
Jika mengingat tiap usikan dari seseorang yang tidak Mayra ketahui pasti, hanya helaan napas berat yang keluar. Mayra adalah tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaannya, jadi meski tadi di sekolah sempat mengalami masalah. Sesampainya di rumah ia terlihat biasa saja.
Baik kakek atau nenek, mereka pun tidak mengira jika Mayra di sekolahnya mendapat masalah dari teman-temannya. Ya, kakek dan nenek selalu mengira Mayra baik-baik saja di sekolahnya. Tapi, nyatanya cucu satunya ini selalu diusik terutama oleh fans Zikra.
Dan, Mayra tidak pernah menduga jika ia akan berada di titik, di mana ia seolah dibenci dengan usikan yang hampir setiap hari diterimanya. Namun, Mayra tidak pernah mengeluh atau pun mengadu pada Zikra. Tidak pernah.
Meskipun sejak pulang sekolah tadi, Mayra merasa lelah lebih dari biasanya, ia tetap seperti biasanya kala di rumah. Membantu ART-nya, menyiram tanaman kesukaannya di taman, hingga pergi kajian jumat rutin di masjid perumahan bersama sang nenek.
Ceklek!
Mayra membuka pintu kamarnya. Ia sudah rapi dengan blouse panjang warna putih, yang dipadukan dengan rok dan jilbab segiempat warna abu-abu. Ya, seperti biasa penampilannya, tidak pernah luput dengan kesan muslimah.
"Udah mau berangkat, May?"
Suara itu membalikkan Mayra untuk menoleh ke samping. Mayra mengangguk, matanya menatap Fara yang terlihat baru bangun tidur siangnya.
"Jangan lupa salat asar-nya, Ra. Aku berangkat dulu."
Mayra melangkah pergi, menghampiri sang neneknya. Namun, baru beberapa ia melangkah, suara Fara menghentikan kembali.
"May ..."
"Iya, Ra?" Mayra menoleh ke belakang dengan senyum manisnya.
"Kamu nggak pa-pa?"
Mayra semakin melebarkan senyumnya, ia mengangguk sebagai jawaban. "Mau ikut sekalian?" tawar Mayra kesekian kali.
__ADS_1
Sebelumnya ia pernah mengajak Fara untuk pergi ke kajian yang tentunya memiliki banyak manfaat dan pelajaran yang dapat diunduh dari ceramah sang ustad. Tapi, Fara selalu menolak dengan berbagai alasan. Misalnya; Nggak ah May, mager atau *La*gi nggak mood, lain kali aja atau Datang bulan, May.
Tawaran Mayra disambut cengiran Fara, gadis itu kembali masuk ke kamarnya. "LAIN KALI, YA, MAY!" Teriaknya dari dalam kamar.
******
Senja menyingsing. Kajian yang dilaksanakan rutin di Jumat sore, yang telah dimulai sejak dua jam lalu kini telah usai.
Di antara khalayak jama'ah yang hendak pulang ke rumah masing-masing, terselip gadis berjilbab abu dengan menggandeng seorang wanita paruh baya. Menuntun menuruni tangga masjid perumahan.
"Seandainya Fara seperti kamu, Mayra. Nenek pasti senang sekali."
Ucapan nenek disambut senyum Mayra. Tidak heran jika terkadang neneknya geram pada Fara, yang sulit diajak ke acara-acara yang begitu mendamaikan hati dan memberi pelajaran hidup. Ya, kajian.
"Dulu, saat kamu mondok dan Fara ke sini. Nenek sampai syok melihat gaya pakaiannya, yang kental dengan budaya barat."
Mayra kembali tersenyum. Matanya menyaksikan dedaunan yang gugur dan terbang bebas dibawa angin. Sejak perjalanan pulangnya, Mayra hanya diam. Justru neneknya yang banyak bicara.
"Mayra, kamu mau 'kan bantu Fara untuk berubah menjadi sepertimu?"
Nenek berhenti membuat Mayra berhenti. Sorot mata nenek begitu yakin jika Mayra bisa mengubah Fara.
"Insya Allah, Nek. Tapi, sebaiknya jangan terlalu memaksa Fara berubah. Dia sudah nyaman dengan dirinya yang saat ini."
Nenek menghela napas. Mungkin kurang setuju dengan Mayra. Baiklah, tiap orang berhak beropini. Kini nenek kembali melangkah begitu pula Mayra.
Saat itu pula, Mayra melihat sosok pemuda yang ia kenali tengah duduk di atas motornya dengan memeluk helm. Mayra menunduk, sebentar lagi ia akan melewati pemuda itu.
__ADS_1
"Mayra Athifa."
Detik itu jua, Mayra dan nenek berhenti melangkah. Menoleh ke pemuda yang kini telah berdiri. Nenek menatap Reynar, ya itu Reynar! Dan Mayra bergantian.
"Halo, Nek. Saya temannya Mayra."
Reynar mengecup punggung tangan nenek. Membuat Mayra semakin menunduk. Saat ini banyak pertanyaan menyerbunya.
"Teman?" Nenek tampak tidak percaya saat Reynar mengatakan 'teman Mayra'. Lihat saja, perbedaan di penampilan Mayra dan Reynar begitu mencolok. Mayra dengan busana tertutupnya. Dan, Reynar dengan busana khas millenial ditambah tindik kecil di telinga kanannya.
"Kamu! kamu yang bantu nenek waktu itu, tah?"
Lamat mengamati Reynar, membuat nenek ingat sesuatu. Dan detik itu membuat Mayra terkejut sekaligus menemukan fakta baru, jika Reynar-lah 'anak baik' yang menolong nenek tempo hari.
Reynar tersenyum. Nenek pun tersenyum bersamanya. Sungguh nenek tidak menyangka jika pemuda yang menolongnya kini ada dihadapannya.
"Ayo, Nak kita ke rumah nenek. Kamu katanya teman Mayra 'kan, ya sudah ikut kami, ya?"
Hah?!
.
.
.
Lolos revisi 22 Juni 2021
__ADS_1