KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
25• (Percakapan tak diminta #2)


__ADS_3

"Iyakan mau minta maaf?"


Saat memasuki kamarnya, Kayla langsung disuguhi suara Safa yang menyita para santriwati sekamar mereka. Lebih tepatnya menganggu. Mengalihkan mereka yang jelas-jelas tengah mengerjakan tugas, rebahan atau mentadarus hafalan yang akan disetor.


"Sssttt!" Kayla menempelkan telunjuknya di bibir. Peringatan agar Safa diam. "Bicaranya dikotrol bisa nggak, Saf? Ganggu yang lain tauk! Ganggu Mayra juga yang lagi hafalan tuh!"


Safa memutar bola matanya jengaj. "Iya- iya, ngerti."


"Gimana Kay, Abyaz tadi nyampaiin maafnya karena yang kemarin?" Ini bukan Safa tetapi Mayra. Ia menutup Alqur'annya dan bergabung dengan Kayla dan Safa.


Kayla mengangguk. "Tapi, tetap aku nggak terima, May!"


"Nggak terimanya karena apa?"


Belum Kayla bicara, Safa sudah mendahului. "Ya, nggak terimanya karena Kayla dihukum, Abyaz nggak. Gitu atuh, May."


Kayla menghela napas. Safa memang hobinya banyak. Bukan cuma senang menjahili, mengajak adu mulut, mengajak adu tatapan tapi juga senang memotong ucapan orang. Nggak ada kabel putus, maen nyambung-nyambung ae.


Mayra tersenyum tipis. "Memangnya harus ya kayak gitu? Satu dihukum yang satu juga harus dihukum. Satu lagi kena musibah yang satu juga harus kena musibah. Harus begitu?"


Kayla menggeleng. Benar juga kata Mayra. Ia beristigfar dalam hati.


"Nah, dengar tuh!" cetus Safa.

__ADS_1


Kayla melirik sinis Safa. "Halah, aku dihukum juga gara-gara kamu, Saf! Main nah-nah aja! Kamu juga harus dengerin tuh!"


"Susah ah ngomong sama Kayla mah!" gerutu Safa. Tak terima ucapannya dibalikan lagi.


"Kalau susah ya udah, nggak usah ngomong sama aku! Ribet amat!" kata Kayla ketus. Tangannya bersedekap dada.


"Oke, siapa takut!" Safa merasa tertantang. Dengan mantap ia melontarkannya.


"Oke!" balas Kayla yang juga tertantang.


Mayra menggeleng kepala. Ntah berapa kali ia menggeleng kepala hari ini. Tadi di stand es doger, sekarang di asrama, nanti sore, malam apalagi?


"Jangan pada ribut. Ujian mau tiba malah asyik ribut," kata Mayra. Mencoba menghentikan kesengitan di antara Kayla dan Safa. "Kapan belajarnya kalau kalian ribut terus?"


"YA LUSALAH!!"


"MAAF, MAY..."


Lagi-lagi Kayla dan Safa kompak mengatakannya.


******


"HEI, WE MEET AGAIN!!"

__ADS_1


Fara yang tengah menunggu mamanya di taman sekolah, menekuk wajahnya karena ia bertemu lagi dengan siswi berkacamata kemarin. Lama-lama tuh siswi mirip Reynar yang hobinya ngerecoki orang lain.


Fara dibuat menjengit terkejut. Mendapati siswi berkacamata dengan rambut diikat ekor kuda, telah duduk di sampingnya tanpa izin.


Fara memalingkan wajahnya ke sisi lain. Berharap dengan begitu siswi tersebut akan pergi menjauh darinya. Sadar jika kehadirannya tak diinginkan. Tapi nyatanya, tidak! Dahi Fara berkerut heran.


Siswi tersebut justru mengeluarkan buku yang sama di tempo hari. Buku yang tak asing di mata Fara karena sering melihatnya. Ya, karena siswi itu selalu membawanya tiap hari.


Fara tak peduli. Berusaha mengusir siswi di sampingnya dengan sikap acuhnya. Ya, walaupun siswi itu sekarang diam—khidmat membaca buku yang selalu dibawanya— tapi Fara tetap tak suka. Ntah apa alasaannya.


"Fara!"


Suara yang Fara kenali, sangat! Ia meluruskan pandangannya dan langsung mendapati Rika—mamanya— yang melambaikan tangan ke arahnya. Fara segera bangkit dari duduknya. Tetapi, siswi di sampingnya juga ikut bangkit.


Mau ngapain?


Fara memilih bertanya, tapi nadanya sangat ketus. Jelas menggambarkan ketidaksukaannya. "What's your problem with me?"


Siswi itu menggeleng. Jujur, ia cukup takut dengan tatapan Fara yang tajam dan menyorot tak suka. Ah ya, juga sendu yang tiba-tiba hinggap.


"Then why are you standing? Talk to me if you have a problem with me!!" kata Fara tegas.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2