.
Berniat memperbaiki mood-nya yang buruk, justru tak jadi. Semuanya dirusak oleh siswi berkacamata yang beberapa menit lalu duduk di depannya tanpa izin. Di sebuah cafe yang tak jauh dari gedung apartemennya, Fara saat ini berada.
"Fara, since yesterday you didn't ask my name, why?"
Fara memutar bola matanya jengah. Rasanya ia ingin menerobos hujan deras malam ini. Tapi, itu akan beresiko flu padanya. Fara tak mau itu. Sebentar lagi ujiannya akan tiba. Ia harus menjaga kesehatannya.
"Is that important to you?!" Fara menyolot. Tak suka dengan keadaan ini. "I never want to know you!!"
Seketika gadis berkacamata yang sama, menunduk takut. Ia terlihat sedih namun tak menarik iba dari Fara.
"I'm so-sorry." Ia bangkit hendak pergi. Tapi ia sempatkan untuk menatap Fara beberapa detik. "I g-go first. See you."
.
__ADS_1
.
.