KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
38• (Double tangis)


__ADS_3

Maaf ya...


Selama ini kalian baik banget ke aku, kita juga jadi sahabat. Semoga ikatan persahabatan kita until Jannah.


Hari ini aku harus pamit. Semoga lain waktu ada kesempatan buat kita ketemu lagi, ya.


Bulir air mata menetes namun segera diseka dengan punggung tangan. Di tepi taman pesantren yang menyatu dengan kebun, seorang gadis berjilbab navy beberapa kali menyeka pipinya dari basahan air mata.


Kayla.


Ia masih berharap keputusan Mayra yang pergi dari pesantren dan memilih belajar di sekolah umum hanya mimpi. Tetapi, seiringi berjalannya waktu hingga hari ini detik ini, Mayra benar-benar tidak kelihatan di pesantren. Mayra benar-benar pergi.


Kayla, meski ia terkesan rewel dan usil, dirinya yang seperti itu akan hilang ntah ke mana jika menyangkut keadaan getir pada ikatan persahabatannya.


Tiga tahun Mayra, Kayla, dan Safa bersama. Tidak mungkin jika mereka tidak tahu bagaimana kepribadian masing-masing, baik ataupun buruknya. Namun, mereka saling melengkapi. Karena mereka sadar, tiap manusia tidak ada yang sempurna.


Asyik-asyiknya melamunkan kejadian tempo hari sembari mencabuti rumput liar di dekatnya, Kayla menekuk bibirnya kala Safa ikut duduk di sampingnya sambil cengar-cengir.


Teman sedih malah cengar-cengir, aneh bukan?


Kayla menghela napasnya panjang. Ia menatap malas Safa sekilas. "Apa?" tanyanya tidak ikhlas.


Safa berdecak kesal. "Disenyumin malah cuma diasemin, nggak asyik emang!" keluh Safa.

__ADS_1


"Siapa yang asem ... kamu?" kata Kayla asal membuat Safa melotot kesal padanya. "Bagus deh kalau sadar."


Kali ini Safa benar-benar menggeram. "KAYLAAAAA!!!"


Dengan tidak berdosanya Kayla justru mengomeli Safa, yang membuat telinganya sakit.


"APAAN SIH, SAF!?! KAMU TUH KALAU NGEREM JANGAN DI KUPING ORANG!!!"


"Huh!" Safa memalingkan wajahnya asal, yang penting terhindar dari wajah Kayla. "Ngomong aja salah pakai teriak-teriak!" cibirnya.


Kayla turut memalingkan wajahnya asal, yang penting terhindar jua dari wajah Safa. Keduanya saling memalingkan wajah, enggan bersitatap namun saling curi pandang. Melirik satu sama lain.


Hingga lirikan mereka bertemu membuat keduanya sama-sama mendengus kesal.


"APA!!?" sewot Kayla dan dibalas Safa sewot.


"KAMU YANG APA!!?"


"LHO, YA KAMULAH!!"


"ENAK AJAH!!"


"YA, ENAK DOONG!!"

__ADS_1


Hingga akhirnya, Kayla dan Safa saling bersitatap dengan sorot sengit serta tangan yang bersidekap. Semakin menambah aura kesengitan di antara mereka.


Jika keadaan seperti ini, Mayra pasti langsung angkat bicara. Melerai perdebatan dan adu mulut unfaedah Kayla dan Safa. Namun, semuanya hanya kenangan. Mayra sudah tidak ada di antara mereka.


Sorot sengit antara Kayla dan Safa perlahan memudar, beralih lesu secara tiba-tiba.


"Saf ... biasanya kalau kita kayak gini, pasti ada Mayra yang selalu ngelerai." Kayla mengusap sudut matanya yang berair.


Safa di sampingnya, mengangguk. "Iya Kay, tapi semuanya sekarang udah nggak ada. Mayra pergi."


Mendengar kata 'pergi' terlontar membuat Kayla meneteskan air matanya yang ia coba tahan. Namun, gagal. Sudah terlanjur menetes dan tidak mungkin naik kembali ke pelupuk.


Safa menoleh ke Kayla, menatapnya tanpa makna. "Ikkhh ... kok tinggal nangis, sih, Kaaayy??!!" oceh Safa merengek.


Kayla mengerutkan dahinya, heran plus merinding. "Jangan aneh deh, Saf!! Takut nih!!" ujar Kayla.


Safa mengerutkan dahi, heran. "Takut kenapa? Emang aku orang gelo apa?!"


Tanpa dosa Kayla bilang, "IYA, KAMU 'KAN SALAH SATUNYA!!" kalimat itu diakhiri tawa meledak sejadi-jadinya.


.


.

__ADS_1


.


Lolos revisi 15 Juni 2021


__ADS_2