KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
51• (Tawaran)


__ADS_3

Di sekolah Mayra. Ia bersama Fara baru saja mendudukkan diri di bangku masing-masing. Saat itu pula, Mayra mulai mengambil buku pelajaran jam pertama. Tepat saat ia berbalik menghadap mejanya, ia bersitatap dengan Fara.


Lewat sorot matanya, seperti ada yang ingin Fara sampaikan. Tapi ... ntah itu, Mayra tidak tahu. Jadi, Mayra hanya tersenyum. Begitupun Fara.


Kriiinggg!!


Bel tanda istirahat berbunyi seantero sekolah. Para siswa di kelas Mayra, yang tadinya lesu karena pagi-pagi digebrak oleh rumus matematika, lalu jam kedua fisika. Kini tersenyum lega saat itu juga. Sepertinya mereka benar-benar stress di dalam tadi.


Fara menghampiri Mayra di bangkunya yabg terletak paling belakang.


"May ... yuk ngantin!" ajak Fara. Ia menapakkan dua telapak tangannya di meja Mayra. "May, gimana ceritanya kamu duduk sendiri di belakang lagi? Lah aku, kok malah bisa sebangku sama sekertaris kelas kita?"


Mayra menjawab sembari membereskan alat tulisnya.


"Kenapa nggak bisa?" Mayra balik tanya. Sebelum Fara melontarkan pertanyaan lagi, Mayra kembali berucap. "Aku awalnya duduk di bangku nomor dua, tapi aku minta pindah. Kamu pasti tau alasannya."


"Karena nggak sengaja duduk sama laki-laki?" tebak Fara dan diangguki Mayra.


Kini dua gadis itu berjalan keluar kelas. Dan Fara kembali melontarkan pertanyaan.


"Kamu segitunya, ya, sama laki-laki?" Fara jelas-jelas tahu Mayra bagaimana, masih aja tanya.


"Menjaga jarak, Ra."


"Iya, aku ngerti. Kalau gitu kemarin kenapa kamu bisa diantar Rey?"

__ADS_1


Pertanyaan Fara yang satu ini berhasil membuat Mayra menghentikan langkah kakinya. Fara pun ikut juga. Fara menatap lekat Mayra yang hanya diam, menatap ubin koridor.


"Bukannya apa-apa, May. Aku cuma heran aja kalian bisa bareng gitu. Rey nggak satu sekolah sama kita, 'kan?"


Mayra menggeleng. Ia kembali berjalan, Fara pun juga.


Setibanya di kantin, dengan Fara dan Mayra membawa sepiring batagor ke meja mereka. Fara tidak bosan bertanya. Kali ini bukan Reynar, tapi ... Zikra—kakak kelas populer juga merupakan wakil OSIS.


"May ... tumben, ya, Kak Zikra nggak nongol tiba-tiba? Kan jadi kangeen..." kata Fara disusul sesendok batagor ia lahap.


Mayra menghela napasnya. "Katamu, kangen? Kamu tuh ada-ada aja, Ra."


Fara mendadak menatap Mayra lekat. "Aku salah ngomong emang? Aku serius, Maaayy."


"Iya, calon Bu Hajjah."


Akhirnya Fara pasrah. Ia tidak mungkin bicara lebih. Kalau bicara lagi, paling-paling Mayra mengabaikan. Lebih baik diam, 'kan, sekarang?


Tapi...


"Ra, kemarin Reynar titip maaf buat kamu."


Lho, katanya Fara suruh diam. Ini? Kok Mayra malah mengajaknya bicara lagi? Fara manggut-manggut saja kalau begitu.


******

__ADS_1


Setelah hari itu Fara membicarakan Zikra, beberapa hari kemudian datang jua orang yang sejak kemarin dibicarakan. Ntah angin apa yang membawa sosok Zikra ke hadapan Mayra dan Fara saat kelas mereka kosong guru. Ya, beruntung jam ketiga yang harusnya diisi guru sejarah—karena ada halangan si gurunya—jam ini kosong.


Para siswa pun bahagia. Saat Zikra masuk ke kelas sepuluh, para siswi yang tadinya bergosip ria dan gabut tidak jelas, reflek diam membeku sembari memperhatikan Zikra.


Kalau siswa laki-laki mah tidak menggubris. Mereka tetap asyik mabar hingga nobar di bangku masing-masing, taoi sebagian ada yang memilih bangku belakang.


"Ikut ke mana, Kak?"


Mayra benar-benar bingung karena tiba-tiba Zikra menyuruhnya untuk ikut. Ikut ke mana? Ntah, Mayra tidak tahu. Dan Fara yang sejak tadi duduk di samping Mayra—di bangku sebrang bangku Mayra—ikut heran.


Zikra menepuk dahinya. "Sorry. Ya ampun, gue sampai lupa bilang ke lo, May. Maaf buat asal maksa ayo-ayo tadi, ya?"


Mayra mengangguk. Yang anehnya lagi, Zikra tahu namanya. Dari mana coba? Mayra ingat sekali bahwa ia tidak pernah mengatakan namanya pada Zikra. Ah, sudahlah. Untuk apa mikirin itu?


"Jadi gini ... May, lo mau, ya, wakilin sekolah kita di lomba tartil Qur'an? Kalau lo menang, otomatis nama lo bisa melambung di sekolah, May." Zikra sangat berharap Mayra menjawab 'Iya'. "Gue tau banget kalau lo itu suka dipandang sebelah mata sama anak-anak. Lo mau, 'kan, soal lombanya?"


"Kenapa harus aku, Kak?"


.


.


.


Lolos revisi 20 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2