
Sejak pertemuan Kayla dengan Furqon dijalan tadi, Kayla jadi tersenyum - senyum sendiri. Hatinya juga berdebar saat mendengar suara Furqon. Entah darimana asalnya, rasa kagum terhadap Furqon tiba - tiba muncul dalam hatinya.
Sempat Kayla berfikir, apakah ini yang dinamakan pengagum rahasia.Hal ini membuat Kayla ingin lebih tahu lebih dalam siapakah Furqon yang sebenarnya.
"Assalamualaikum"
Tidak ada sahutan dari Kayla, karena dirinya sedang memutar memori kejadian pertemuan tanpa sengaja dengan Furqon. Hingga tidak sadar jika ada orang yang mengucap salam.
"Assalamualaikum"
"Eh, Waalaikumsalam" balas Kayla gelagapan.
"Ustadzah Abidah silahkan masuk! Maaf tadi Kayla melamun." lanjut Kayla.
Ustadzah Abidah hanya tersenyum, ia menghampiri Kayla. Sementara Kayla ia merasa malu sendiri dan salah tingkah.
"Maaf Ustadzah ganggu kamu, Kayla. Ustadzah hanya ingin meminta tolong padamu, bisa jemput Ilyas dan Ilyasa nanti? soalnya Ustadzah ada urusan diluar pesantren nanti." ucap Ustadzah Abidah lembut.
Kayla mengangguk, "Saya akan jemput Ilyas dan Ilyasa, Ustadzah. Ustadzah jangan sungkan untuk minta tolong pada saya, justru saya malah senang bisa main bersama mereka."
"Alhamdulillah, terima kasih. Apa yang membuat kamu melamun, Kayla?" tanya Ustadzah Abidah.
Kayla menunduk, menyembunyikan malunya.
"Tidak ada, Ustadzah." elak Kayla.
Bagaimana ia bisa jujur pada Kakak Furqon sendiri, jika ia memiliki rasa pada adiknya.
"Baiklah kalau begitu, Ustadzah pamita ya. Terima kasih sebelumnya, Kayla. Assalamualaikum" ucap Ustadzah Abidah.
"Waalaikumsalam, Ustadzah." balas Kayla.
Kayla tersenyum malu, pipinya juga sudah memerah seperti kepiting rebus. Kayla pun beristigfar juga membuang pikiran tentang Furqon, lelaki yang baru ia kenal namun, sudah dapat membuatnya berdebar tak jelas.
* * * *
Dilain tempat, Furqon sedang duduk bersama Bu Nyai, Abah, juga Uminya. Mereka hanya sekedar berbincang - bincang santai diruang tamu. Hanya sesekali mereka membicarakan prihal kuliah Furqon yang dikaitkan dengan pendamping.
Hal itu tentu hanya mendapat respon datar dari Furqon. Ia belum tertarik untuk mencari calon mantu untuk Abah dan Uminya, yang kini sudah memasuki usia 50 tahunan.
Abah dan Uminya dapat mengerti Furqon, mereka juga tidak memaksakan Furqon untuk segera mencari pendamping hidup.
"Bah, Abah dan Umi tidak perlu mengantar Furqon ke bandara besok. Biar Furqon sendiri yang kesana dengan taxi." ucap Furqon.
"Baiklah, terserah kamu. Abah do'akan kamu selamat sampai Kairo, jangan lupa jika ada pemikat hati segeralah kabari Abah." ucap Abah yang dibumbui candaan.
"Aamiin terima kasih do'anya, Bah. Untuk pendamping, Furqon tidak mau ngebet nyari, Bah. Biar datang sendiri kalau memang waktunya." balas Furqon.
__ADS_1
Bu Nyai dan Uminya hanya tersenyum.
"Tapi, kamu juga harus berusaha untuk mencari. Jangan pasrah begitu saja, nanti kalau jodoh atau tidak itu urusan Allah SWT." ucap Abah kembali.
"Inggih, Bah." balas Furqon.
Tiba - tiba ada yang mengucap salam.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Abidah ayo masuk!" ucap Bu Nyai lembut.
