
Di kamarnya, Fara bertopang dagu di atas bantal yang berada di pangkuannya. Terlihat jenuh wajahnya. Sesekali Fara menengok layar ponselnya, seperti sedang menunggu sesuatu.
Lama hanya dengan posisi tersebut dan layar ponsel yang menyala namun tak ada apa-apa membuat Fara berdecak. Kesal sendiri.
Ceklek!! Pintu kamar dibuka dari luar mengalihkan perhatian Fara. Ada Rika, mamanya yang tersenyum simpul di ambang pintu. Perlahan Rika mendekati putri semata wayangnya yang tengah duduk di atas kasur.
Tangan Rika menyibak anak rambut yang sedikit menutupi wajah putrinya. Ia juga tersenyum lembut pada putrinya. Fara memutar bola matanya jengah.
Mamanya senyum, iya?
Fara tak peduli akan senyum itu. Sudah lama memang gadis itu tak mendapat perhatian orangtuanya hingga saat sekali diperhatikan, gadis itu tak merespons apa-apa. Bahagia saja tidak.
"Ayo, kita turun." Rika menganggukkan kepalanya, mengajak Fara ke lantai bawah. "Papa, Kakek, Nenek sudah nunggu buat makan malam. Ayo?"
Fara menghela napas. Ia lirik sekali layar ponselnya. Sepertinya ia lebih baik turun daripada mengamati ponselnya yang sedari tadi ditungguinya. Ntah apa yang ditunggu gadis itu.
Kedatangan Rika dan Fara mengambil perhatian tiga orang yang telah berada di meja makan. Fara memilih duduk di dekat mamanya yang berada di samping papanya.
"Kenapa kamu tidak turun-turun setelah isya', Fara?" Nenek bersuara. Menghentikan tangan Fara yang tengah mengambil nasi.
Fara benci ditanya-tanya. Ia lebih baik memakan apel daripada ditanya ini itu. Menyebalkan! Namun, Fara akan menjawab neneknya, sungguh!
__ADS_1
"Aku online meet sama teman lamaku, Nek." Fara kembali mengambil nasi, dan dilanjut dengan lauk pauk secukupnya.
Mengamati perubahan Fara membuat nenek tak ingin bertanya lebih. Setelah percakapan super singkat antara Fara dan nenek, mereka khidmat makan malam. Senyap di sana.
"Ndra, papa mau tanya sama kamu." Kakek meletakan sendok garpunya. Candra mengangguk, mengiyakan. "Selama di Singapura, apa kalian memerhatikan pendidikan agama Fara?"
Sensitif!
Pertanyaan yang amat sensitif di pendengaran Fara, ia langsung meletakan sendok garpunya dan meminum segelas air putih. Tapi, ntah bagi Candra dan Rika, bagaimana dengan mereka sebagai orangtua?
"Ndra, jawab!" Lama menunggu membuat nenek tak sabar. Ia desak putranya. Pertanyaan sesimple itu tak mampu dijawab?
"Kenapa Papa Mama tanya begitu? Ada masalah?" Candra balik tanya. Sungguh ia tak sadar jika kakek dan nenek merasa risih melihat sikap dan style Fara.
Terkejut bukan main!
Nenek dan kakek tak habis pikir jika jawaban seperti itu akan keluar dari menantu mereka, Rika. Sungguh, di luar dugaan. Melarang ikut campur? Anak dan menantu enggan orangtua mengingatkan kesalahan mereka?
"Pa, Ma ... kami akan tanggung akibatnya. Kami juga yang akan mengaturnya. Satu hal yang perlu Papa Mama tahu, Fara nyaman dengan hidupnya yang sekarang." Rika melanjutkan bicaranya.
Kakek terdiam cukup lama, begitupun nenek. Namun, setelah itu kakek angkat bicara.
__ADS_1
"Papa dan mama sebagai orangtua hanya sekadar mengingatkan. Kalian mau dengar atau tidak, itu terserah." Kakek tak mau terjadi yang tak diinginkan. Misalnya, kebencian putra dan menantu pada orangtuanya karena terlalu mencampuri hidup mereka. Naudzubillah...
"Maafkan kakek dan nenek, ya, Fara?" Kakek menatap cucunya yang tengah menikmati puding. Fara telah berhenti makan sejak tadi. Eneg rasanya ia.
Fara mengangguk. Ia berdiri dari duduknya seperkian detik kemudian. "TAPI AKU MOHON, JANGAN CAMPURI HIDUPKU, TOLONG... AKU RISIH DENGAN KAKEK NENEK YANG SEPERTI INI."
Skakmat!
Tidak ada yang bicara lagi, mereka diam semuanya. Kakek hanya mengangguk.
Setelah bicara tak terlalu panjang namun sangat dingin, Fara memilih meninggalkan meja makan. Rika ingin mencegah Fara sudah mempercepat langkahnya, niatnya terurung.
Fara duduk ditepi kasurnya. Ia menunduk, tangannya mencengkram tepian kasur, bibirnya terkatup rapat. Tak lama Fara beringsut ke lantai, ia memeluk dua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana.
HIKS...
.
.
.
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG!!