
Senyum merekah lebar kala pengumuman pulang lebih awal diumumkan. Para siswa detik itu juga menggebrak meja karena merasa senang bisa pulang lebih awal dari biasanya.
Sebagian siswa masih ada yang di kantin, lapangan bahkan bisa dihitung jari ada di musalla. Dan, Mayra adalah salah satu yang berada di musalla.
Mayra, gadis bermukena putih terusan dihiasi bordiran bunga biru itu tengah khidmat memainkan jemari—dzikir— usai salat dhuhur-nya. Detik selanjutnya, gadis itu telah melipat mukena dan dimasukkan dalam tas ranselnya.
Bertepatan dari musalla, terbesit niat pergi ke perpustakaan. Akhirnya, Mayra urung untuk menuju gerbang dan berjalan ke arah perpustakaan. Jujur, ini kali pertama Mayra pergi ke perpustakaan di sekolahnya.
Memang, hari sebelumnya ke mana?
Hmm ... ntahlah, saat itu Mayra tidak terpikirkan ingin ke perpustakaan. Baiklah, mari kita coba bagaimana perpustakaan sekolah Mayra.
"Sepi, ya."
Mayra mengedarkan pandangannya, menyapu ruang perpustakaan yang ingin ia kunjungi sedari tadi. Mayra melangkah masuk, baru beberapa langkah Mayra berhenti.
Mayra menunduk, menatap ujung sepatunya dengan tangan memilin sisi rok sekolahnya. Sepertinya Mayra urungkan untuk masuk lebih jauh lagi ke perpustakaan.
Perlahan tapi pasti, Mayra melangkah mundur hingga diambang pintu ia dihentikan seseorang.
"Mau masuk, 'kan? Kenapa nggak jadi?" Suara berat khas laki-laki namun terdengar ramah, membuat Mayra kikuk. Ya, karena ada siswa laki-laki di sanalah yang membuat Mayra urungkan niat.
Besok bawa aku ke tempat kamu ketemu dia, ya, May.
Astagfiirullah!! Oh iya, Mayra baru ingat kalau hari ini ia ada janji pada Fara. Hampir saja Mayra lupa. Tapi untungnya, ia ingat sebelum terlambat.
"Hei!"
Mayra mendongak beberapa saat lalu kembali menunduk. Siswa laki-laki di sana menatapnya sembari mengerutkan dahi.
"Kenapa malah bengong? Masuk aja, ini tempat umum yang siapa aja boleh masuk, termasuk kamu."
Mayra menggeleng. Rupanya ia harus segera pergi dan mengabari Fara bahwa jam pulang sekolahnya lebih awal.
__ADS_1
"Sa-saya permisi dulu. Assalamualaikum."
Mayra memutar tubuhnya dan berjalan cepat agar segera jauh dari perpustakaan. Siswa laki-laki itu masih ditempatnya sembari bengong, heran akan Mayra.
"Muka gue kayak kriminal, ya?" gumam siswa itu.
******
"Kok tumben, sih, pulangnya cepat banget, May?"
Mayra tersenyum, akhirnya Fara tiba juga. Meski ia menunggu hampir setengah jam di sana.
"Kan mendadak, Ra. Aku juga nggak tau."
Fara menyapu halte, rasanya aneh saja kalau ia mampu menemukan Reynar di tempat umum seperti ini. Pikir Fara, pasti sulit menemukan Reynar karena ada banyak orang di halte.
Kini Fara kembali menatap Mayra yang berdiri di sampingnya. "May ... kamu yakin aku bisa ketemu cowok itu di sini?" tanyanya ragu.
"Aku kok nggak yakin, ya, May?" kata Fara kembali. "Aku rasa ... kayaknya nggak bakal ketemu dia deh, May. Pasti dia udah pulang duluan, buktinya di sini nggak ada."
"Kenapa bisa seyakin itu?" tanya Mayra. "Memangnya ... kamu udah kenal dia, ya?"
Fara mengangguk. Ia menceritakan semuanya pada Mayra detik itu juga. Dan, Mayra tidak menyangka jika remaja lelaki kemarin itu teman Fara dari sekolah dasar hingga SMP di Singapura—Reynar.
Bus yang dinanti tiba. Namun, sekian banyak orang di halte tidak ada Reynar sama sekali. Fara pun terlihat menekuk bibirnya lesu. Rencana ingin minta maaf pada Reynar gagal.
Mayra tersenyum pada Fara. "Udah, jangan cemberut gitu wajahnya. Nggak enak tau dilihatnya," kata Mayra sengaja.
"Aiihh, Mayra mah..." Fara semakin menekuk bibirnya cemberut dan lesu. Mayra terkekeh kecil di sampingnya.
"Bercanda kok, Ra. Udah ah, jangan cemberut gitu."
"DEK, MAU NAIK BUS NGGAK INI??!!"
__ADS_1
Teriakan kondektur bus membuat Mayra dan Fara sadar.
Mayra tersenyum canggung sembari menangkupkan dua tangannya depan dada. "Maaf Pak, kami tidak jadi naik. Maaf."
******
"AKH KAYLAAA ... BALIKIN BUKU AKU!!!"
Safa berkacak pinggang dengan matanya menyorot Kayla kesal. Namun, Kayla malah tertawa sembari terus menjauhkan buku Safa. Semakin menjadi kejahilannya semakin menjadi pula geraman kesal Safa.
"AYOKLAH KAY, JANGAN MAIN-MAIN GINI!!! BALIKIIINN!!!"
Kayla menggeleng dengan wajah menyebalkannya. Jelas sekali kalau wajah Kayla mengejek Safa.
"Kalau bisa ambil sendiri, jangan nyuruh aku balikin!! Berani nggak!!?" kata Kaypa menantang.
Safa menghela napasnya. Rasanya ia ingin mendatangkan Mayra sekarang juga untuk menceramahi Kayla yang jahilnya naudzubillah.
Safa bersedekap tangan di dada. Ia lelah rasanya kalau harus meladeni Kayla lebih lanjut.
"Mau balikin gak pa-pa, nggak juga gak pa-pa. Bye, Assalamulaikum!"
Safa melengos pergi dari kelasnya. Ntah mau ke mana yang pasti ke tempat yang mampu meredakan kekesalannya. Kayla yang masih di kelas, menggelengkan kepalanya sembari terkekeh.
"Ngambekan Safa, ya, sekarang! Gitu aja ngambek, marah, kabur."
.
.
.
Lolos revisi 17 Juni 2021
__ADS_1