
Kondisi Kakek akhir - akhir ini sedang kurang baik, biasanya Kakek ikut andil di perusahaan tapi sekarang hanya Om Candra seorang diri. Tante Rika dan Bi Ina merawat Kakek dengan sangat baik, walaupun Tante Rika punya resto yang harus diurus, namun kesehatan mertuanya lebih penting dari resto miliknya.
Kakek bersyukur walaupun tinggal satu anak dan satu menantu, mereka selalu ada dan selalu meluangkan waktu untuk merawatnya ditengah - tengah kesibukan mereka. Baru dua hari Kakek terbaring diatas tempat tidur dan tidak beraktivitas seperti biasanya.
Mayra, Fara, dan Meyna mereka belum mengetahui jika Kakek sakit dan terbaring lemah dirumah, karena orang rumah tidak ingin menghambat proses belajar mereka. Toh, Kakek hanya demam dan kecapekan hanya perlu istirahat, apalagi dokter juga sudah memberi Kakek obat.
Siang hari ini Kakek merasa lebih baikan, Kakek juga sudah sering keluar kamar walau hanya untuk makan, santai ditaman, atau nonton tv. Terkadang Kakek keukeh untuk ikut Om Candra ke perusahaan, tapi dengan tegas Om Candra menolak nya.
Karena, Om Candra ingin Kakek benar - benar pulih, apalagi diusia Kakek ini usia yang rentan untuk terkena penyakit. Kakek hanya bisa menghela nafas dan menuruti keinginan sang anak.
Pagi yang cerah ini, tanpa Kakek sangka ia menerima panggilan dari kedua cucunya yang sedang merantau ke negeri orang. Tentu hal tersebut membuat Kakek senang, betapa rindu yang telah menumpuk kini sedikit berkurang dengan panggilan dari kedua cucunya.
Mayra, Fara, dan Kakek mereka terhubung dengan panggilan video call. Mayra dan Fara juga mempunyai rasa yang sama dengan Kakek nya yakni, kerinduan yang menumpuk dan akhirnya berkurang saat ini.
// Assalamualaikum Kakek // salam Mayra dan Fara bersamaan.
// Waalaikumsalam. Bagaimana kabar kalian? // balas Kakek dengan senyuman.
// Alhamdulillah Mayra baik, Kek. //
// Fara juga baik, Kek. // sahut Mayra dan Fara bergantian.
// Alhamdulillah kalau gitu. Lancar semua kuliah kalian? //
// Lancar, Kek. // Mayra dan Fara menjawab bersamaan.
Senyuman dari Kakek tambah terpancar mendengar keadaan kedua cucunya baik - baik saja.
// Kakek kok kayaknya lagi sakit? betul Kek? // tanya Mayra.
// Iihhh iya, kelihatan Kakek kayaknya lagi sakit. Bener Kek? // sahut Fara.
// Kakek kan sudah tua, wajar kalau sering sakit - sakitan. Kalian jangan khawatir, Kakek hanya kecapekan saja. Hari ini alhamdulillah sudah mendingan. // balas Kakek.
// Alhamdulillah kalau sudah baikan, Kek. Kakek jangan cape - cape ya! kurangi kegiatan di kantor. // ucap Mayra.
// Betul kata Mayra, Kek. Kita sedih kalau Kakek sakit, pokoknya Kakek jangan kecapekan lagi ya. // timpal Fara.
Kakek tersenyum begitupun Mayra dan Fara yang ikut tersenyum.
// Kalian kenapa mendadak jadi dokter sekarang nih?! Kakek pasti jaga kesehatan, kalian tenang saja. // canda Kakek.
Mayra dan Fara tersenyum mendengar canda dari sang Kakek.
__ADS_1
// Kek, Mayra rindu Kakek. Do'akan Mayra ya, Kek! Semoga bisa cepat pulang, hehe //
// Do'akan Fara juga, Kek! Kami betul - betul rindu Kakek. // imbuh Fara.
Tiba - tiba mata Mayra, Fara, dan Kakek berkaca - kaca. Kakek terharu mendengar pengakuan dari cucunya.
// Kakek selalu do'akan yang terbaik untuk kalian. Jaga kesehatan kalian disana ya! //
// Pasti, Kek. // balas Mayra dan Fara bersamaan.
// Kek, bagaimana keadaan orang rumah juga Meyna di pesantren? //
tanya Mayra.
// Alhamdulillah orang rumah baik semua, Meyna juga baik dipesantren. Kalian jangan khawatir! //
// Alhamdulillah // timpal Mayra dan Fara.
