
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa jika Mayra harus kembali bergelut dengan dunia pendidikan. Di bawah langit pagi yang dirundung awan hitam, gadis berjilbab segiempat putih dengan seragam putih abu-abunya berlari kecil untuk menepi dari terpaan air hujan.
Sesampainya di koridor kelas sepuluh, Mayra mencari mading untuk mencaritahu kelasnya. Banyak gerombolan lelaki dan perempuan menutupinya untuk melihat mading. Membuat Mayra lebih baik menunggu daripada ikut berdesakkan.
Sembari menunggu lenggang, Mayra memainkan jemarinya. Ia tengah berdzikir.
Hingga grombolan para siswa melenggang, barulah Mayra mendekati mading. Setelahnya, ia menyusuri koridor kelas sepuluh untuk mencari kelasnya.
Setibanya di kelas yang Mayra rasa itu kelasnya, beberapa pasang mata justru memandang ke arahnya. Namun, Mayra tetap berjalan memilih tempat duduk yang kosong dan juga yang tidak dekat siswa lelaki.
******
"Where do you want to go?"
Mimik sedih di wajah Zea terpancar. Gadis Amerika yang tinggal di Singapura itu merasa tidak rela saat bertemu Fara di depan apart-nya yang ternyata akan pergi.
Fara tak terbawa suasana. Ia hanya menggumam tanda respons-nya. Setelahnya ia mengikuti orangtuanya yang telah jalan lebih dulu.
Zea, gadis Amerika berkacamata itu mengekori Fara dengan meremas sebuah kertas yang ia genggam. Ntah mengapa gadis itu mudah sekali memupuk air matanya. Hanya tahu Fara akan pergi, ia hampir menangis. Padahal, selama ini mereka tidak dekat. Fara saja selalu tidak menganggap Zea.
__ADS_1
Sebelum Fara masuk ke dalam taxi, Zea menarik baju yang dikenakan Fara. Membuat gadis berrambut kecoklatan hampir sepunggung itu menoleh ke belakang.
"You gone long, Fara?" ujar Zea gemetar, menahan air matanya agar tak menetes. Tangannya meremasi kertas yang digenggam dari tadi. "I miss you. Hurry back!"
Fara menghela napasnya, ia jengah dengan Zea yang masih kekanak-kanakan, menurutnya.
"We were never close, right?" kata Fara ketus. "Why are you telling me to hurry back!?"
Fara menekankan kata 'hurry back' pada Zea. Dan Zea, ia kini justru memeluk Fara sembari meneteskan air mata. Hal yang mengejutkan bagi Candra dan Rika yang menunggu putrinya di dalam taxi.
"Yes Fara, yes so far we've never been close! But, I ... I ..." Zea terisak hingga tak mampu melanjutkan kalimatnya lagi.
Fara menghela napas. "Go!" titahnya ke Zea.
Zea tak menggubris. Ia masih menatap Fara dengan mata berairnya. "Fara—"
"GO ZEAA!!"
******
__ADS_1
Saat ini, di kelas Mayra, seluruh perhatian penghuni kelas tak terkecuali terpusat pada sosok gadis berjilbab, dia Mayra. Karena Mayra tadi bersuara memanggil wali kelasnya.
Mayra yang sebelumnya harus duduk dengan siswa lelaki kini memberanikan diri untuk mengajukan keberatannya. Mayra berdiri dari duduknya, ia menatap wali kelasnya penuh hormat.
"Saya bisa pindah tempat duduk, Bu?" kata Mayra membuat semua penghuni kelas melongo.
Bukan apa-apa, pasalnya sejak masa orientasi sekolah waktu lalu Mayra-lah siswi yang banyak diam dan baru kali ini siswa lain mendengarnya bicara. Mungkin siswa lain menganggapnya aneh, tetapi aslinya wajar-wajar saja. Juga, Mayra tidak pertama kali ini bicara. Hari sebelumnya pun ia bicara.
Kalau tidak bicara, bagaimana Mayra hendak bertanya?
Perempuan berjilbab yang merupakan wali kelas Mayra di kelas sepuluh ini hanya mengiyakan Mayra. Dan, jadilah Mayra pindah ke bangku paling belakang dan duduk seorang diri. Sebab, jumlah seluruh siswa di kelasnya berjumlah ganjil.
.
.
.
Lolos revisi 14 Juni 2021
__ADS_1