
Hari ini dirumah Bu Nyai tampak berkumpul. Mereka akan melepas keberangkataan Furqon ke Kairo dipagi yang cerah ini. Umi Furqon tampak berkaca - kaca saat Furqon berpamitan padanya. Sedikit berat melepas anak bungsunya pergi seorang diri ke Kairo.
"Furqon, jaga dirimu baik - baik disana. Setelah kuliahmu selesai kabari kami disini ya." ucap Umi Furqon berkaca - kaca.
Furqon mengangguk, "Baik, Umi. Abi dan Umi jaga kesehatan, do'akan selalu Furqon ya."
Abi dan Umi Furqon mengangguk.
Furqon pun menyalimi Bu Nyai (Budhenya ), Ustadz Hakam (Kakaknya), dan mengatupkan tangan untuk Ustadzah Abidah (iparnya) dan Ustadzah Aina, juga suami Ustadzah Aina.
Furqon pergi ke bandara dengan diantar Ustadz Hakam, walau sebenarnya ia menolak tetap saja Kakaknya memaksa. Ustadz Hakam hanya ingin Furqon selamat hingga bandara juga mewakili keluarga.
Tiba di bandara, Furqon langsung berpamitan dengan Ustadz Hakam, Kakanya.
"Mas, aku pamit dulu. Kabari aku jika ada sesuatu disini begitupun aku, aku akan kabari Mas." ucap Furqon diangguki Ustadz Hakam.
"Hati - hati, Fur! Jaga dirimu ya disana, belajar yang benar. Mas langsung pamit ya." ucap Ustadz Hakam pada sang adik.
"Iya, Mas. Syukron!"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Mas."
Ustadz Hakam pun meninggalkan Furqon kembali ke pesantren As Salam. Tepat pukul 08.45, pesawat menuju Kairo pun terbang dari landasnya. Didalam pesawat, Furqon selalu berdzikir dan bersholawat.
Dilain tempat, Kayla yang mendengar kabar Furqon kembali ke Kairo merasa sedikit sedih.
Benar - benar kalau dia mempunyai perasaan pada adik Ustadz Hakam itu. Hingga sebuah do'a Kayla panjatkan pada Sang Kuasa untuk Furqon.
*Ya Rabb hamba mohon berilah keselamatan padanya. Hanya do'a yang dapat kulakukan untuknya saat ini. Ya Rabb jika dia jodohku satukanlah kami, maafkan hamba-Mu ini telah berangan sejauh itu. Perasaan hamba tidak bisa dibohongi, hamba memang mempunyai segores rasa untuknya.*
*Hamba akan ikuti alur waktu hingga tiba saatnya, dimana jodoh hamba datang. Saat ini hamba sedang menyebutnya dalam do'a Ya Rabb. Jagalah dirinya selalu, lindungilah dimana pun ia berada*.
Kayla tersenyum simpul diakhir do'anya.
"Kay, kamu kenapa senyum - senyum gitu? dari kemarin kayaknya kamu rada aneh deh." ucap Jihan.
"Apaan sih, Han?! Udahlah gak usah di pikirin, sekarang kita susul Safa didapur." balas Kayla.
Jihan mengangguk, "Ya udah, yuk!"
Akhirnya Kayla dan Jihan pun menyusul Safa didapur. Kebetulan hari ini merupakan hari piket mereka didapur pesantren. Dimana dihari piket, santriwati harus membantu Bu Yani memasak hingga membersihkan dapur.
* * * *
Setelah beberapa jam ditempuh oleh Furqon, akhirnya dirinya telah sampai di Kairo, Mesir. Negara yang memiliki piramida tersebut, juga merupakan negara yang telah Furqon dan keluarga tinggali bertahun - tahun.
Dari bandara Furqon langsung menuju rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Universitas Al Azhar. Furqon tidak sendirian disini, ia masih punya orang dekat dari keluarga iparnya, keluarga Ustadzah Abidah.
Dilain tempat juga lain orang, Mayra dan temannya sedang perjalanan menuju asrama dari kampus Al Azhar. Mereka berdua ingin mampir ke toko buku dulu sebelumnya kembali ke asrama.
Cukup 15 menit, akhirnya Mayra sampai juga di toko buku.
__ADS_1
"May, kamu mau beli yang mana?" tanya temannya.
"Aku ingin beli buku tafsir, An." jawab Mayra.
"Ya sudah kalau gitu aku ke rak sebelah sana dulu ya, ada buku yang harus kubeli juga." ucap Ana, teman Mayra.
Mayra mengangguk, "Kita nanti ketemu disini lagi ya, An?!."
"Iya"
Mayra pun mencari - cari buku yang ingin ia beli, namun hampir satu rak penuh ia telusuri tetap saja ia tidak menemukan. Mayra pun bertanya pada pegawai toko buku mengenai buku tafsir yang ingin dibeli, namun sayang buku tersebut sedang kosong.
Mayra akhirnya menghampiri Ana yang posisinya tidak jauh darinya.
Tampak Ana sedang asik memilih - milih buku.
"Assalamualaikum" salam Mayra.
"Waalaikumsalam. Loh kok ndak jadi beli, kenapa?" balas Ana.
"Bukunya sedang kosong, An. Lain kali aku kesini lagi atau ndak cari toko buku lain saja besok." ucap Mayra pasrah.
