KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
63• (Tell me, Fara)


__ADS_3

"Kalau aku ada salah, tolong katakan padaku, Ra."


Fara menunduk, merasa bersalah telah mendiami dan menghindari Mayra selama dua hari sebelumnya. Hingga, akhirnya Mayra memilih turun tangan dan menyelidiki apa penyebab Fara seperti itu.


Dersik angin malam terdengar peka di telinga, karena hanya ada senyap di antara Mayra dan Fara. Rembulan dan milyaran bintang menyaksikan sendiri keheningan di sana.


Seharusnya Fara tidak bersikap seperti ini. Tetapi, hatinya berbisik agar ia menyendiri dan menjauh dari orang yang hanya memperburuk suasana hatinya.


Mayra tidak mengalihkan pandangnya dari Fara. Sesungguhnya, ia tidak pernah ingin melukai hati siapapun hanya karena seorang lelaki.


"Ra, aku sama sekali nggak ada niatan untuk buat kamu murung bahkan sedih begini," kata Mayra mencoba menyudahi senyap yang mengikat.


"Ra ...."


Fara mendongak, menatap ke Mayra yang ada di sampingnya. Ia menangkap sorot kekhawatiran di mata sepupunya itu. Aku makin ngerasa bersalah, May, senandika Fara.


"Aku ... nggak pa-pa kok, May." Fara mengulas senyum, memperkuat alibinya. "Kamu ... kok nggak belajar?"


"Jangan bohong, Ra!" cetus Mayra, mengabaikan ucapan Fara. "Aku akan belajar kalau hatiku udah lega, karena tahu apa penyebabmu menghindariku."


"Please, tell me, Fara!"


Fara mengalihkan pandang ke langit malam yang gemerlap penuh sinar. Sulit sekali rasanya mengatakan pada Mayra, bahwa dia cemburu akan Mayra yang juga memiliki kebersamaan dengan Reynar.


Itu artinya, Fara iri pada Mayra?

__ADS_1


Itu artinya, Fara tidak suka Mayra dekat dengan Reynar, 'kan?


Itu artinya, Fara tidak suka Mayra terhibur?


Jika Mayra mau lebih menyadari kehadiran Reynar dalam hari-harinya, ia akan menemukan rasa terhibur dengan adanya Reynar.


"Aku minta maaf, May. A—aku nggak seharusnya giniin ka—mu," kata Fara sendu. Ia menatap mata Mayra.


"Jangan minta maaf! Aku yang buat kamu seperti ini, Ra. Aku penyebabnya kamu seperti ini, Ra. Aku minta maaf, ya?" kata Mayra dengan seulas senyum meneduhkan. "Untuk Reynar, aku hanya memenuhi permintaannya untuk diantar ke masjid, cuma itu."


Fara menggelengkan kepala. "Kamu nggak salah, aku yang salah. Aku udah menghalangimu untuk bahagia, May. Aku nggak sadar diri, kalau kamu juga perlu penghibur untuk mengisi sepimu."


Mayra semakin melebarkan senyumnya. "Selama ini aku nggak kesepian, Ra. Ada Allah yang selalu menjadi temanku dan akan menjadi tempat kubergantung."


"Ra, aku nggak mau hal ini terjadi lagi, ya. Reynar bukan siapa-siapamu, dia hanya sahabatmu," tegur Mayra meluruskan Fara, yang seolah Reynar akan terus disisinya. "Jangan berharap pada manusia, terlebih orang yang tidak pasti untukmu."


Fara mengangkat pandangnya. Ia mengangguk, setuju dengan kalimat Mayra. "Jangan berharap pada manusia yang tidak abadi. Aku nggak akan gitu lagi, May. Janji!"


Mayra tersenyum. "Jangan janji-janji, karena kalau kamu mengingkari kamu berarti berdosa," katanya penuh pesan yang membuka hati Fara. "Lebih baik buktikan langsung daripada mengucap janji."


Fara merentangkan dua tangannya lebar. Mayra pun masuk dalam ruang yang Fara buat. Mereka saling berpelelukan, menyalurkan kehangatan di tengah hembusan angin malam yang amat dingin.


******


"Aromnya sih ... udah baikan. Iya nggak?"

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Zikra telah berdiri tidak jauh dari tangga musala sekolah. Siang ini tidak ada hujan tidak ada guntur, Fara mau ikut Mayra salat dhuhur. Pasalnya, sebelumnya Fara selalu menolak dengan berbagai alasan atau bohong izin ke toilet, padahal ngantin.


"Kak Zikra sok tau!" kata Fara dengan senyum yang pernah hilang. "Kita, 'kan, baik-baik aja, ya, May?"


Mayra mengangguk.


"Sekali-kali di kubuku lah, May," keluh Zikra tapi senyumnya terpapang jelas di wajahnya. "Mentang-mentang sepupuan!"


Mayra tersenyum tipis dibalik kepalanya yang menunduk, dan Fara sudah terkekeh di hadapan Zikra.


"Kalem dikitlah, Ra ...." sindir Zikra langsung membuat Fara membekap mulutnya.


Giliran Zikra yang terkekeh di antara mereka. "Mau pada ngantin?"


Fara mengangguk.


"Ya sudah, sekalin aja yuk!"


.


.


.


Lolos Revisi 29 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2