KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
40• (Ketakutan)


__ADS_3

Setiap orang punya opininya masing-masing tentang kita.


Tidak jarang jika sepanjang koridor ke kelasnya hingga Mayra tiba di kelasnya, banyak yang membicarakannya. Lagi-lagi Mayra tidak memasukkan dalam hati dengan alasan setiap orang punya opini masing-masing.


Mungkin jika Mayra tipe orang yang tempramen, ia pasti tidak akan segan untuk melabrak bahkan menghadiahi kata-kata pedas pada siapa saja yang membicarakannya. Tapi, sayangnya Mayra bukan tipe seperti itu.


Mengendalikan amarah memang sulit. Dan orang yang keren adalah, orang yang mampu memendam amarahnya meski ia mampu menunjukkannya. (#selfreminder)


Setelah kedatangan Mayra disuguhi dengan aneka opini, kini saatnya pelajaran jam pertama dimulai. Sudah melewati masa orientasi berarti pembelajaran sudah aktif dilaksanakan.


Jam pertama hari ini dibuka oleh pelajaran bahasa Indonesia, dengan guru mapel yang ramah dan penyampaian materi yang mudah dipahami. Guru seperti ini memang patut diidolakan.


Hingga jam kedua masuk dan bergulir hingga jam istirahat, seluruh siswa menghembuskan napas leganya. Berbondong-bondong siswa keluar kelas, namun tidak dengan Mayra yang sama seperti hari sebelumnya, yakni menunggu sepi lebih dahulu.


Selain akan sumpek berdesakan, Mayra juga tidak ingin sampai bersenggolan dengan siswa laki-laki yang jelas bukan mahram.


Anak pesantren memang beda, ya!


Setibanya di kantin, beberapa pasang mata memandang ke arah Mayra. Namun, lagi-lagi Mayra tidak menggubrisnya. Ia tidak ingin mengurusi orang lain. Hingga langkahnya tiba di kulkas kaca, Mayra meneliti tiap minuman. Dan, akhirnya pilihan jatuh pada sebotol air mineral ukuran tanggung.


"Ini Mbak kembaliannya."


Mayra menahan tangan ibu penjual, tanda ia menolak diberi kembalian. Dengan senyumnya Mayra mengatakan; "Sudah, buat Ibu saja."

__ADS_1


Meski hanya kembalian lima ribu rupiah, nyatanya mampu mencetak senyum lebar di sudut bibir ibu penjual tersebut.


*****


Jam waktu pulang sekolah telah tiba sejak sepuluh menit lalu. Di sebuah halte bus BRT, ada sosok gadis berjilbab dengan seragam putih abu-abu duduk diujung kursi halte. Mayra tengah menunggu bus untuk mengantarnya pulang.


Tiga tahun hidup di pesantren telah membangun kepribadian Mayra yang mandiri, dan melakukan semuanya sendiri. Termasuk pulang sekolah. Meski kakek maupun nenek menawari Mayra agar dijemput sopir, dengan halus Mayra menolaknya.


Jarang sekali ada orang seperti Mayra jaman sekarang. Apalagi rela berdesakan padahal mampu naik yang lebih nyaman tanpa perlu campur baur orang lain. Ini Mayra, bukan gadis lain. Jadi, wajar jika berbeda.


Di tengah diamnya Mayra yang sabar mananti bus, seorang remaja laki-laki berseragam putih abu-abu juga datang mendekati. Tentu, Mayra langsung berdiri dari duduknya dengan pandangan bak padi menguning.


Andai remaja laki-laki itu tahu, bahwa Mayra saat ini gemetar dan was-was. Sungguh, Mayra merasakannya hingga tangannya berkeringat.


"Ngapain jauh-jauh, sih? Duduk sini juga nggak apa-apa." Remaja laki-laki itu menggoda Mayra, terlihat dari nada suaranya.


"Nunggu bus, ya? Daripada naik bus panas, mending aku anterin, ya?" Ternyata remaja itu benar-benar calon buaya darat. Kekeuh meski ditolak.


Lagi, Mayra menggeleng. "Ada AC, jadi tidak panas."


"Malu-malu segala, ayok lah—"


Sebelum remaja itu menyelesaikan kalimatnya, datang satu lagi remaja laki-laki berseragam putih abu-abu mendekat. Mayra ditempatnya semakin gemetar ketakutan dan was-was.

__ADS_1


Ia berharap, ini segera usai. Ia berharap bus yang dinanti segera tiba. Mayra berdo'a dalam hatinya tanpa henti.


"Siapa lo!!?!" Remaja SMA yang menggoda Mayra itu bertanya tak suka pada remaja sebaya dihadapannya.


Namun, yang ditanya hanya mengangkat alisnya satu. Lalu, ia menampar wajah remaja buaya darat di depannya.


"KURANG AJARRR!!" Remaja buaya itu tak terima ditampar, ia menonjok remaja sebayanya cukup keras.


Bugh!!


Mayra benar-benar ketakutan, namun saat itu pula bus datang dan ia langsung naik. Bus berjalan begitu saja. Mayra tidak peduli dengan dua remaja laki-laki yang berkelahi di halte bus. Namun, ia berharap ada orang yang akan melerai mereka.


Meski sudah di dalam bus, Mayra tetap ketakutan dan was-was. Ia menautkan jemari-jemarinya sendiri, mencoba mengurangi gemetarnya.


"Nggak pa-pa, Dek?"


Mayra mendongak. Ada seorang petugas semacam kondektur namun penampilannya rapi, menanyainya. Sepertinya ia tahu jika Mayra sedang ketakutan.


Mayra hanya menggeleng. Baginya itu sudah cukup. Rasa was-wasnya jauh lebih besar daripada keberaniannya saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Lolos revisi 16 Juni 2021


__ADS_2