
Usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Kalimat yang Mayra gumamkan kemarin untuk menyemangati dirinya kini berputar lagi dalam benak.
Syukur, semua juga atas kehendak Allah, dua piala dibawa pulang oleh Mayra dan salah satu santri—partner lomba Mayra ditingkat kota yang maju dalam lomba qira'ah. Ya, mereka juara di lomba kemarin!
Kayla dan Safa yang mendengarnya pun sangat bahagia. Mereka bangga pada Mayra dan santri perwakilan pesantren As-Salam karena mampu membawa piala, dan mengharumkan nama pesantren.
Walau Mayra juara tapi tak membuatnya besar kepala. Ia juara pun karena Allah. Tanpa-Nya, mungkin piala yang dibawa kemarin tak akan ada di pesantren hari ini.
Terkadang, manusia itu lupa akan semua pencapaiannya selama ini. Mereka membanggakan diri bahkan ada yang sampai berpesta untuk merayakan pencapaian yang mereka terima. Dan lupa pada Allah. Dzat yang Maha Kuasa nan Perkasa.
Astagfiirullahal adzim!
Mayra berdo'a dalam hati, semoga ia tidak termasuk orang seperti itu. Dan semoga ia dijauhkan dari orang yang suka membanggakan diri dan lupa Allah.
******
Lelaki berusia enam puluhan dengan sebagian rambutnya beruban tapi terlihat masih bugar dan segar, tengah termenung di ruang tamu. Layar laptop menyala tapi diabaikan. Teh tawar favoritenya juga diabaikan.
Bayang-bayang maut masih menghantui sejak malam lalu. Kakek benar-benar merenung hingga tak fokus dengan sekitarnya.
"Pa!"
Nenek keluar dari balik dinding yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Berniat ingin pamitan pada kakek. Tetapi, sikap kakek membuat nenek menghela napas.
Dari kemarin kakek diam dan diam. Nafsu makannya juga menurun. Kakek yang biasanya senang berjemur di tama belakang pun kini memilih berkutat dengan proposalnya.
__ADS_1
Tak biasanya!
Nenek sungguh heran. Setiap ditanya, kakek selalu menggeleng atau tidak, kakek akan mengalihkannya. Kakek sengaja diam dan menutupinya.
"Pa!" Nenek mengahampiri kakek yang tengah melamun. Sebenarnya melamun itu tidak baik, tapi terkadang seseorang melamun untuk merenungi masalahnya. "Mama mau ke supermarket dulu, ya?"
Kakek hanya mengangguk dan menerima tangan nenek yang hendak bersalaman. Ini tanda penghormatan seorang istri pada suami.
"Jangan ngelamun terus, Pa!" Nenek bangkit dan beranjak pergi. "Assalamualaikum."
Kakek meraup wajahnya lalu beristigfar. Kemudian, "Waalaikumsalam."
******
Hari berganti hari. Di minggu pagi ini para santri-santriwati saling bahu-membahu membersihkan lingkungan pesantren.
Semuanya terlihat kompak tak terkecuali. Para santriwati yang juga mengurus bagian dapur terlihat kompak dan bekerja sama dengan baik. Ukhuwah islamiyah memang begitu diterapkan. Tanpa itu umat muslim akan terpecah belah.
Ditepi jalan menuju pesantren terdapat Mayra seorang yang tengah menunggu kehadiran Mbak Puja—santriwati seniornya. Di tangannya ada tas berisi sayur mayur dan bumbu dapur.
Terik mentari menyinarinya membuat Mayra menyipitkan mata. Kepalanya tak berhenti menengok ke kanan ke kiri guna mencari keberadaan Mbak Puja. Katanya sih, Mbak Puja ingin ke warung sebentar. Ia ingin membeli kebutuhannya saat datang bulan yang kebetulan habis.
Hampir setengah jam Mayra berdiri di sana sembari komat-kamit bersholawat, Mbak Puja tak kunjung datang. Mayra merasa risih dan sedikit terganggu saat beberapa santri yang hendak jajan lewat di dekatnya.
Sepertinya kerja bakti di pesantren sudah selesai.
Hingga lalu lalang santri putra semakin banyak, sesosok santri menyapanya. Buru-buru Mayra menunduk agar pandangannya tak bertemu dengan santri yang menyapa.
__ADS_1
"Nunggu orang?"
Remaja lelaki sebaya Mayra dengan sarung dan kaos, tak lupa peci yang selalu melekat itu bertanya. Yang ditanya justru merasa resah. Takut dibicarakan santri-santriwati yang melihatnya tengah bicara dengan salah satu santri.
Akhirnya Mayra menjawab tapi hanya dengan anggukan. Pandangannya terus menunduk tak berani mengangkatnya walau sebentar.
"Assalamualaikum."
Mayra bernapas lega dan tersenyum simpul. Akhirnya orang yang ditunggui dari tadi datang juga. Alhamdulillah.
Bersamaan dengan datangnya Mbak Puja, santri tadi pun pamit pergi.
"Kenapa masih di sini, May?" Mbak Puja mengambil alih tas belanjaan dari tangan Mayra. Mereka mulai berjalan ke pesantren.
Mayra tersenyum sembari menatap jalan. "Mbak pasti tahu alasannya."
Mbak Puja mengangguk, Mayra benar. Mayra masih di sana karena menunggunya. "Tapi Mbak udah bilang sama Abyaz buat bilang ke kamu, biar pulang dulu. Dia nggak bilang?"
Mayra menggeleng. Ia tidak bertemu Abyaz selain tadi, ya tadi! Santri yang menyapa Mayra itu Abyaz, sekaligus teman lombanya kemarin.
"Lupain aja, Mbak." Mayra tak ingin membahas apapun lagi. Bukan karena sedang tidak baik-baik saja, tapi tanpa sadar Mbak Puja bicara tentang orang yang bukan mahramnya.
.
.
.
__ADS_1
NO BUCIN😂🤧