
Jika ada rasanya tak peduli, namun kala sudah tiada rasanya ingin dicari.
Beberapa hari terakhir setelah perdebatan antara Fara dan Reynar kemarin. Seakan semuanya berubah. Fara menyusuri koridor sekolah, berharap dapat menemukan sosok yang selama ini tidak ia pedulikan.
Tetapi kini?
Fara merasa peduli dan kehilangan. Tanpa Reynar, rasanya seperti ada yang kurang. Apalagi mereka itu sudah berteman sejak bangku sekolah dasar. Dan takdir mempertemukan keduanya di Singapura, dengan status 'Pelajar sekolah menengah pertama'.
"Masa' gara-gara kemarin Rey sampe marahnya begini? Ah, nggak mungkin!!" batin Fara. Ia masih menyusuri koridor meski keadaan sudah tak seramai tadi.
Di hari terakhir berada di secondary school atau SMP membuat jam pulang jauh lebih awal dari biasanya. Karena, hari ini adalah penerimaan hasil belajar para siswa.
"Congrats Fara!!"
Langkah Fara mendadak berhenti. Ada siswi berkacamata—Zea— yang kini berdiri di hadapannya, dengan menyodorkan kertas berwarna biru. Fara tak mengambilnya, ia hanya menatap tak mengerti.
"Did you meet Reynar?" Fara justru bertanya pada Zea tentang Reynar. Bagaimana bisa ia bodoh seperti ini? Zea tidak mungkin tahu Reynar.
Zea mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mencerna ucapan Fara. "Re-reynar your classmate?"
Fara mengangguk malas. Menunggu adalah hal yang tidak sukai. Namun, ntah mengapa Fara mau menunggu gadis di depannya untuk berpikir.
Senyum merekah pada Zea. "I remember!!" ujarnya girang. "He came home ten minutes ago!"
Tiba-tiba Fara langsung berlari begitu saja, meninggalkan Zea yang terhenyak ditempat. Terlalu buru-buru Fara sampai menubruk seseorang di koridor.
"I'm sorry Ma'am!!" kata Fara tersengal-sengal. Napasnya tak beraturan karena berlari.
__ADS_1
"Fara?"
Fara menatap siapa yang ia tabrak. Napas lega terhembus, ternyata itu mamanya.
"Ma, ayo kita pulang sekarang!!" Fara menarik tangan mamanya.
"Ta-tapi mama harus bertemu gurumu, Fara," kata Rika di sela dirinya ditarik oleh Fara.
"Lupakan, aku udah ambil hasilnya, Ma!" kata Fara terburu-buru.
*****
"Ya ampun, Fara!" Rika memegang dadanya yang berdegup abnormal karena berlari, mengejar Fara. "Kamu kenapa lari, sih!? On purpose to make mom tired??"
Fara yang sedari tadi menggedor pintu apartemen Reynar pun berhenti, dan menoleh ke mamanya.
"REY REY REY!!"
Teriakan Fara menyita perhatian mamanya yang tengah menstabilakan debug jantungnya, tak terkecuali beberapa orang yang lalu lalang.
"REY!! COME OUT, REY!!!"
"FARA!" tegur Rika. Fara menoleh, menatap mamanya sedikit kesal. "Kenapa kamu teriak-teriak? Jaga tingkahmu!"
Fara tak hiraukan ucapan mamanya. Yang ia inginkan sekarang adalah, bertemu Reynar walau tak tahu apa yang ingin ia katakan atau lakukan pada Reynar. Hingga lama Fara mengetuk bahkan berteriak dan tak kunjung mendapatkan respons, Fara menyerah.
Ia menatap pintu apart Reynar sejenak. Lalu, ia masuk ke dalam apart-nya dengan lesu. Fara lelah saat ini. Ia mendudukan diri di sofa ruang tamu dengan memeluk dua kakinya. Banyak pertanyaan di benaknya yang membuat kepalanya ingin pecah.
__ADS_1
Rika keluar dari dapur dengan segelas orange jus. Ia menghampiri Fara yang terlihat lesu nan lunglai.
"Mama bawain jus jeruk, diminum gih!" kata Rika sembari mengusap lengan Fara yang masih memeluk dua kakinya.
Fara tak menggubris. Ia enggan mengubah posisinya yang sekarang.
"Kenapa sama Reynar sampai kamu gedorin pintunya?" tanya Rika. Sejak tadi ia penasaran. "Kalian ada masalah?"
Fara menggeleng lesu. Mengubah posisinya dengan duduk bersila di atas sofa. Perlahan ia meminum orange jus di sana.
"Dia kemana, ya, Ma?" ujar Fara memandang kosong ke depan.
Rika mengerutkan dahi. "Jadi, kamu nggak tahu soal Reynar dan orangtuanya?" tanya Rika membuat Fara menatapnya intens.
"Mereka tadi malam take off ke Indonesia," kata Rika kembali membuat Fara terkejut. "Pekerjaan papanya 'kan sudah selesai, jadi mereka kembali ke Indo."
Sekarang Fara tahu bagaimana caranya ia bertemu Reynar.
"Ma ... kapan kita jenguk Nenek?"
.
.
.
Lolos revisi 13 Juni 2021
__ADS_1