KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Hujan deras mengguyur kota C, di pesantren para santri santriwati tetap aktif mengikuti kegiatan mengaji bin nadhor (mengaji dengan menggunakan Al Qur'an) di masjid. Hujan yang turun dengan amat deras ini, tidak menjadi alasan mereka untuk tidak mengikuti kegiatan sore hari ini.


Pukul 17.00 WIB para santri santriwati kembali ke asrama masing - masing. Sebagian memilih untuk berdiam diri di masjid dan sebagian pulang ke asrama. Kali ini Meyna dan Tasya memilih untuk berdiam diri dalam masjid daripada pulang ke asrama.


Tiba - tiba, Meyna merasakan sesuatu yang sangat menganggunya. Ia meringis sakit sambil memegangi perutnya, hal itu disadari Tasya yang disampingnya.


"Mey, kamu kenapa? kok kayak kesakitan gitu." tanya Tasya cemas.


Meyna tersenyum masam sambil menahan sakit yang ia rasakan.


"Aku gapapa kok, Sya. Aku mau kembali ke asrama aja, perasaanku nggak enak nih." jawab Meyna.


"Nggak papa gimana, Mey?! Kamu daritadi meringis sama pegang perut gitu kok." ucap Tasya cemas.


"Aku pulang ke asrama dulu ya, kamu disini aja. Nggak usah khawatirin aku! Assalamualaikum" ucap Meyna hendak pergi namun, Tasya menahannya.


"Aku ikut! Kitakan satu kamar, Mey. Lagi pula aku takut kamu kenapa - napa, jangan tahan aku buat gak ikut kamu! Ayo aku antar ke asrama!" Tasya menarik tangan Meyna menuju asrama.


Mereka berdua menerobos hujan deras yang melanda, dengan sedikit berlari sambil mencari jalan agar tidak basah kuyup akhirnya mereka sampai diasrama.


"Masih sakit, Mey?" tanya Tasya sampai dikamar mereka.


Meyna mengangguk, "Masih, kayaknya aku mau mens deh."


"Hah? kamu belum mens bulan ini, Mey?" ucap Tasya diangguki Meyna.


"Ya udah, aku mau panggil Ukhti Indah dulu ya? Siapa tahu Ukhti Indah bisa kasih solusi biar perut kamu lebih mendingan." lanjut Tasya.


"Makasih ya, Sya." ucap Meyna meringis sakit.


Tasya mengangguk, lalu ia pamit untuk menghampiri Ukhti Indah. Ukhti Indah merupakan pengurus asrama santriwati, ia sudah menjadi pengurus asrama santriwati sejak jaman Mayra.


Meyna ia berbaring diatas kasurnya sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri, hal ini wajar bagi seorang perempuan. Nyeri diperut saat menstruasi ini diakibatkan kontraksi otot rahim.


Pintu terbuka, Tasya datang bersama Ukhti Indah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Tasya dan Ukhti Indah langsung menghampiri Meyna yang sedang berbaring diatas kasurnya sambil menggeliat - geliat sakit.


"Meyna, benar perut kamu sakit?" tanya Ukhti Indah.


"Iya, Ukhti. Ini pertama kalinya aku sakit perut saat hendak menstruasi." jawab Meyna.


"Ini hal biasa, Mey. Ukhti bakal kompres perut kamu pakai air hangat ya? tolong buka sebagian bajumu." ucap Ukhti Indah.


Meyna menurut, Ukhti Indah menaruh kain kompresan diatas perut Meyna. Beberapa kali Ukhti Indah melakukan hal tersebut.


"Bagaimana apa masih sakit, Mey?" tanya Ukhti Indah.


"Alhamdulillah sudah mendingan, Ukhti. Syukron!" jawab Meyna.


Ukhti Indah mengangguk, "Afwan, Mey! Sekarang minum air putih ini ya."


Meyna pun mengambil alih gelas berisi air putih dari Ukhti Indah lalu, ia meneguknya. Mengompres perut yang nyeri dan minum air putih adalah salah satu cara meredakan nyeri pada perut saat menstruasi. Ada juga cara lain seperti, memijat pelan bagian perut yang nyeri dengan minyak esensial dan olahraga ringan.

__ADS_1


"Ukhti, Tasya, syukron! Kalian bisa tinggalkan aku, aku udah nggak papa kok." ucap Meyna yang merasakan nyeri diperutnya perlahan reda.


Ukhti Indah dan Tasya mengangguk.


"Mey, kalau perlu apa - apa minta Tasya atau santriwati lain untuk memanggil Ukhti ya. Jangan sungkan - sungkan! Ukhti mau permisi dulu ya?" ucap Ukhti Indah diangguki Meyna.


"Syukron, Ukhti!" ucap Meyna kembali.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ukhti Indah meninggalkan kamar Meyna, kini disana hanya ada Meyna dan Tasya. Karena, santriwati sekamar mereka sepertinya memilih di masjid.


"Oya, Mey kamu dah ada softex? " tanya Tasya.


Meyna mengangguk, "Alhamdulillah udah ada di lemariku. Sisa bulan kemarin."


Meyna bangkit dari kasurnya, dan ia menghampiri lemarinya untuk mengambil sesuatu.


"Mau apa, Mey? Udah gak sakit lagi perutnya?" tanya Tasya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu ya, Sya. Perut aku udah mendingan kok." jawab Meyna.


