
"Nenek lagi apa?"
Wanita berusia setengah abad itu menoleh dengan senyum terulas. Ia berkata, "Sini Mayra, nenek lagi buat puding."
Mayra berada di samping neneknya yang berdiri menghadap kompor, tengah mengaduk-aduk puding yang masih tahap pembuatan dengan api sedang.
"Kenapa nggak bilang Mayra, sih, Nek?" Mayra merasa kasihan saja jika neneknya letih. Usianya sudah tidak lagi muda, pasti cepat letihnya. "Aku, 'kan bisa bantuin, Nek."
Tangan kanan nenek mengusap kepala Mayra yang tertutup jilbab bergo warna mocca, dan berkata, "Cuma bikin puding masa capek, Mayra? Nenek nggak apa."
"Iya deh, Nek. Nenek emang masih bugar meskipun udah senja. Tapi, 'kan, ini juga udah malam, Nek." Mayra membantu menyiapkan wadah cetakan untuk puding. "Kenapa nggak minta bantuan bibi juga?"
"Cuma buat puding minta bantuan bibi? Nenek tidak selemah itu, Mayra cucuku."
"Biar aku yang ngaduk, ya, Nek? Nenek duduk aja," titah Mayra. Ia yakin bisa membuat pudingnya, apalagi di kemasannya pun ada instruksi pembuatannya.
"Lagi apa, Nek, May?"
Fara mengahampiri. Gadis itu mengikat rambutnya cepol, dan sudah memakai piyama.
"Buat puding, Ra. Kamu belum tidur?" balas Mayra asyik mengaduk.
Fara duduk di samping kursi nenek. Ia memperhatikan Mayra membuat puding.
"Kalau udah tidur aku nggak di sini, May. Ada-ada aja kamu mah, May!" kata Fara. Ia habis bertukar kabar dengan orangtuanya di Singapura. Hampir tiap sebelum istirahat, Fara menerima panggilan Rika—mamanya.
"Mamamu tadi telpon lagi, Fara?"
"Iya, Nek. Kata mama, mama titip salam buat Nenek, Kakek sama kamu, May."
__ADS_1
"Waalaikumsalam warrahmatullah."
"Jumat depan ikut ke kajian, ya, Ra!" kata Nenek bukan menawari tetapi memerintah. "Daripada kamu tidak ada kegiatan di rumah, mending ikut ke kajian kayak Mayra."
Fara menghela napasnya. Jujur, ia sangat enggan untuk menghadiri acara seperti kajian. Kalau ia ikut, paling juga tidak mendengarkan karena menahan kantuk.
"Aku nggak janji, ya, Nek."
"Kamu itu kenapa susah banget diajak ke jalan kebaikan? Nenek ingin terbaik buat kamu dan Mayra."
Fara berdiri, otomatis kursinya mundur dengan suara decitan. Fara ya seperti ini, kalau dinasehati selalu mengelak. Ia tidak pernah bisa mendengarkan.
"Nek, aku ke kamar dulu, ya? Ngantuk."
"Jangan terusin kebiasaan kamu yang jelek ini. Nenek mau kamu lebih baik dari yang sekarang. Kalau bisa, belajarlah sama Mayra. Dia pasti menuntunmu."
"Iya, Nek. Selamat malam."
"Nenek jangan terlalu keras menasehati Fara. Aku nggak mau dia jadi ingin pulang ke Singapura."
"Meskipun nenek menasehatinya, dia tidak akan mendengarkan, Mayra."
"Iya Nek, aku tau. Tapi, kalau seandainya Fara pulang ke Singapura, bukankah semakin sulit untuk mendidiknya?"
Benar juga kata Mayra. Nenek mengulas senyum, ia beruntung memiliki cucu seperti Mayra. Satu harapan nenek, semoga Fara lekas hijrah. Meninggalkan budaya barat yang telah melekat pada dirinya.
******
"Kamu pasti minta waktu latihan pas istirahat karena cowok kemarin, ya? Dia ... siapa kamu?"
__ADS_1
Mayra tertunduk, gugup. Semua seakan terjadi di luar kesadarannya. Tiba-tiba, ia berkata pada Zikra untuk latihan di jam istirahat. Meski waktu istirahat hari ini Zikra memiliki kesibukan dengan ketua OSIS, ia tetap mengiyakan.
"Bukan siapa-siapa, Kak. Dia itu teman Fara, dan kami juga saling kenal."
Zikra menghela napasnya, wanodya polos di depannya ini memang elok hatinya.
"Iya, aku setuju aja mau latihan dijam istirahat atau pulsek. Tapi, kamu percaya gitu aja sama dia? Bisa aja cuma modus dia-nya."
Mayra menatap sejenak Zikra, lalu kembali menunduk. "Aku percaya kalau Allah selalu melindungi hamba-Nya. Jadi, nggak ada yang perlu dikhawatirin."
Tiba-tiba tangan Zikra terangkat—ingin mengusap pucuk kepala Mayra—tetapi sebelum itu sungguh terjadi, Zikra membelokan tangannya untuk mengusap tengkuk kepala sendiri. Di dekat Mayra ia salting.
"Kamu benar, May." Zikra tersenyum meski Mayra tidak akan melihatnya. "Gih ke kelas, mau bel."
Mayra mengangguk. "Assalamualaikum." Ia berjalan mundur beberapa langkah dan memutar tubuhnya untuk ke kelas.
"Waalaikumsalam." Zikra memadangi kepergian Mayra.
Tidak ada kata henti baginya, untuk tersenyum pada Mayra. Tidak ada kata penolakan baginya, jika itu berkaitan dengan Mayra.
Ketahuilah, bahwa lelaki dua tahun lebih tua dari Mayra itu sedang jatuh cinta dan kagum pada satu sosok. Hatinya yang lama tidak memiliki penghuni—saat mengenal Mayra yang cukup dikucilkan oleh warga sekolah—hatinya seakan hidup kembali.
"If possible, this heart is only yours forever ..." senandika Zikra masih setia dengan senyum yang terpatri di wajahnya.
.
.
.
__ADS_1
Lolos revisi 26 Juni 2021