
Lalu lalang manusia tak Fara hiraukan. Jemari tangannya menggenggam erat tali ransel yang menggantung di punggung. Matanya tak henti memandang patung merlion dengan mulut yang terus mengalirkan air.
Kerlip lampu menghias ditambah langit cerahnya. Menyenangkan. Fara terus memandangnya hingga akhirnya Fara dan orangtuanya tiba di mobil mereka. Patung merlion itu telah lenyap dari pandangannya.
Sejenak, di luar mobil Fara mengutik ponselnya. Beberapa notif pesan masuk membuat Fara gatal membukanya. Tertera nama temannya yang kini jauh darinya, di Negeri Sakura.
"Fara!"
Kontan Fara mendongak, menatap mamanya lalu papanya yang tengah memegang pintu mobil. Bersiap masuk lalu melaju ke apart.
"Ayo masuk, kita pulang." Candra pun masuk dibalik kemudi.
Dan Rika, ia tersenyum dengan anggukan saat Fara menatapnya. Rika sudah duluan berada di mobil. Akhirnya Fara masuk dan tetap sibuk memainkan ponselnya. Ponselnya lebih berarti daripada percakapan dengan orangtuanya.
Walau sepanjang perjalanan mobil terasa ramai, Fara mengabaikannya. Memilih chattingan dengan temannya yang berada di Negeri Sakura, Jepang. Mereka sengaja membuat grup agar lebih mudah berkomunikasi bertiga.
Satu, Fara.
Dua, teman perempuannya.
Tiga, teman lelakinya.
Sejak di Indonesia mereka sangat dekat. Bisa dibilang mereka adalah sahabat. Sahabat lama malah. Sebab, ketiganya satu sekolah waktu sekolah dasar. Dan akhirnya berpisah saat mereka memasuki sekolah menengah pertama.
Tuk!! Tiga orang di dalam mobil itu menoleh. Terkejut ekspresi mereka saat melihat Reynar. Kok bisa ada Reynar?
Rika menurunkan kaca mobil sampingnya. Reynar yang berada di samping kaca Fara menoleh ke depan, menatap Rika.
"Rey ... kamu kenapa bisa ada di sini?" Rika terheran Pasalnya ini itu jalanan bukan sebuah taman, toko atau apapun. Mobil Candra yang sempat berhenti sejenak itupun tak disangka akan bertemu Reynar. "Emm ... ayo masuk, Rey. Kita pulang bersama."
"Makasih ya, Tant!" Reynar mengetuk kaca belakang. Ia menatap Fara dengan dahi berkerut. Tuk!!
__ADS_1
Kali ini Fara menoleh. Ia menatap Reynar dengan dahi berkerut. "Reynar kenapa, Pa?" Fara bertanya pada Candra.
Candra menoleh ke Fara. "Bukain pintu, Fara. Reynar pulang sama kita."
Fara beralih ke Reynar lagi. Dan lagi-lagi menatapnya dengan kosong. Seperkian detiknya, ia baru membuka pintu dan bergeser. Reynar akan menempati tempatnya tadi.
*****
Pintu lift terbuka. Kini Fara dan orangtuanya juga Reynar tiba di gedung apartemen mereka. Fara menatap tetangga yang berjalan lebih dulu darinya. Sebenarnya ia masih heran karena Reynar ada ditepi jalanan tadi.
Kalau saja tadi mobil Fara tidak lewat, apa Reynar akan kenapa-napa?
Ah, mana mungkin. Reynar itu memang baru belasan tahun. Tapi, ia pandai menjaga diri karena ilmu karatenya. Fara ingat, jika dulu di sekolah dasar Reynar mengikuti ekskul karate.
Dan, apa? Reynar selalu mengharumkan nama sekolah dengan piala yang ia bawa usai lomba karate.
Ceklek!!
Saat pintu terbuka, suara Fara keluar. Sejak tadi gadis itu hanya diam. Dan kini, suaranya baru terdengar. Fara menatap heran lagi ke Reynar.
Kenapa Reynar ikutan masuk ke apartemennya?
Kenapa tidak masuk ke pintu sebelahnya?
Mengerti kenapa Fara menatap Reynar dengan tak suka, Rika pun menjelaskan pada putrinya.
"Fara?" panggil Rika di ambang pintu. Mengambil perhatian Fara dari Reynar. "Malam ini Reynar nginep di sini dulu. Apartnya lagi masa perbaikan. Ibunya juga udah bilang ke Mama, Fara."
Oh, begitu.
Fara mengangguk, paham. Ia memilih masuk lebih dulu ke dalam dengan sikap acuhnya.
__ADS_1
Siapa sih Reynar itu!? Seenaknya aja nginep di apart ini! Tetangga nyebelin kayak dia cuma ganggu doang kali.
*****
"May!!"
Teriakan Kayla menghentikan langkah Mayra yang hendak menuju masjid agung pesantren. Gadis bermukena putih terusan dengan bunga biru sebagai hiasannya, menoleh ke belakang.
"Assalamualaikum, May." Kayla tersenggal-senggal karena usai berlari.
"Waalaikumsalam." Mayra mengusap pelan punggung Kayla. "Gimana rasanya hampir telat? Enak nggak?"
Mayra menahan senyumnya. Kayla yang ditanya langsung menggeleng kuat. Ia mengangkat dua jarinya berbentuk V ke Mayra.
"Sumpah May ... nggak ada enak-enaknya sama sekali!" Kayla menekuk bibirnya ke bawah. "Bikin jantungan tahu nggak!?"
Mayra merekahkan senyum yang ia tahan. Ia dan Kayla mulai melangkah. Iqamah sudah terdengar pertanda salat subuh segera dilaksankan.
"Salah siapa coba dibangunin nggak bangun-bangun!?" Mayra masih tersenyum. Lucu saja rasanya kali ini. "Kok bisa sampai gitu? Semalem ngapain?"
"Ngerjain PR-ku yang kelupaan." Kayla menghela napas. "Gara-gara acara semalem lamanya polll."
Tepat berada di ambang pintu masjid, Mayra berbicara kembali. "Jangan nyalahin acara semalem. Itu 'kan udah biasa. Kamu-nya aja yang suka nunda-nunda, benar'kan?"
.
.
.
Lolos Revisi dari bab satu sampai sini🤩
__ADS_1