Ustadzah Abidah mengangguk, lalu masuk dan ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Ada apa, Nduk? " tanya Abah pada menantunya.
"Abidah kesini mau pamit untuk keluar pesantren." jawab Ustadzah Abidah.
"Wah sudah mau berangkat ya, Mbak mu mana?" ucap Bu Nyai.
"Mbak Aina sudah di depan, Budhe.
Kalau begitu Abidah langsung pamit ya." ucap Ustadzah Abidah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Ustadzah Abidah pun keluar dan menuju mobil milik suaminya, Ustadz Hakam. Ustadzah Abidah, Ustadzah Aina, dan Ustadz Hakam pun pergi untuk mengurus urusan diluar pesantren.
* * * *
Dikelas Meyna kini sedang berlangsung pelajaran yang materinya adalah tentang sifat pemurah dan kikir. Berikut adalah penggalan materinya.
"Anak - anak hari ini Ustadzah akan menerangkan tentang sifat pemurah dan lawannya. Apa itu lawan dari sifat pemurah?"
"Kikir, Ustadzah." jawab santriwati serempak.
"Benar sekali! Sekarang kalian perhatikan penjelasan dari Ustadzah ya, dan buka buku kalian halaman 25." pinta Ustadzah.
Santriwati mulai membuka halaman yang dipinta Ustadzah. Setelah itu mereka mendengarkan penjelasan dari Ustadzah dengan seksama.
"Menurut bahasa, pemurah adalah orang yang suka memberi atau disebut dermawan. Pemurah berarti orang yang tidak pelit. Pemurah juga berarti orang yang murah hati. Menurut istilah, pemurah adalah orang yang suka memberi bantuan, baik harta maupun jasa kepada orang lain. Sifat pemurah dalam arti suka memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Tolong - menolong ini tertuang dalam Q.S. Al - Maidah ayat 2." ucap Ustadzah menjelaskan panjang lebar.
"Adapun keutamaan dari sifat pemurah, yakni:
__ADS_1
~Mendapat balasan dan pahala yang banyak. Allah SWT. berfirman,
" Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak." Q.S. Al-Hadid (57):11
~Mendapatakan ampunan, dijauhkan dari adzab neraka, dan dicintai Allah SWT.
Dalam sebuah riwayat disebutkan,
"Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah sebutir kurma." H.R. Bukhari dan Muslim.
~Orang yang dermawan disenangi Allah dan sesama manusia.
"Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga. Seseorang yang kurang pandai tetapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang yang alim tetapi kikir." H.R.Tabrani
"Kikir atau bakhil yaitu enggan mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki kepada yang berhak menerimanya. Orang yang kikir atau bakhil hanya akan menemui kesukaran dan terjerumus dalam perbuatan dosa, menjadi sombong, congkak, serta cinta dunia yang berlebihan." lanjut Ustadzah.
"Baiklah anak - anak itulah penjelasan tentang sifat pemurah dan kikir. Semoga bermanfaat dan jika ada yang kurang jelas, silahkan tanyakan pada Ustadzah."
"Tidak ada, Ustadzah." ucap santriwati serempak.
"Baiklah jika tidak ada, mari kita akhiri pelajaran kali ini. Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh."
"Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabbarakatuh." jawab santriwati serempak.
Teng...teng...teng
Bel istirahat pun berbunyi, para santri santriwati yang didalam kelas langsung berhamburan keluar.
"Assalamualaikum Mey" salam Tasya.
"Waalaikumsalam Sya." balas Meyna.
"Yuk kita turun!" ajak Meyna diangguki Tasya.
Mereka pun turun bersama menuju ruangan makan khusus santriwati.
Sesampainya diruang makan santriwati, Meyna dan Tasya segera mengantre untuk mengambil jatah makan. Biasanya para santri santriwati saling berebut tempat yang paling dulu, agar tidak terlalu lama menunggu.
Sebelum melahap makanan para santri santriwati diharuskan untuk membaca do'a lebih dulu, begitupun setelah makan.
.
.
.
Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!! Terima kasih:)
__ADS_1