
"Enak nggak, May?"
"Iya, enak."
"Kamu nyesel nih nemenin aku ke sini? Yaah ... tau gitu nggak jadi aja tadi."
"Bukannya tadi kamu yang maksa?"
Fara cengengesan. Ah, semuanya sudah terlanjur, terus bisa apa? Dua gadis itu tengah berada disebuah cafe sekitar Simpang Lima. Meski bukan malam minggu tetapi tetap saja ramai. Apalagi cafe yang mereka berdua kunjungi terletak di dekat pusat perbelanjaan—mall.
Kalau mengira Mayra ke sini karena kemauannya, itu salah besar. Karena, tadinya Mayra berada di kamar dan belajar. Tetapi, ntah angin apa yang membuat Fara usai makan malam membujuknya agar ditemani ke sebuah cafe. Mau tak mau Mayra iyakan, tidak tega Fara merengek terus-menerus.
Dua gadis di sana sibuk dengan kegiatan masing-masing, jadi wajar kalau hening. Ya, Mayra serius membaca sebuah novel teenfic-religi. Dan, Fara asyik menscroll foto bias-nya di Instagram.
"Ra ... kamu di Singapura biasa keluar malam, ya?"
Pertanyaan tiba-tiba Mayra membuat Fara mematikan ponselnya. Ia tertarik dengan topik percakapan Mayra. Jujur, sejak kemarin ia ingin bercerita tentang kehidupannya di Singapura pada Mayra. Namun, sayangnya ia terlalu takut jika itu malah menganggu.
Fara mengangguk sembari menyedot signature drink choco taro miliknya. "Kamu pasti nggak pernah keluar 'kan, May?!"
"Pernah kok, tapi palingan kalau mendesak aja atau ikut belanja mbak pondok," kata Mayra. "Tapi lebih banyak di dalam pesantren, sih."
Fara mengangguk-angguk. Ia bisa bayangkan bagaimana kehidupan Mayra di pesantren.
"May, boleh cerita nggak?"
Mayra tersenyum. "Kenapa minta izin? Cerita aja sesukamu, insyaAllah aku dengerin kok."
Fara tertarik ikut tersenyum. Ia mulai mengenang bagaimana kehidupannya di negara tetangga yang maju itu.
"Hari-hariku membosankan, May. Nggak ada asyik-asyiknya," ungkap Fara. Ia tersenyum getir mengenangnya. "Bisa dibilang aku kayak nggak punya orangtua tau nggak, May! Mereka ada tapi kayak nggak pernah ada."
"Jangan bicara kayak gitu, Ra. Mungkin om sama tante lagi sibuk."
Fara mengangguk, benar kata Mayra. "Iya, tapi untungnya ada Rey yang sering datang ke apart-ku. Walaupun dia cuma bikin aku sebel, tapi dengan adanya Rey aku nggak kesepian." Fara tersenyum getir. Ah, ia merindukan Reynar yang rewel dan menyebalkan.
"Maksud kamu Reynar?"
__ADS_1
Fara mengangguk kembali. Ia mengaduk minumannya dengan sedotan.
"Selain Reynar, aku juga sering banget video call sama temanku di Jepang. Mereka bertiga itu teman SD-ku. Tapi takdir kek-nya sengaja misahin kita waktu SMP."
"Kamu mau nyalahin takdir, Ra?" Mayra mengerutkan dahi. "Setiap orang yang hadir di hidup kita itu punya perannya masing-masing. Ada yang tetap, ada juga yang cuma lewat."
Fara terdiam. Sepertinya ia sedang mencerna ucapan Mayra barusan. Seperkian detik kemudian, ia meraih salah satu tangan Mayra.
"Makasih, ya, May mau dengarin ceritaku." Fara tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang kamu tau 'kan hidupku di Singapura?"
Mayra mengangguk.
"Jangan sedih lagi, ada aku di sampingmu. Kalau pengin cerita, ceritain aja."
"Iyaaa, May. Makasih lagi, ya."
Mayra mengangguk dengan senyumnya. "Jangan makasih mulu. Harusnya aku yang makasih sama traktirannya."
Fara melepaskan tangan Mayra. "Ikhhh ... kok aku yang bayarin? Bayar sendiri-sendiri tau!" gurau Fara.
"Lho, kamu, ya, yang ajak aku ke sini sampai ngerengek kayak anak kecil," elak Mayra terkekeh.
"Aku tau, kok!"
Dua gadis itu kembali tersenyum. Fara pun berkata; "Ternyata kamu nggak sependiem yang aku kira, May. Kamu nyebelin juga ternyata."
"Nyesel nih ceritanya?"
Fara menggeleng sambil terkekeh. "Siapa bilaaang? Nggak kok May, aku malah senang punya kamu di hidup aku."
"Iya-iya, Ra. Aku percaya."
Mereka berdua sama-sama meminum minuman di depannya. Dari tadi ngobrol rasanya tenggorakan mereka kering, minta diluncurin air.
"May ... kamu kok nggak komenin penampilanku? Padahal, pertama kali aku datang ke sini itu nenek komen ini-itu, lho." Fara mengerutkan dahinya.
Apa Mayra tidak memperhatikannya selama ini? Ah, masa sih nggak?
__ADS_1
Mayra menunduk dengan senyumnya. Lantas, ia mendongak kembali. Menatap Fara dengan senyum hangat.
"Itu hak kamu mau pakai baju yang gimana, Ra."
Fara benar-benar melongo mendengar jawaban Mayra. Ia mendadak kikuk kala Mayra menatapnya tepat di mata.
"Toh, kamu juga 'kan yang bakal nanggung akibatnya? Aku nggak ada hak melarangmu. Tapi ... aku berkewajiban mengingatkan."
Fara menatap lesu Mayra. "Terus aku harus gimana, May?"
"Sebaiknya mengubah penampilanmu ke yang lebih tertutup." Mayra mengulas senyum. "Kalau belum bisa berubah seutuhnya, pelan-pelan aja. Dimulai dari pakai pakaian panjang tiap keluar contohnya."
"Tapi, May ... salatku juga masih nggak benar, bolong-bolong lagi," kata Fara jujur.
"Segera perbaiki. Kalau kamu butuh bantuan, insyaAllah aku siap bantu."
Mata Fara berkaca-kaca. Terharu mendengarkan ucapan Mayra. Selama ini Mayra memperhatikan penampilannya, tetapi ia memilih diam.
"Aku masih nyaman sama aku yang sekarang, May." Fara tertunduk. "Aku belum mau hijrah sekarang."
"Aku do'akan kamu segera hijrah. Semoga Allah masih memanjangkan umur kita untuk bisa lebih memperbaiki diri."
Fara menatap Mayra yang juga menatapnya. Mata gadis berrambut hitam sepunggung itu berair. Bahkan, air matanya hampir tumpah.
"Kamu kecewa sama aku, May?" katanya sendu.
Kembali Mayra tersenyum, lalu menggeleng. "Buat apa? Aku nggak ada hak memaksamu berubah jadi sepertiku, Ra."
"Aku dukung kamu apapun itu asalkan baik," lanjut Mayra.
Air mata Fara benar-benar menetes. Berderai dan terus menetes.
"Makasih, May."
.
.
__ADS_1
.
Lolos revisi 18 Juni 2021