KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
57• (Karsa)


__ADS_3

"Syukron jazillan, ya." Suara Zikra memecah nyenyat di antaranya dan Mayra.


Mayra mendongak, menatap sekilas wajah Zikra yang diterpa secuil sandyakala. Namun, ia buru-buru menunduk dan mengangguk.


"Ini udah sore, Fara juga udah pulang. Aku antar, ya, May?"


Mayra menggeleng cepat. "Jangan, Kak. Aku bisa pulang sendiri. Aku nggak mau ngerepotin Kak Zikra lagi."


Zikra terkekeh pelan. Sungguh lucu wanodya di hadapannya saat ini. "Jangan kaku gitu sama aku, May. Aku nggak senyeremin preman pensiun, kok."


Mayra mengulum bibirnya. Nirmala pemuda di sampingnya saat ini. Mayra akui jika Zikra pemuda yang baik, meski ilmu agama yang dimiliki tidak lebih dari pengetahuan alamnya. Ya, Zikra memang salah satu siswa kelas dua belas IPA.


Meski Zikra orang bestari, tetapi pulang bersamanya adalah hal yang tidak baik. Berdua dalam mobil, dan takutnya menimbulkan fitnah atau hal lain karena bujukan syaitan.


"Gimana May, mau, ya?" Nayanika Zikra menubruk netra meneduhkan jiwa milik Mayra.


"Terima kasih, Kak. Tapi ... aku lebih baik pulang naik angkutan umum atau bus," kekeuh Mayra.


Kali ini, Zikra hanya mengulas senyum tanpa mengeluarkan suara lagi. Ia memperhatikan Mayra begitu dalam. Sorot matanya begitu memancarkan kerinduan akan seseorang. Lalu, siapa seseorang itu?


"Kalau boleh aku cerita, kamu mau kasih waktumu sebentar aja nggak buat kakak kelasmu ini?"


Mayra berpikir keras. Hari sudah sore dan menyenja, sebentar lagi lembayung menyapa. Mayra tidak tahu harus berkata apa. Ia bukanlah para gadis di luaran sana. Jika Zikra mengajak berlama-lama akan diterima.


Ponselnya berdering. Satu notifikasi panggilan dari Fara masuk. Mayra menatap Zikra sekilas, bermaksud meminta izin mengangkat panggilan di ponselnya.


"Angkat aja nggak pa-pa, May," kata Zikra diiringi senyum. "Aku pergi bentar, ya, jangan ke mana-mana."


"Iya, Kak."


Menit berlalu, kini Mayra telah menyelesaikan panggilannya dengan Fara. Sudah diduga, kakek dan nenek pasti menanyakannya karena lembayung akan tiba, tetapi ia belum di rumah. Harap-harap cemas Mayra di posisinya. Menunggu kedatangan Zikra yang hingga kini belum ada.


"Ngapain di sini sendiri?"


Sontak Mayra menoleh ke belakang. Ia mendapati Reynar tengah berdiri dengan bersandar di gerbang sekolahnya. Pemuda itu semakin mendekati Mayra. Sejak tadi ia menunggu Mayra, tetapi ia baru menemui saat ini.


"Kok belum balik?"

__ADS_1


"A-aku nunggu orang. Kamu sendiri kenapa belum pulang juga?" Puspas hati Mayra. Gugup merundungnya.


"Tadinya gue pengin minta bantuan lo, tapi gue terlalu bimbang buat nyampeinnya." Netra hitam kecoklatan Reynar memandang Zikra yang tidak jauh di belakang Mayra. Ia mengangkat alisnya satu, melirik ke Mayra.


"Minta bantuan a-apa?" tanya Mayra akan pertanyaan Reynar yang enigma.


Kini, netra Reynar fokus hanya ke Mayra. Memandangnya yang berjarak di depannya.


"Gue pengin belajar ngaji sama lo."


Hah!? Mayra reflek mendongak. Memandang tajam netra Reynar, mencari sesuatu di sana. Mungkinkah Mayra mencari keseriusan Reynar?


"Gue serius. Gue emang punya niat buat belajar ... lagi," kata Reynar meyakinkan. "Kalau lo mau bantu gue, besok habis pulang sekolah kita ke masjid dekat teman kemarin."


"Kenapa harus Mayra yang ngajarin?"


Zikra menghampiri. Sebut saja, pemuda dua tahun lebih tua dari Mayra dan Reynar itu tengah membancang pijar di hati. Rautnya seperti es, namun nada jatmikanya tidak luntur.


Reynar terasa risak akan kehadiran Zikra yang tiba-tiba bertandang, menjadi ketiga di antara dia dan Mayra. Reynar mengangkat satu alisnya. Seakan respons dari kalimat Zikra tadi.


"Kalian bukan mahram. Mayra pasti bakal nolak, kok," timpal Zikra.


"Lo bilang gue sama Mayra bukan mahram, terus Mayra sama lo itu mahram gitu?" cibir Reynar. Sedari tadi ia menyaksikan dari kejauhan tanpa diketahui Zikra maupun Mayra.


"MAYRA!"


Sebelum situasi di antara qira'ah tidak membaik, beruntung Fara datang. Ia menghampiri tiga orang di sana yang ntah sedang apa. Yang jelas, Fara hanya ingin melaksanakan perintah kakeknya untuk menjemput Mayra yang belum kembali meski lembayung telah tiba. Selama itukah latihan tartil-nya?


"May, kita pulang sekarang, ya? Kakek cemasin kamu di rumah."


"Maaf, Ra. Iya, kita pulang sekarang."


Fara menatap bergantian Zikra dan Reynar. "Kita pulang duluan, ya."


Zikra mengangguk dan sempat tersenyum. Reynar tidak melakukan respons apa-apa. Memilih ikut meninggalkan Zikra seorang di selesa lapangan.


.

__ADS_1


.


.


Lolos revisi 26 Juni 2021


Aneh nggak sama beberapa kata yang bertebaran di bab ini? Apa aja, sih, katanya?


-Karsa (Title chapter)


-Nyenyat


-Sendyakala


-Nirmala


-Wanodya


-Lembayung


-Bestari


-Nayanika


-Membancang


-Pijar


-Jatmika


-Selesa


-Puspas


Yang di atas bukan??


Jangan lupa tilik makna per katanya, ya!

__ADS_1


__ADS_2