
Mentari teronggok di timur. Sejuk embun mulai menyeruak, memberi rasa damai sejenak. Kicauan burung dan kokokan ayam sahut-menyahut. Mengisi pagi yang baru tiba.
Para santri-santriwati tampak berbaris panjang menunggu giliran mandi. Jika ada yang terlalu lama maka sorakan akan ia dapat dari luar. Pintu terkadang diketuk menerus membuat pagi yang disambut senyum berubah disambut sebal.
Dok!! dok!! dok!!
Di area santriwati. Gedoran pintu terdengar ke telinga Kayla yang masih bersiap di dalam kamar mandi. Tangan gatal yang suka mengedor-gedor pintu bahkan tak segan berteriak ribut.
"ADUH KAYLA, CEPETAN KELUAR!! NGAPAIN SIH DI DALAM!!? BURUAAAN!!"
Beberapa santriwati di belakang Safa menutup telinganya. Bahkan menjauhkan diri dari suara cempreng itu. Tak lama Kayla keluar, wajahnya ditekuk kesal karena ulah Safa.
"Ngapain lama banget??! Mayra aja udah keluar daritadi, padahal kalian tadi masuknya bareng!!" omel Safa.
Kayla menghela napasnya. Harus triple sabar buat adepin orang kayak Safa. Walau nyebelinnya nggak ketulungan. Tapi ia masih termasuk sahabatnya.
Kayla melewati Safa. Tepat di samping telinga Safa, Kayla berteriak. "IKH SAFA CEPETAN MASUK!! KEBURU TELAT NIIHHH!!"
"Kaylaaaa...!!!" Safa menggeram kesal.
Aksi mereka bak tontonan pagi di depan kamar mandi. Yang lain tak mungkin melerai karena memang dasarnya, dua gadis satu ini selalu begitu. Jadi, apa gunanya dilerai?
__ADS_1
Menuju kamar asramanya di lantai dua, Kayla terus menggerutu dalam hati. Pagi-pagi Safa sudah bikin naik darah. Nanti sore bisa-bisa bikin naik ubun-ubun.
Gerutu Kayla terjeda kala seseorang di pembatas area santri putra dan putri memanggilnya sedikit lantang. Kayla menoleh cengo mendapati Abyaz ada di sana. Sudah lengkap dengan buku dan seragam ke madrasah.
"Manggil aku?" Kali ini suara Kayla terdengar lirih membuat Abyaz mengerutkan dahinya.
"APA!?"
Astagfiirullah. Kayla terpelonjak kaget mendengar Abyaz bicara lantang. Kontan beberapa santri di dekat Abyaz memandangnya. Begitupun dengan Kayla.
Nahasnya, saat itu di dekat Kayla ada ukhti Indah—pengurus asrama putri— berjalan di sana. Hal itu membuat Kayla mati kutu di tempatnya. Ia menepuk dahinya. Gawat.
Dan Abyaz, yang melihat pengurus asrama putri yang bisa saja melihatnya langsung pergi begitu saja. Ia tak mau jika paginya disuguhi hukuman.
"Waalaikumsalam, ukhti." Kayla meremas ujung jilbab segiempatnya. "Ukhti kok di sini? Ke-kenapa?"
"Lho, harusnya ukhti yang tanya gitu ke kamu. Kenapa di sini? Kenapa belum berangkat ke madrasah?"
Kayla terpojok. Ia harusnya tak memilih pintu lain menuju asrama. Nahas pagi ini, sungguh!
"Ukhti, saya ke asrama duluan, ya?" Kayla ingin kabur secepatnya. Kalau bisa detik ini juga. "Saya mau siap-siap ke madrasah."
__ADS_1
Hampir saja Kayla lolos jika Safa tak hadir tiba-tiba di sana. Kalimat yang dilontarkan Safa membuat Kayla kicep. Dalam hatinya saja yang berani bicara. Sungguh, dua kali ini Kayla menggeruti Safa.
Jangan izinin, ukhti!
Kayla tadi itu ngintip-ngintip ke area santri putra. Dia juga sempat ngobrol sama santri putra yang lewat. Beneran, ukhti!
"Astagfiirullah..." Kayla mengelus dadanya agar tenang. Bel masuk di madrasah telah berbunyi sepuluh menit lalu. Tentu para santri-santriwati sudah berada di madrasah.
Namun, tidak bagi Kayla. Ia justru saat ini tengah berada di depan gedung asrama putri. Kayla dihukum ketahuan curi kesempatan di area santri putra. Itu membuatnya harus berdiri di atas kursi dengan berkalung tulisan 'Saya ngintipin santri putra pagi-pagi'.
Sungguh memalukan!
Semua gegara Safa, nih! Ngeselinnya kebangetan dia. Ya Allah, kenapa Mayra abis mandi nggak nongol lagi, ya? Dia udah ke madrasah duluan apa, ya? batin Kayla menjerit.
.
.
.
Buat yang berjuluk SANTRI, hallow!!
__ADS_1