"Ooh gitu, ya sudah kita ke kasir yuk. Alhamdulillah aku sudah dapat bukunya. Ayo, May!"
Mayra dan Ana langsung pergi ke kasir untuk membayar buku yang dibeli Ana. Setelah itu, mereka pulang ke asrama.
Keesokan paginya...
Masih dinegara piramida, Mesir. Mayra bersiap untuk pergi ke kampus, hari ini cukup terlambat Mayra berangkat ke kampus. Dengan sedikit tergesa Mayra berjalan hingga tanpa sengaja ia menyenggol buku milik orang lain.
"Saya juga minta maaf pada Ukhti." ucap orang yang ditabrak Mayra.
Ia menggunakan bahasa Indonesia, karena tahu jika perempuan didepannya dari Indonesia sama sepertinya.
Mayra mendongak sekilas, "Tidak apa - apa, saya juga salah terlalu tergesa - gesa jalannya." balas Mayra menunduk.
"Maaf sekali lagi, saya permisi. Assalamualaikum" ucap Mayra sambil menganggukkan kepalanya.
"Waalaikumsalam"
Orang yang ditabrak Mayra menatap kepergian Mayra.
"Astagfiirullah, aku juga harus segera ke kelas. Furqon! Furqon!" gumamnya sambil geleng kepala.
Ya, ternyata orang yang tanpa sengaja Mayra tabrak bukunya adalah Furqon. Ini merupakan pertemuan mereka kedua kalinya, namun mereka sama - sama tidak mengenal dan tidak sadar jika pernah bertemu sebelumnya.
Furqon yang tersadar, langsung melangkah ke kelasnya dengan sedikit tergesa dan langkahnya yang cepat.
2 jam berlalu, kini Mayra telah selesai mengikuti kelasnya. Mayra dan Ana pun ingin berjalan - jalan sekitar kampus, mereka memilih jalan - jalan karena sedang puasa. Mayra dan Ana selalu kemana - mana berdua, selain satu kamar asrama mereka juga satu kelas.
Cukup berjalan - jalan mereka mencari tempat berteduh dari teriknya sinar matahari.
"Lelah juga ya, May." ucap Ana.
__ADS_1
"Iya, An lumayan gerah juga." balas Mayra.
"Buka nanti kamu mau makan apa, May?" tanya Ana sambil mengibas - ngibas tangannya, karena panas.
"Aku seadaanya aja, An." jawab Mayra.
"Ooh, baiklah."
Saat Mayra membuka tas miliknya sambil mengecek buku satu per satu, ia heran melihat sebuah buku yang ada didalam tasnya.
"Kenapa, May?" tanya Ana.
"Ini bukan buku milikku, An." ucap Mayra sambil menatap buku tersebut.
Ana ikut melihat buku yang dimaksud oleh Mayra.
"Iya, ini bukan bukumu. Lalu punya siapa? kok bisa ada di tasmu, May?" ucap Ana.
Mayra diam, ia mencoba mengingat - ingat sesuatu. Dan akhirnya ia ingat kejadian tadi pagi, dimana ia tanpa sengaja menyenggol buku orang.
"Astagfiirullah, pasti ini ketuker sama buku orang yang ku tabrak tadi pagi." gumam Mayra.
"Dimana? siapa orangnya?" tanya Ana.
"Tadi pagi tanpa sengaja aku menyenggol buku orang lain, sepertinya dia juga mahasiswa sini. Bagaimana ya cara mengembalikannya?" jawab Mayra.
"Kita ndak mungkin cari satu per satu, May. Al Azhar itu luas, ndak mungkin mudah mencari orang pemilik buku ini. Tapi, buku ini bukannya buku yang kamu cari?" ucap Ana.
Mayra kembali mengamati buku di tangannya, lalu mengangguk membetulkan ucapan Ana bahwa buku tersebut adalah buku yang ia cari.
"Benar, An."
Mayra membuka buku tersebut, yang tak lain buku milik Furqon. Saat pertama kali membuka halaman awal disana tertulis sebuah nama, yakni MUHAMMAD FURQON AL - ARBANI.
"Namanya Furqon, May. Tapi, di Al Azhar nama Furqon bukan hanya satu." ucap Ana yang sedaritadi ikut mengintip.
Mayra mengangguk, halaman demi halaman ia buka. Hingga ia menemukan sebuah kartu terselip disalah satu lembar halaman buku tersebut. Perlahan Mayra mengambil kartu tersebut dan membelalakan matanya saat namanya tertulis disana.
"Hah, MAYRA ALMA SYAKIRA?? Itu namamu, May. Berarti dia kenal kamu atau sebelumnya kamu pernah bertukar identitas dengan nya?" ucap Ana heran.
"Kamu ini bicara apa sih, An? Sama sekali aku ndak kenal orang yang bernama Furqon." timpal Mayra.
Mayra heran darimana orang bernama Furqon bisa memiliki kartu namanya. Mayra tidak sadar jika kartu tersebut terjatuh saat Furqon menyelamatkannya ditempo hari.
Sama seperti halnya Furqon, ia juga sedang membuka buku Mayra. Nama yang sama dengan nama dikartu nama yang ia simpan selama ini.
"MAYRA ALMA SYAKIRA???" gumamnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!! Stay kuyy..