
Memeluk AlQur'an dengan lengan kiri. Masih mengenakan mukena sembari berjalan pulang ke asrama. Mayra dan para santri-santriwati baru saja selesai mengaji di masjid agung pesantren ba'da salat subuh.
Bersiap pergi ke madrasah, para santri-santriwati bergegas mengantre untuk mandi. Obrolan dan candaan mendominasi sambil menunggu giliran.
Siapa bilang mengantre membosankan dan ribet?
Nyatanya, para santri-santriwati terlihat asyik dengan teman-temannya. Saling tukar cerita, menjahili satu sama lain, tertawa namun dilarang keras terlihat begitu mengasyikan. Kehidupan pesantren selalu punya cerita sendiri yang unik.
Pintu kamar mandi terbuka. Mayra telah siap dengan jilbab segiempat putih dan seragam sekolahnya. Handuk bertengger cantik di bahunya. Buru-buru Kayla dan Safa masuk lebih dulu. Saling berebutan tak mau mengalah.
"Aku dulu, Saf!" ujar Kayla dengan wajah kesalnya. Pasalnya, ia lebih dulu daripada Safa. Dia harus dulu!
Safa menyahuti tak kalah tak enaknya. "Aku duluan dong, Kay! Aku kebelet nih."
"Nggak!!" Kayla merentangkan dua tangannya, menghalangi Safa agar tidak dapat menerobos dirinya yang di ambang pintu. "Pokoknya aku dulu, titik! Orang ngalah dapat pahala!"
Safa mempoutkan mulutnya. "Ikh, kalau gitu kamu harusnya ngalah dooong. Udah tahu dapat pahala masih aja nggak ngalah!" ketus Safa.
Kayla bersedekap dada. "Sayangnya aku lagi baik hati pengen bagi-bagi pahalaku buat kamu, Saf. Aku duluan!"
Brak! Kayla menutup pintu kamar mandi dengan cekatan. Alhasil, Safa kalah tepatnya mengalah dan Kayla menang tepatnya tak mau mengalah.
"DASAR KAYLA NGESELIN!! SOK-SO'AN BAGI PAHALA KAYAK PAHALAMU UDAH SELANGIT AJA!!!" teriak Safa. Mengundang perhatian para santriwati yang masih mengantre.
__ADS_1
*****
"Sudah?" Mayra mengerutkan dahinya. Menatap Kayla dan Safa yang baru saja masuk kamar dengan seragam dan atributnya lengkap. "Safa, kamu kenapa?"
Kayla menyambar lebih dulu. "Dia habis dapat pahala dari Allah, May. Bukannya senyum malah cemberut. Kan aneh, ya?"
Mayra menatap Safa yang tengah memilah buku yang akan dibawa ke madrasah hari ini. "Benar kata Kayla?" tanya Mayra ke Safa.
Safa menghembuskan napas jengah. "Iya, bener. Tapi tahu nggak, May? Kayla ngeselin, dia nyerobot aku pas mau mandi 'kan ngeselinnya naudzubillah..."
Mayra tersenyum. Sudah biasa jika Kayla dan Safa saling bertengkar. Paling sebentar lagi juga mereka baikan. "Janganlah marah bagimu surga. Kalian udah biasa 'kan kayak tom and jerry? Udahlah baikan, ya?"
Tak digubris.
Mayra menghela napas. Sudahlah, lebih baik sekarang ia menuju madrasah sekalipun madrasah ada di depan mata. Sebelumnya, ia akan ke masjid agung pesantren untuk salat dhuha—salat pagi hari yang merupakan salat sunah muakad (sangat dianjurkan) untuk dikerjakan.
Kayla dan Safa mengangguk bersamaan.
******
Sebatang pena hitam masih bergerak di atas kertas putih kosong walau waktu telah menunjukan pukul sebelas malam.
Para bintang kerlap-kerlip bergelayutan di langit kelabu bersama sang rembulan. Mereka bak kawan untuk gadis berjilbab abu. Terus memancarkan sinarnya tanpa henti di atas sana.
__ADS_1
Ceklek!! Kamar asrama yang masih terang walau penghuninya telah terlelap kecuali gadis berjilbab abu, pintunya dibuka. Pengurus asrama putri itu masuk kamar, hendak menegur.
"Assalamualaikum." Sapanya dengan halus sembari mendekati gadis berjilbab abu, yang sibuk dengan pena dan bukunya. "Loh, kok belum tidur, May? Kangen lagi sama Kakek-Nenekmu?"
Gadis berjilbab abu itu Mayra. Ntah apa yang dilakukan gadis itu hingga mengabaikan waktu istirahatnya setelah seharian mengaji, sekolah dan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Yang ditahu ia sedang menulis.
"Maaf ukhti, bentar lagi aku tidur kok. Cuma lagi nulis catatan harianku ini." Mayra memaparkan. Senyum tak luput di sana.
"Istirahatlah. Awas ya kalau nanti jam tiga nggak bangun, ukhti nggak mau tahu!" Perempuan muda— ukhti Indah yang merupakan pengurus asrama santriwati itu mengingatkan.
"InsyaAllah, nggak akan terlambat bangun. Janji, ukhti!" kata Mayra menyakinkan.
Ukhti Indah, begitulah para santri-santriwati memanggil. Bila dengan pemgurus lelaki mereka akan memanggilnya dengan sebutan akhi.
"Nggak usah janji-janji." Mendengar itu Mayra tersenyum menampilkan giginya. Tak enak. "Assalamualaikum. Jangan bohong sama ukhti, ya?"
"Na'am (iya). Waalaikumsalam."
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate teman2!!
BILA ADA ORANG MENGUCAPKAN SALAM LENGKAP, MAKA KITA PUN MENJAWABNYA HARUS LENGKAP.