
Mentari menyingsing di cakrawala. Harum embun menyeruak di indera penciuman terbawa oleh angin. Dan, semilir angin menerpanya sedari tadi. Pagi ini, di mana aktivitas sekolahnya libur—karena menerpakan sistem full day's school— Mayra memilih duduk di kursi meja belajarnya yang memang berhadapan langsung dengan jendela.
Gadis berjilbab segiempat warna olive itu tersenyum sembari memejamkan mata, menikmati tiap dersik dari jendela terbukanya.
Dunia ini belum sepadat nanti jika siang menyapa. Jadi, jika ingin berjalan-jalan pun cocok waktunya. Ntah ke mana Fara sepagi ini, karena Mayra tidak mendengar suaranya sejak tadi. Mayra tak hiraukan. Memilih menyaksikan pagi yang menyapa para insan di bumi.
Hingga lama Mayra berada di posisinya dengan tasbih digital yang melingkar di telunjuk kirinya, suara gerbang dibuka membuatnya penasaran.
Dari jendelanya, Mayra mampu menengok apa yang ada di teras rumah. Dan pertama yang dilihatnya adalah, Fara yang baru saja turun dari motor scoopy hitam Reynar. Senyum merekah di bibir Fara menarik Mayra untuk ikut tersenyum.
Setidaknya Mayra bersyukur jika orangtua Fara menanyakan kabar putrinya, orangtua Fara tidak perlu khawatir. Sebab, Fara baik dan bahagia di sini.
Tidak sengaja Reynar mendongak. Membuat netranya menubruk netra Mayra. Dua insan itu bersitatap sejenak sebelum Mayra berdiri, pergi dari kursi meja belajarnya.
"Adtagfiirullah ..." Mayra beristigfar, tanpa sengaja bersitatap dengan lelaki bukan mahram-nya.
Di bawah, Fara tertawa karena celotehan Reynar. Namun tawa itu lenyap kala pandangan Reynar tertuju ke atas, ke jendela kamar Mayra yang terbuka.
"Kenapa nggak ungkapin aja, sih, perasaan kamu, Rey? Daripada mandang jauh-jauh gini, ntar keburu diambil orang?" kata Fara. Ia tersenyum meski hatinya tengah sulit dideskripsikan.
Reynar menatap diam Fara. "Berapa kali harus gue bilang ke lo, kalau gue nggak ada rasa sama dia! Kenapa, sih!?"
Fara terkekeh kecil. Reynar sudah membohongi dirinya sendiri saat ini. Jelas-jelas ia menaruh sepercik kagum untuk Mayra. Tapi, tetap tidak mengakui.
"Di sekolah, ada kakak kelas yang suka banget nyamperin Mayra, lho, Rey." Fara sengaja menyalakan bara api di hati Reynar.
"Serah, nggak peduli!"
"Terus, kakak kelas itu suka banget ngajak Mayra ke musalla." Kembali, Fara menyalakan bara api yang jauh lebih besar dari yang tadi.
"Bodo amat!"
__ADS_1
"Jangan bilang serah, bodo amat, terus nantinya nyesel sendiri, Rey," ujar Fara menegur. "Kamu sendiri, 'kan, yang bilang kalau Mayra langka. Tapi, kenapa kamu nggak mau perjuangin dia?"
Reynar menghela napasnya dalam. Pagi-pagi darahnya sudah naik dan hatinya panas karena Fara.
"It's better to admire her in silence. Than in the end just giving false hope."
Reynar pergi dengan motor scoopy hitamnya. Meninggalkan Fara yang mematung ditempat dengan cetakan senyum yang perlahan memudar. Hingga ia sadar, Fara lekas pergi dari tempatnya.
******
"Aku kira kamu ke mana, May! Ternyata nggak tahunya kamu di sini!" Suara Fara begitu panik. "Kok bisa kekunci di toilet, sih? Pasti gegara fans Kak Zikra, ya?"
Mayra menggeleng. Jujur, lagi-lagi tubuhnya lemas. Ia gemetar takut.
"Jangan su'udzon, Ra. Nggak baik," tegur Mayra dengan suara lesunya.
"May, gimana nggak su'udzon sama penggemar Kak Zikra coba, kalau selama ini kamu selalu diusik sama mereka!!?" kata Fara ingin menyadarkan Mayra yang hanya diam jika diusik.
"Sudah Ra, sudah. Ayo, antar aku ke Kak Zikra aja."
Suara familiar itu membuat Mayra dan Fara menoleh ke belakang. Ada Zikra di sana dengan raut dingin yang sama sekali tidak pernah ditunjukkan. Ya, baru pertama kali ini Zikra yang ramah memasang raut datar nan dinginnya.
Kemudian, sorot dingin itu menghangat bercampur cemas menatap ke Mayra yang sudah menunduk.
"Sebaik apalagi yang akan kamu lakukan, May?" kata Zikra enigma. Sorotnya sendu, itu yang Fara tangkap. "Kenapa nggak bilang, sih, kalau kamu kena masalah gini gegara aku?"
Mayra menunduk semakin dalam. Fara hanya bisa terus merangkul Mayra.
"Kalau akhirnya bakal begini, aku nggak maksain kamu untuk lomba ini, May. Please, bicara, May."
"Aku harus bicara apa kalau semua sudah diketahui, Kak?"
__ADS_1
Zikra meraup wajahnya. Hatinya terasa aneh mendengar jika Mayra selama ini diusik para fans-nya. Mengetahui Mayra kena masalah karenanya, membuat Zikra rapuh sendiri. Sungguh, adik kelasnya ini mampu membuatnya untuk selalu memikirkannya tanpa jeda yang lama.
"Kamu mau aku ngelakuin apa buat balas perbuatan orang yang mengusikmu, May? Tell me, Mayra."
"Nggak ada, Kak." Jawaban yang semakin membuat Zikra merasa bersalah dan kagum dalam satu situasi. "Semua baik-baik saja, Kak. Nggak ada yang perlu Kak Zikra lakukan. Assalamualaikum ..."
Mayra dan Fara melewati Zikra begitu saja. Mayra masih tetap dengan posisi menunduknya hingga ia dan Zikra berjarak.
"DON'T BLAME ME IF I WANT TO ALWAYS PROTECT YOU."
******
Jangan salahkan aku jika aku ingin selalu melindungimu
Kalimat yang Mayra ingat keluar dari mulut Zikra, membuatnya terdiam sejak pulang sekolah tadi. Mayra tidak tahu harus bahagia atau sedih mengingat kalimat yang baginya terasa membebani.
Keterdiamannya berakhir dengan sebuah tulisan yang Mayra tulis disebuah buku kosongnya.
Jangan salahkan aku jika hanya luka yang kau terima atas rasamu.
Jangan salahkan aku jika kecewa yang kau terima atas perjuanganmu.
Karena aku ... tidak pernah ingin memberi semua itu pada orang lain. Sadarlah, wahai engkau. Jika berharap pada manusia itu hanya menyakitkan.
Jangan salahkan Allah yang telah lebih dulu menggaris takdirkan apa yang ada dalam hidupmu.
Jangan dan jangan banyak berharap pada apa yang tidak pernah ditakdirkan untukmu.
.
.
__ADS_1
.
Lolos revisi 24 Juni 2021