
Kalamun qodimu la yumallu sama'uhu
(Al-Qur'an adalah kalamullah yang qodim yang tidak ada kebosanan untuk didengarkan)
Tanazzaha'an qoulin wa fi'lin wa niyyati
(Yang disucikan dari ucapan, perbuatan dan kehendak)
Bihi asyfati min kulli da-in wa nuruhu
(Dengan Al-Qur'an itu aku minta kesembuhan dari segala penyakit dan cahaya Al-Qur'an)
Dalilun liqolbi 'inda jahli wa hairoti
(Itu menjadi petunjuk hatiku ketika aku dalam kebodohan dan kebingungan)
Lantunan sholawat Kalamun Qodimullah terlontar syahdu nan indah dari lisan para santriwati. Iringan hadrah pun semakin menyahdukan, hingga kalbu tersentuh merinding. Sholawat ini mampu menggetarkan kalbu para khalayak yang berada di pesantren.
Bintang dan rembulan menjadi saksi malam ini. Saat yang dinanti-nanti kini telah tiba. Di mana acara akhirussanah dan khotmil Qur'an dilaksanakan.
Kalamun qodimu la yumallu sama'uhu
(Al-Qur'an adalah kalamullah yang qodim yang tidak ada kebosanan untuk didengarkan)
Tanazzaha'an qoulin wa fi'lin wa niyyati...
(Yang disucikan dari ucapan, perbuatan dan kehendak...)
__ADS_1
*****
Sendu menyeruak, air mata yang selama ini selalu dihalangi untuk menetes akhirnya menetes juga detik ini. Tak sanggup melihat orang yang disayangi terbaring lemah di rumah sakit, itulah yang Mayra rasakan detik ini.
Gadis yang baru semalam melaksanakan acara akhirussanah dan khotmil Qur'an di pesantren, kini meneteskan air matanya di samping nenek. Mengusap tangan ibu dari almarhum ayahnya dengan lembut.
"Mayra ..."
Segera Mayra menghapus air matanya. Ia menoleh ke sumber suara dengan senyuman. Meski begitu, siapa pun yang melihat wajah Mayra saat ini pasti tahu kalau gadis itu usai menangis. Dapat dilihat dari sekitar matanya yang basah, dan hidungnya yang merah.
"Nenek 'kan sudah tidur, sekarang Mayra boleh salat dulu." Kakek menatap hangat cucunya. "Biar kakek yang di sini."
Mayra bangkit dari kursi. Gadis itu menuruti titah sang kakek. Ia sudah melewatkan salat dhuhur-nya lima belas menit lalu.
"Aku pergi salat dulu, Kek." Diraihnya tangan kakek untuk dikecup. "Assalamualaikum."
Sembari menyusuri lorong rumah sakit, Mayra terdiam dalam segala pemikirannya. Mayra berpikir, Haruskah nanti ia kembali ke pesantren di saat neneknya terbaring lemah?
Lagi pula, sudah lama sekali ia tidak berjumpa kakek dan neneknya. Dan esok tadi, adalah awal ia bertemu dengan kakek neneknya setelah sekian tak berjumpa.
Hingga sampai di tangga musalla rumah sakit, Mayra menghentikan segala pemikirannya. Lebih baik ia curahkan isi hati dan benaknya usai salat nanti.
".... ya Allah, aku tidak ingin menyia-yiakan waktu yang Kau beri saat ini. Biarlah aku memutuskan berhenti menempa ilmu di pesantren, dan berbakti mengurus nenek. Jika ini benar, permudahlah segalanya."
Usai salat dhuhur, Mayra tidak langsung kembali ke kamar rawat nenek. Tetapi, ia memilih duduk sejenak di tangga masjid dengan jemari yang bergerak, menghitungi dzikir yang ia lakukan.
Sejujurnya, Mayra sedang bimbang dan sedih kali ini. Ia harus memutuskan keputusan untuk hari selanjutnya. Meski sedih menghentikan pendidikan di pesantren, Mayra pasti lebih sedih jika menyia-yiakan waktu yang Allah beri untuknya bersama kakek-nenek.
__ADS_1
Yang telah pergi tak mungkin kembali, 'kan? Waktu yang ada harus digunakan sebaik-baiknya juga, bukan?
*****
"Kata Papa, Mama sakit."
Jemari Rika yang tadinya bergerak di atas keyboard laptopnya kini mendadak berhenti. Ia terkejut dengan kabar mertuanya di Indonesia. Ntah angin apa yang tiba-tiba mendatangkan kabar kurang menyenangkan ini.
Mendadak sakit.
Rika berpikir seperti itu. Meski ia dan suaminya—Candra—sibuk bekerja, tetapi mereka tetap bertukar kabar dengan orangtua di Indonesia.
"Mama sakit ... kok bisa? Bukannya—"
"Sakit itu datang tiba-tiba, sama seperti kematian. Itu kehendak Tuhan, pastilah bisa terjadi," tukas Candra pada istrinya.
"Terus, kita ambil cuti buat ke Indonesia?" Ini bukan Rika tetapi Fara. Gadis itu tanpa sengaja mendengar percakapan orangtuanya kala ingin ke dapur.
Candra dan Rika saling melempar pandang. Mereka belum kepikiran untuk terbang ke Tanah Air.
.
.
.
Sumber lirik Kalamun Qodimullah; Kompas.com
__ADS_1
Lolos revisi 12 Juni 2021