"Assalamualaikum" Meyna keluar kamar.


"Waalaikumsalam. Hati - hati!" balas Tasya.


Ia pun menyusul Meyna yang sudah keluar, ia ingin pergi ke masjid karena waktu maghrib hampir tiba.


Karena saat seseorang mengalami menstruasi, kondisi imannya sedang kosong karena tidak melakukan sholat, mengaji, dan kegiatan keagamaan seperti biasanya. Maka, dianjurkan untuk para perempuan yang sedang menstruasi untuk memperbanyak membaca sholawat dan dzikir.


Saat menstruasi juga dianjurkan untuk melakukan taubat dan memperbanyak bacaan istigfar, bacaan Astagfiirullahal adzim.


Salah satu kelebihan bacaan istigfar ialah yang disebutkan oleh Ibni Abbas, Rasulullah bersabda,


" Barangsiapa yang senantiasa beristigfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan pada setiap kesedihannya, dan kelapangannya dari setiap kesempitannya, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka - sangka."


Beberapa larangan untuk perempuan yang sedang menstruasi yaitu, sholat, puasa, memegang mushaf Al Qur'an, dan tawaf. Saat menstruasi dilarang memotong kuku, menyisir rambut tanpa sengaja rontok, hal tersebut boleh dilakukan asal kita memunguti potongan kuku dan rambut yang rontok, lalu ikut di bersihkan saat mandi besar/junub.


* * * *


Keesokan paginya..


Furqon hendak menuju pesantren As Salam 2 namun, dijalan ia melihat seorang perempuan yang tampak kesulitan karena beban kardus yang dibawanya. Ia akhirnya menghampiri perempuan tersebut dan berniat untuk membantunya.


"Assalamualaikum Ukhti."


"Waalaikumsalam"


Perempuan tersebut menunduk karena didepannya seorang lawan jenis.


"Ukhti mau kemana? boleh saya bantu bawakan kardusnya?" tanya Furqon.


"Saya mau mengantarkan buku - buku ini ke perpustakaan pesantren As Salam. Kebetulan saya santriwati As Salam 2 yang diberi amanah oleh Ustadzah Aina." jawabnya.


Ya Allah kenapa dag dig dug gini hatiku. Tenang Kayla! tenang!

__ADS_1


batin Kayla.


Perempuan tersebut yang tak lain adalah Kayla. Entah kenapa ia rasanya berdebar berhadapan dengan Furqon. Ini kali pertamanya mereka bertemu.


"Ooh begitu. Mari saya bawakan ke perpustakaan, Ukhti bisa kembali." tawar Furqon.


"Eh, jangan! Biar saya saja akhi, saya ndak mau merepotkan akhi." tolak Kayla.


"Tidak apa, Ukhti. Saya hanya kasihan melihat Ukhti keberatan membawa kardus ini." Furqon mencoba membujuk.


"Tid- - -" ucapan Kayla terpotong oleh salam seseorang.


"Assalamualaikum"


Furqon dan Kayla menoleh ke sumbernya.


"Waalaikumsalam"


"Fur, ngapain disini? Katanya kamu mau menemui Mbak mu. Kok malah disini? Kayla, kamu juga kenapa disini?" tanya Ustadz Hakam.


"Jangan salah paham, Mas! Aku cuma mau nolongin Ukhti ini bawakan buku - bukunya ke perpustakaan saja." jawab Furqon menjelaskan.


Kayla yang mendengar Furqon memanggil Ustadz Hakam dengan sebutan 'Mas' mengernyit tak mengerti. Ia sendiri juga dapat mendengar keakraban dua orang lelaki didepannya.


Loh? kok dia panggil Ustadz Hakam 'Mas' sih? Sebenarnya dia siapanya Ustadz Hakam?


batin Kayla.


"Ooh, ya sudah bawakan sana ke perpustakaan." balas Ustadz Hakam diangguki Furqon.


"Kayla, kamu bisa kembali. Biar bukunya Furqon, adik saya yang bawakan." ucap Ustadz Hakam pada Kayla.


Kayla mengangguk, "Baik, Ustadz. Saya permisi kalau begitu."


Kayla pun menaruh kardus berisi buku didepannya. Tidak mungkin jika ia langsung memberikan pada Furqon, bisa saja kulit mereka bersentuhan. Tentu hal itu dosa, karena mereka bukan mahram.


"Ustadz, saya permisi Assalamualaikum" ucap Kayla.


"Waalaikumsalam"


Kayla kembali ke pesantren As Salam 2, sementara Furqon dan Ustadz Hakam berjalan menuju perpustakaan pesantren As Salam.


Dalam perjalanan entah kenapa hati Kayla berdebar saat mendengar suara Furqon. Ia sangat kenal suara lembut Furqon yang pernah mengalun indah di speker masjid waktu sholat jumat kemarin. Entah kenapa hatinya seperti berkejolak aneh dan tanpa disadari Kayla tersenyum - senyum sendiri.


Astagfiirullah..apa ini? Kenapa perasaanku jadi aneh begini setelah bertemu dengannya? Apa aku.....


batin Kayla.


"Apa aku...." Kayla tersenyum malu sendiri dan tidak melanjutkan ucapannya.


.


.


.


Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!! Makasih:)

__ADS_1


__ADS_2