// Kek, kami tutup dulu ya? Semoga Kakek cepat pulih. // ucap Fara.
// Aamiin // ucap Mereka semua.
// Assalamualaikum, Kek. // salam Mayra dan Fara bersama.
Telepon terputus namun, senyuman Kakek belum pudar sekalipun. Rindu Kakek telah terobati, apalagi Kakek sudah melihat wajah Mayra dan Fara walau dari jauh.
* * * *
Dilain tempat, tepatnya di pesantren As Salam ada seorang pemuda yang sedang merenung seorang diri di taman pesantren.
Entah mengapa, dirinya terbayang - bayang oleh nama yang ada di kartu nama yang ia temukan.
Benaknya mulai kembali memutar memori, dimana dirinya sedang menolong seseorang.
Flashback!!
Pemuda berparas rupawan yang sedang menaiki taxi, tiba - tiba minta berhenti disebuah warung kecil yang letaknya di samping gang. Setelah ia selesai dari warung kecil tersebut, ia samar - samar mendengar suara minta tolong.
Kemudian ia pekakan telinganya ke suara tersebut sambil melangkah mengikuti sumbernya. Mendekat ke gang tersebut, suara itu semakin jelas walau tidak terlalu. Dorongan hatinya lah yang membuat pemuda itu untuk masuk ke gang tersebut.
Telinganya masih mencoba peka pada suara tersebut. Langkah demi langkah ia lewati dan akhirnya ia melihat seorang gadis berhijab tampak ketakutan, dengan seorang laki - laki yang wajahnya tertutup sebagian.
Ia saat itu belum melakukan apa - apa, pemuda itu masih memperhatikan gerak - gerik laki - laki dengan wajah tertutup itu. Lama - kelamaan ia merasa akan hal aneh yang akan terjadi pada gadis tersebut. Matanya celingak - celinguk mencari sesuatu, hingga akhirnya ia menemukan sebuah balok kayu.
__ADS_1
Pemuda tersebut mencari celah aman agar bisa melumpuhkan pria yang akan berbuat kurang ajar pada gadis di depannya. Hingga akhirnya celah itu ada, dan ia pun memukulkan balok tersebut ke kepala laki - laki itu.
BRUGK!
Satu pukulan yang cukup keras jatuh di kepala laki - laki tersebut. Gadis itu selamat, dan laki - laki tersebut pingsan ditangan pemuda itu. Hingga ucapan terima kasih menjadi akhir dari kejadian itu. Pemuda itu sempatkan untuk melihat wajah sang pelaku, namun ia sama sekali tak kenal.
Saat hendak pergi matanya menangkap sebuah kartu kecil tergeletak didekat posisi terpojok nya gadis yang ia tolong. Sebuah kartu nama bertuliskan 'MAYRA ALMA SYAKIRA' dan alamat yang menunjukan daerah Kairo, Mesir.
Entah kenapa lagi, ia sadar atau tanpa sadar membawa kartu tersebut.
Hingga saat ini kartu nama tersebut masih disimpan pemuda itu, yang tak lain adalah Furqon.
Back!!
Furqon memandangi kartu nama milik Mayra dengan seksama, hingga ia tidak sadar ada orang yang duduk di sebelahnya.
"Kamu mikir apa, Fur?" mendengar suara itu Furqon langsung menoleh.
Terkejut! Furqon terkejut melihat Iparnya duduk di sampingnya. Ia segera menyembunyikan kartu nama tersebut disaku baju koko nya.
Ustadzah Abidah, iparnya hanya tersenyum melihat sang adik terkejut.
"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan sama Mbak ya?" tanya Ustadzah Abidah.
"Astagfiirullah... Mbak ini buat kaget saja. Sesuatu apa sih, Mbak?" ucapnya tak jujur.
"Halah, ngeles aja kamu. Tadi apa yang kamu pegang? Mbak lihat loh." cerca Ustadzah Abidah pada adik iparnya.
"Sudahlah, Mbak! Ndak usah dibahas, toh itu ndak penting. Ayo Mbak, kita pergi ke rumah ndalem !" Furqon mengelak.
Ustadzah Abidah mengekeh dibalik niqab nya. "Ayolah! Kamu ini rahasia - rahasiaan sama, Mbak. Takut sama Mbak apa Abah, Umi, atau Masmu?" ucap Ustadzah Abidah.
"Takut semua, Mbak." balas Furqon pada Kakak iparnya.
"Terserahmu, Fur."
Ustadzah Abidah hanya menggeleng kepala melihat adik iparnya yang salah tingkah.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!!