KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
46• (Insiden)


__ADS_3

"Aduh!"


Fara mengeluh. Baru saja ia ditubruk seseorang.


"Eh ... maaf-maaf."


"FARA!"


Dua orang di sana menoleh. Ada Mayra yang berjalan sedikit cepat ke arah mereka dengan menunduk. Setibanya di dekat Fara, Mayra mendongak.


"Kamu nggak apa-apa, Ra?"


Fara tersenyum tipis dengan gelengan kepala. Jadi, Mayra juga melihat scene tabrakan tadi? Ntah mengapa melihat raut cemas Mayra membuat Fara rasanya ingin terus tersenyum.


"Jangan khawatir gitu, May. Nanti aku ge-er lagi," kata Fara masih setia tersenyum.


Mayra ikut tersenyum lalu menggeleng pelan. "Jadi ke kantin nggak ini?" tanya Mayra.


Belum sempat Fara menjawab. Suara seseorang membuat keduanya terkejut.


"Dari tadi jadi nyamuk, ya."


Itu suara dari siswa yang tidak sengaja menubruk Fara. Kalimat sindiran siswa tersebut tidak direspons baik Mayra maupun Fara. Karena tidak direspons, siswa lelaki itu kembali angkat bicara.


"Eh, kalian mau ke kantin, ya? Boleh barengan nggak?" Begitulah katanya.


Fara dan Mayra sama-sama terkejut, tidak menyangka. Fara melirik Mayra yang terus menunduk. Percayalah, Mayra benar-benar ingin menjadi sebatang padi yang menguning.


"Kalian kok diam? Nggak boleh, ya?" kata siswa lelaki itu kembali. "Eh, lo cewek yang di perpus gak jadi itu, 'kan?!"


Fara memilih memalingkan wajahnya ke arah lain saat matanya bertemu dengan mata siswa lelaki tersebut. Kalau Mayra, tentu tidak mungkin karena ia dari tadi menunduk.


Tanpa tiga orang itu tahu, para siswi sudah bergosip ini itu tentang apa yang mereka lihat. Tentu gosip ketidaksukaan mereka saat melihat Mayra dan Fara berbicara dengan kakak kelas populer itu.

__ADS_1


"Bukannya kami tidak mau, cuma kita bukan mahram." Mayra berbicara.


Deg!! Siswa lelaki itu terkejut bukan main. Namun, detik setelahnya ia mengulas senyum yang langsung direspons jeritan oleh para fans-nya. Wajarlah, siswa populer.


"Cuma bareng ke kantin aja kok, nggak lebih dari itu. Boleh?"


Akhirnya, diiyakan. Tentu Mayra dan Fara yang diekori oleh siswa populer itu menarik perhatian warga sekolah serta keiriannya. Siapa coba yang tidak mau berjalan bak dikawal pangeran? Kenapa bisa dikawal pangeran? Ya, karena Mayra dan Fara berjalan lebih dulu sedangkan siswa itu berjalan di belakang.


Setibanya di kantin, perhatian tetap berpusat pada Mayra, Fara dan siswa populer tersebut.


"Thanks, udah diizinin bareng ke sini," kata siswa populer itu. "Oh, ya kenalin nama gue Zikra. Kelas dua-belas."


"Fara, Kak."


Kalau Fara membalasnya, tidak bagi Mayra. Ia justru berjalan meninggalkan Fara dengan siswa populer sekaligus kakak kelasnya—Zikra. Fara pun mencebik kecil. Lalu, ia menyusul Mayra.


******


"Nek, aku ada yang ketinggalan. Nenek di sini dulu nggak pa-pa?"


"Iya Mayra, ambil dulu sana. Nenek tunggu di sini."


Saat itu juga Mayra pergi meninggalkan neneknya yang berada di parkiran minimarket seorang diri. Cepat-cepat Mayra kembali ke dalam minimarket untuk mengambil barang yang ketinggalan.


"Maaf, ya, Mbak, saya malah ninggalin belanjaan saya. Makasih, ya, Mbak," kata Mayra pada kasir minimarket.


Setelah itu Mayra bergegas menyusul neneknya yang berada di parkiran minimarket. Pandangan Mayra yang tadinya menatap kantong kresek, meneliti barang. Kini lurus ke depan. Tetapi, saat ia keluar dari minimarket, ia tidak menjumpai neneknya.


Bukankah tadi neneknya menunggu di parkiran?


"Astagfiirullah, nenek ke mana!?!"


Mayra kalang kabut. Namun, ia membeku kala melihat ke sebrang jalan, tepatnya disebuah halte. Ada beberapa orang berkerumun di sana. Ada apa?

__ADS_1


Nenek?


Mayra langsung menyebrang dengan hati kalang kabut dan tidak tenang. Ia benar-benar khawatir akan neneknya yang tiba-tiba tidak ada di parkiran.


Mayra mencoba mencari celah dari kerumunan orang tersebut. Hingga ia berhasil melihat apa yang dikerumuni orang-orang, ia membeku kembali. Setetes air mata turun. Mayra menutup mulutnya. Keadaan semakin memanik saat itu juga.


"Nenek??!"


Mayra menjauh dari kerumunan tersebut. Ia semakin panik karena tidak melihat tanda-tanda neneknya.


"Mayra!"


Mayra menoleh ke samping. Tanpa aba ia langsung memeluk neneknya yang tersenyum hangat ke arahnya. Syukur neneknya tidak apa-apa. Tadinya ... Mayra sempat berpikir buruk tentang neneknya. Astagfiirullah!


"Nenek ke mana aja? Mayra panik banget."


"Tenang, Mayra. Nenek di sini." Wanita paruh baya itu mengelus kepala Mayra yang dibalut jilbab. "Tadi nenek kejar jambret yang hampir aja ngambil dompet nenek. Tapi ... untungnya ada anak baik yang nolong nenek."


"Innalillahi! Tapi, nenek nggak apa-apa, 'kan? Nenek nyebrang jalan sendiri?"


Nenek menggeleng. "Anak baik tadi yang bantu nenek nyebrang jalan, Mayra. Nenek yang nyuruh dia karena nenek lihat kamu di sini."


"Anak baik itu siapa, Nek?"


"Nenek tidak tahu. Tidak sempat bicara lebih."


"Yang penting Nenek nggak apa-apa. Maafin Mayra, ya, Nek."


"Kenapa minta maaf? Ini musibah, Nak."


.


.

__ADS_1


.


Lolos revisi 18 Juni 2021


__ADS_2