
Waktu terus bergulir. Akhir-akhir ini sekitar hampir seminggu Mayra sedikit sibuk untuk persiapan lomba tingkat kota. Awalnya Mayra merasa keberatan karena takut jika nanti ia mengecewakan.
Namun, ustadzah Aina tetap meyakinkan Mayra dengan kata-katanya yang hingga saat ini Mayra ingat di kepalanya. Kata-kata yang membuat Mayra merasa lebih lega.
Allah tidak menuntut hamba-Nya untuk selalu menang di hidup ini. Allah hanya ingin hamba-Nya berusaha hingga Dia yang akan menetapkan hasilnya.
Senja elok petang ini ditatap Mayra dengan senyum merekah. Gadis itu merasa semangatnya bertambah dengan kata-kata ustadzah Aina yang begitu mengena baginya.
"Tidak ada usaha yang mengkhianatai hasil." Mayra menyaksikan burung yang tengah terbang bebas di cakrawala. Tampak seperti berbaris. "Yang penting sudah usaha, biarlah Allah yang menentukan hasil dari usaha itu."
"MAY!"
Gadis berjilbab segiempat warna dove yang tengah menikmati senja dari teras masjid agung pesantren, pun menoleh ke asal suara. Dilihatnya Kayla menatap heran ke arahnya. Kayla dengan kitab kuning dipelukan mendekat.
"Aku kira ngelamun lagi di taman, ternyata di sini." Kayla mengulurkan tangan, membantu Mayra bangkit. "Ngapain di teras masjid sendirian?"
Mayra tersenyum, seperti biasanya. Tak pernah gadis itu tak mengukir senyum. "Kamu juga kenapa nyariin aku segitunya, La? Udah selesai memang?"
Mayra tahu jika kajian kitab kuning sore ini telah usai. Ia bertanya hanya basa-basi. Sore ini Mayra memang izin, karena ia diajak ustadzah Aina untuk mempersiapkan lomba yang segera tiba.
Ingin Kayla menjawab, tapi ia terdahului panggilan seseorang yang begitu nyaring menurutnya.
"MAAYRAA ... KAYLLAA!!!"
Kayla memutar bola matanya jengah. Dan, Mayra beristigfar lirih namun bisa didengar Kayla. Dua orang itu geleng kepala karena Safa.
"Assalamu'alaikum." Safa bergabung dengan Mayra dan Kayla yang masih di teras masjid.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Ngapain sih teriak-teriak kayak tarzan gitu, Saf!!?" Selesai menjawab salam Kayla langsung bicara. Nadanya terlihat kesal, tak suka melihat Safa teriak seperti tadi.
"Kalau nggak teriak mana dengar kamu, Kay?!!!" sahut Safa judes. "Lagian tadi aku udah bilang 'kan ke kamu ... tungguin aku!!! Kenapa masih ditinggal!!?"
Mayra menghela napas. Sudah diduga jika mereka berdua pasti ada saja yang diperdebatkan. Baiklah, Mayra mengerti.
"Halah, sini-situ aja suruh nungguin. Manja!" cibir Kayla tak mau disalahkan. Mendengar itu, Safa naik pitam. "Apa liat-liat!!?"
"KAYLAAAA!!!" Safa menggeram kesal.
"Sudah sudah!" Mayra menengahi. Waktu hampir maghrib, dan para santri-santriwati yang mengikuti kajian kitab kuning juga terlihat sudah keluar. Mayra tak mau sahabatnya menarik perhatian yang lain. "Ayo, kita ke asrama. Siap-siap salat maghrib."
Kayla dan Safa betsitatap judes. Seperkian detik kemudian, mereka bertiga menuju asrama karena Mayra yang berusaha menarik mereka.
Kayla dan Safa menyudahi perdebatan kecil yang sangat biasa terjadi.
******
"Bismillahi rahmani rahim..."
"Alif lam mim ... Dzalikal kitabu laa raybafiih—"
Air mata jatuh membasahi pipi yang kini mulai keriput, tidak segar dan kencang lagi seperti dulu.
Kakek.
__ADS_1
Lelaki yang sebentar lagi rimpuh karena usia semakin senja. Bibirnya bergetar, mencoba menahan air matanya agar tidak keluar. Tapi, setetes air mata telah lolos dari pelupuknya. Kakek tak kuasa menahannya lagi hingga kini, ia biarkan air matanya turun.
Kakek biarkan air matanya turun sejenak, kemudian ia menghapusnya. Sekarang kakek terlihat sedikit tenang walau gemetar masih ia rasakan.
Mushaf AlQur'an di depannya itu ditatap dengan sendu. Lama kakek menatap ayat-ayat Allah hingga air mata kembali menetes.
Kakek menangis dalam diamnya, mengingati berapa banyak dosa yang selama ini dilakukan. Ntahlah, kakek tidak tahu. Tapi, ia yakin dosanya semakin hari semakin menumpuk tak karuan.
Kakek takut ketika maut menjemput, ia berada jauh dari Sang Pencipta. Kakek takut bayangan bara api neraka akan ia lihat saat sakaratul mautnya. Kakek belum siap menghadapi maut. Kakek benar-benar tidak siap.
Sungguh ketakutan kakek akan maut sangatlah besar!
Di atas hamparan sajadahnya, kakek duduk bersimpuh menghadap kiblat. Usai menunaikan salat isya' kakek tertarik untuk membuka mushaf AlQur'an, melafalkan ayat suci Allah.
Tapi, niatnya urung karena lidahnya yang terasa kaku dan kesulitan dalam mengucapkan ayat suci AlQur'an. Dan itu membuat air mata kakek jatuh tanpa aba.
Sesuatu yang mustahil, kematian datang mendahului takdir yang telah Allah tetapkan. Tiada daya yang mampu mengubahnya kecuali Allah Azza Wa Jalla.
Allah Maha Penerima Taubat.
Lebih baik terlambat menyadari daripada tidak sama sekali. Jangan ragu untuk berubah ke jalan yang lebih baik! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat.
.
.
.
__ADS_1
SMG BERMANFAAT!