
BAB DIHAPUS KARENA PEREVISIAN CERITA
.
.
.
.
.
.
.
Meyna dan Tasya menghela nafas, bersyukur tidak diberi banyak ceramah karena ketidak hati - hatian mereka.
"Mey, siapa ya tadi? kok kayaknya kita gak pernah lihat dipesantren. Ustadz baru, kah??" ucap Tasya sambil menatap punggung orang yang ditabraknya.
"Ya udah, jangan dilihatin gitu juga, Sya! Kalau Ustadz baru aku juga gak tahu, mungkin bisa jadi." balas Meyna.
Tasya mematung membuat Meyna mengerutkan dahinya.
"Kenapa, Sya?"
"Aku... Wow Ustadz tadi ganteng banget ya. Uuhhh semoga Ustadz ganteng masuk kelas 9F, secarakan 9F kelas favorit. Hehehe" jawab Tasya lebay.
Meyna memutar bola matanya. "Udah ah yuk ke asrama!" Meyna menarik tangan Tasya.
~Ndalem Bu Nyai
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Bu Nyai keluar dari dalam.
Bu Nyai memperhatikan orang yang mengucap salam dengan seksama. Ia memutar - mutar otaknya untuk mengingat seseorang.
"Bulek, ini Furqon! Apa Bulek lupa sama ponakan sendiri? Furqon adik Mas Hakam." ucap pria didepan Bu Nyai.
Seketika mata Bu Nyai berbinar, "Masya Allah Furqon, kamu sudah datang. Mana Abah dan Umi mu? kok kamu sendiri?"
"Abah sama Umi sedang perjalanan kemari, Bulek. Kami tidak satu pesawat." jawab pria bernama Furqon yang merupakan adik Ustadz Hakam.
"Ya sudah kita masuk dulu, Ayo!" ajak Bu Nyai.
Bu Nyai tampak tidak percaya jika Furqon yang merupakan keponakan nya sekarang sudah menjadi pria dewasa, dulu Bu Nyai bertemu Furqon masih seusia belasan tahun. Apalagi Furqon tumbuh menjadi pemuda yang rupawan dengan perawakan tinggi.
__ADS_1
Furqon dan kedua orang tuanya menetap di Kairo, Mesir bersama Ustadz Hakam juga. Namun, sekarang Ustadz Hakam memilih menetap di tanah air bersama istrinya, Ustadzah Abidah. Dan sesekali ke Kairo untuk menjenguk keluarganya dan mertuanya.
"Furqon,ini diminum dulu!"
"Inggih, Bulek." jawabnya santun.
"Ini kali pertamanya Furqon datang saat sudah dewasa, dulu Furqon kesini saat usia Furqon masih kecil. Pesantren As Salam sepertinya makin maju ya, Bulek." ucapnya kagum.
"Iya alhamdulillah, Furqon. Oya kamu setelah satu minggu berlibur kesini kamu mau pulang lagi ke Kairo?" balas Bu Nyai.
"Inggih, Bulek. Kuliah Furqon kan disana, Furqon hanya ikut mengantar Abah, Umi sambil berlibur sepekan ditanah air."
Bu Nyai hanya mangut - mangut.
Abah dan Umi dari Ustadz Hakam dan Furqon memilih membantu Bu Nyai, Kakak dan ipar mereka untuk mengurus pesantren As Salam setelah wafatnya Pak Kyai. Otomatis mereka akan tinggal di tanah air lebih lama dan sesekali kembali ke Kairo.
Sementara, Furqon ia masih melanjutkan S-1 nya di Al Azhar, Kairo - Mesir. Artinya ia akan sendiri disana dan hanya bersama keluarga mertua sang Kakak, orang tua Ustadzah Abidah.
"Furqon, kamu tidak cape? Kalau cape istirahatlah dikamar, ayo Bulek antar?!" ucap Bu Nyai menawari.
"Furqon masih ingin disini ,Bulek." jawab Furqon lembut.
"Ooh, ya sudah."
Bu Nyai kembali masuk kedalam meninggalkan Furqon diruang tamu. Furqon masih mengamati suasana pesantren yang cukup berubah. Tiba - tiba ia teringat akan sebuah kartu, yang tidak lain adalah kartu nama.
"Assalamualaikum" tiba - tiba ada yang mengucap salam.
Furqon langsung menyimpan kartu nama tersebut.
"Waalaikumsalam" ia berdiri untuk melihat siapa yang mengucap salam.
"Furqon?!"
"Mas Hakam?!"
Kedua kakak beradik itu langsung saling bersalaman, mata binar tampak dari wajah sang Kakak, Ustadz Hakam.
"Wah, kapan datangnya? Kok Mas gak dikabari nih." ucap Ustadz Hakam senang melihat sang adik.
"Baru saja datang, Mas. Maaf lupa, Mas."
"Oya, mana Mbak Abidah? kok nggak kelihatan, Mas?" tanya Furqon.
"Ooh, Mbakmu sedang dipondok sebelah, bantu Mbak Aina." jawab Ustadz Hakam.
"Owalah, gitu Mas. Terus mana Ilyas dan Ilyasa? Apa ikut Mbak Abidah juga?" tanya Furqon kembali.
__ADS_1
Ilyas dan Ilyasa adalah anak kembar dari Ustadz Hakam dan Ustadzah Abidah. Mereka lahir hanya berselang 5 menit.
"Ilyas dan Ilyasa ikut juga sama Uminya. Disana mereka biasa main dengan santri." jawab Ustadz Hakam.
Furqon hanya mangut - mangut.
"Bulek ada tho, Fur?"
"Ada, Mas. Emang ada apa kok nyari Bulek, Mas?"
"Biasa. urusan pesantren. Mas tak masuk dulu, ayo kamu ikut sekalian." ajak Ustadz Hakam diangguki sang adik, Furqon.
"Abah sama Umi masih perjalanan?" tanya Ustadz Hakam.
"Iya, Mas." balas Furqon.
* * * *
Disisi lain anak - anak Ustadz Hakam terlihat asik bermain bersama Safa. Walau hanya berlari - larian kedua anak kembar tersebut terlihat sangat senang.
Ustadzah Abidah yang telah selesai mengurus urusannya, ia segera menjemput kedua putranya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Safa.
"Ilyas dan Ilyasa dimana ,Safa?" tanya Ustadzah Abidah.
"Itu, Ustadzah. Mereka seneng banget kejar - kejaran." jawab Safa.
Ustadzah Abidah tersenyum menatap anak - anaknya.
"Syukron ya, Safa. Ustadzah jadi ngerepotin kamu nih."
"Afwan, Ustadzah. Saya justru senang bisa main dengan Ilyas dan Ilyasa, mereka anak yang baik." balas Safa.
"Ya sudah saya pamit dulu, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Ustadzah."
Ustadzah Abidah pun menghampiri putranya dan mengajak mereka pulang, apalagi sebentar lagi mau maghrib.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!!