KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
08• (Fara #2)


__ADS_3

Jaga dan lebih perhatikan pergaulanmu, ya, Fara.


Pesan singkat dari nenek masih terngiang di telinga Fara. Gadis itu tak lupa akan pesan neneknya, tapi apakah ia sanggup menjalankan pesan nenek?


Menjaga pergaulan?


Bagaimana ia bisa? Fara meragukan dirinya. Di Singapura, banyak teman-temannya yang tak memerhatikan pergaulan. Mereka kebanyakan nonmuslim.


Fara melamun, memandang kosong ke luar jendela—memandangi para awan dari burung besi. Namun, detik selanjutnya ia memilih menutup menurunkan penutup jendela. Memejamkan mata sambil mendengarkan alunan musik dari earphone.


Lagu Always dari Isak Danielson membuatnya lebih rileks dari pesan nenek yang menurutnya menohok.


*****


"Minus dua puluh enam."


Jemari Mayra, Kayla, dan Safa sibuk mencoretkan tinta hitam di atas kertas yang sebagian dipenuhi soal. Kali ini mereka sedang belajar. Usai dari madrasah, mereka memilih latihan soal matematika. Bergantian memberikan soal satu sama lain.


"Masak sih jawabannya minus dua puluh enam?" Safa meragukan jawaban Kayla. "Ngawur pasti kamu Kay jawabnya!?"


Mata Kayla melotot. Kesal akan Safa yang meragukan jawabannya. "Coba kamu hitung ulang, kalau salah kamu harus cuciin jilbabku."


Mayra menggeleng pelan, ada-ada saja kelakuan sahabatnya. Dan Safa, ia langsung menutup buku Kayla yang dipegangnya.


"NGGAK ADIL DONG, YANG KALAH KAMU YANG NYUCI JILBABMU KOK AKU? HARUSNYA KAMU YANG NYUCI JILBABKU!!" oceh Safa kesal. Nadanya ketus, sangat.


Kayla tertawa, puas bisa membuat Safa kesal. "Udah-udah akhiri aja latihannya, aku capek banget nih. May, kita udahin, 'kan?"


"Iya, La. Sudahi aja nggak pa-pa. Safa, udah tenang. Kayla cuma bercanda." Mayra menyahut.

__ADS_1


"Iya, May." Safa setuju, ia juga lelah hampir setengah harinya beraktivitas. "May ... aku mau tanya sama kamu, boleh?"


Mayra yang tengah merapikan buku di lemarinya pun menoleh dan mengangguk. Tangannya kembali merapikan buku, baju, jilbab, dan beberapa sarung di lemarinya yang cukup berantakan.


"Kemarin itu aku nggak sengaja lihat saudarimu, dia siapa namanya, May?" Ada penasaran yang menggelitik di Safa. Ia hanya ingin sedikit tahu tentang sauadara Mayra, sudah.


Tangan Mayra berhenti merapikan lemari kecilnya. Di pesantren memang begini, lemari yang disediakan tidaklah besar. Memorinya mengenang Fara.


Gadis itu hari ini kembali ke Singapura, 'kan?


"Namanya Fara, Saf. Kenapa?" Mayra juga bertanya.


Kayla yang menyimak juga heran. Safa kenapa tanya tentang Fara? "Iya, kamu kenapa tanya soal saudaranya Mayra? Kepo banget," ujar Kayla.


Safa melirik sinis Kayla. Detik selanjutnya ia beralih ke Mayra dengan cengiran. "Gak pa-pa sih, May. Aku cuma penasaran."


Mayra mengangguk. Ia kembali memasukan beberapa jilbabnya yang tadi sempat dikeluarkan. Matanya tiba-tiba terfokus ke sisi dalam pintu lemarinya. Di sana ada banyak kertas yang menempel dan ... satu lembar foto.


Mayra menatap sendu foto itu yang berisi kakek-neneknya, om-tantenya, orangtuanya, ia dan Fara. Saat itu foto diambil ketika mereka berlibur ke Raja Ampat.


Senyum simpul terukir di bibir Mayra. Jika ditelisik ke belakang, ada banyak kenangan indah yang ia dan keluarganya lewati sebelum semua berubah.


Ya Allah ... aku bersyukur karena masa kecilku begitu menyenangkan dengan lengkapnya keluarga. Aku merindukan masa kecilku..., batin Mayra.


"Dia anak jaman sekarang banget, ya, millenial! "


"Kenapa memangnya? Kita juga termasuk millenial, 'kan? Santri juga millenial, nggak kalah dan nggak kuno."


Mayra tersadar saat Safa dan Kayla bicara tentang remaja jaman sekarang. Ia juga setuju dengan ucapan Safa, seorang santri itu tidak kuno. Mereka juga gaul tapi tetap dalam batasan agama.

__ADS_1


Fara!


Tiba-tiba Mayra teringat pertemuannya dengan Fara kemarin. Mayra berpikir, apakah pergaulan Fara di Singapura baik? Apa Fara yang dulu kini berubah lebih alim?


Mayra tidak tahu.


*****


'.... gimana di Indo? Berubah apa masih sama kayak dulu sebelum ke Singapore?'


Sinar rembulan di luar sana menyorot wajah gadis yang tengah telungkup di atas kasurnya dengan ponsel di genggamannya. Dia Fara.


Fara sedang bicara dengan teman Indonesia-nya yang berada di Negeri Sakura. Bukan cuma satu orang tapi ada dua orang, lelaki dan perempuan.


Fara menggeleng, menyahuti dua temannya yang sedang ia videocall. Sesekali Fara senyum simpul dan terkekeh. Banyak yang mereka bicarakan lewat videocall.


Hingga akhirnya, Fara menyudahi videocall itu.


"Thanks for you my friends. Senang banget bisa ngobrol sama kalian. Udahan dulu, ya?" Fara melambaikan tangannya. "See you."


'See you too ... good night, Fara!'


Fara menyimpan ponselnya di atas nakas. Ia menarik selimut, menutupi setengah badannya dan memejamkan mata.


.


.


.

__ADS_1


THANKS!! 🤩


__ADS_2