KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
16• (Perpustakaan)


__ADS_3

Esok hari, dijam istirahat, Mayra dan dua sahabatnya pergi ke perpustakaan gedung asrama putri. Tidak biasanya lho kalau Kayla mau kemari. Padahal, gadis itu selalu punya seribu cara agar dapat lolos dari tempat yang dipenuhi anrka ragam buku.


Mungkin karena hampir ujian kelulusan, jadi Kayla terima tawaran Mayra.


Sampai di perpustakaan yang diisi oleh santriwati saja, tiga gadis yang baru masuk berpencar mencari buku yang menarik untuk dibaca. Mayra sendiri, dan Safa diekori Kayla. Ntah mengapa Kayla seperti itu.


Hingga akhirnya Safa geram karena Kayla hanya mengekorinya dan tak ada satu pun buku yang dipilihnya. Safa menghentikan aktivitasnya. Menoleh ke belakang yang disambut ekspresi heran Kayla.


"Kenapa?"


Satu kata pertanyaan terlontar dari mulut Kayla. Yang ditanya memejamkan mata sejenak lalu menghembuskan napasnya. Seolah dadanya terasa sesak berat.


"Daritadi kenapa kamu ngikutin aku mulu, sih, Kay!?" tanya Safa tak santai. Tepatnya geram. "Tadi ditawarin iya aja. Sekarang sampai perpus malah kayak orang ilang, ngikutin mulu."


Kayla menatap dua rak buku yang lebih tinggi darinya disisi kanan-kiri. Ada banyak buku di sana. Dari sejarah Islam, ilmu tajwid, bahasa Arab, Fikih, akidah akhlak hingga nahwu shorof pun tersedia. Tinggal dipilih, baca, tanpa bayar.


Terus, susahnya apa?


Kayla memandangnya lama hingga lagi-lagi Safa berdecak kesal. Itu pun dibalas Kayla dengan cengengesan tak jelas.


"Kayaknya aku nggak terbiasa ada di perpus deh." Kayla tersenyum canggung. "Aku mending ke kelas atau ke taman atau ke lapangan aja deh, ya?"


Kayla berjalan mundur. Tiba-tiba ia merasa ingin kabur dari perpus sekarang juga.


"Kay—"

__ADS_1


"Jangan cegah aku, Saf! Aku balik aja. Nggak nyaman di perpus. Aku nggak biasa di sini."


Belum juga Safa bicara lebih, Kayla lebih dulu memotong dan terus berjalan mundur. Perlahan tubuhnya membentur seseorang di belakangnya. Kayla merasa sakit dibagian kepala belakangnya. Dan orang yang ia tabrak sakit di dahinya hingga diusap-usap.


"Tuh 'kan nabrak, Kay!" Safa menghela napas. Bukan ia tadi ingin mencegah tapi ia hanya ingin memberitahu jika Mayra berdiri di belakangnya. "Kebiasaan kalau orang ngomong main dipotong-potong kayak daging cincang!"


Kayla cengengesan menatap Mayra. "Maaf ya May, nggak sengaja kok. Double suer deh!"


Mayra mengangguk. Hanya tubrukan tak sengaja tak akan memancing emosinya. Ejekan pun Mayra tak marah. Ketika ia diejek ia akan tetap diam. Agar urusannya tak memanjang.


"Kamu mau ke mana, La? Kok jalan mundur gitu?" tanya Mayra.


Safa mendahului Kayla yang ingin bicara. "Kata Kayla, dia mending di kelas atau taman atau lapangan aja, May. Dia mggak biasa di perpus."


"Perpus umum buat siapa aja, La. Kenapa ngerasa gitu?" kata Mayra. "Di sini tempat menambah ilmu. Buku jendela dunia, La."


******


Kelas bercat putih gading itu tampak tertib sekalipun tak ada ustadzah di sana. Walau santriwati saling bicara, tapi keadaan kelas aman. Tak ada suara gaduh. Semua santriwati berada ri bangku masing-masing.


Menunggu kehadiran ustdazah Aina, Mayra dan dua sahabatnya memilih saling bertanya. Tepatnya Kayla yang selalu bertanya dan Mayra, Safa mereka yang akan menjawabnya.


"Ikh, May!" desis Kayla. "Berarti tadi aku salah jawab, ya?"


Safa menyahut, "Jelas salahlah! Makanya, hobi itu jangan bikin orang kesal. Tapi, mending bikin orang bahagia, aman, sentosa."

__ADS_1


Seketika Kayla melotot ke Safa. Jaga ya bicaranya! Kayla memalingkan wajahnya ke Mayra lagi.


Mayra tersenyum tipis. "Yang benar itu Haydar bin Abu Thalib."


Tiga gadis itu tengah tebak-tebakan tentang *Khulafaur Rasyid*in. Jumlahnya ada empat orang sahabat Rasul. Ada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.


Abu Bakar yang rela mengorbankan hartanya demi membantu jalan dakwah Rasulullah. Yang senantiasa melindungi Rasulullah. Abu Bakar termasuk Assabiqunnal Awwalun— orang yang pertama kali masuk Islam.


Ada juga Umar bin Khattab. Beliau awalnya memusuhi Rasulullah. Tapi Allah, Dia memberi hidayah pada Umar bin Khattab hingga akhirnya menjadi sahabat Rasulullah, yang terkenal pemberani.


Di masa pemerintahannya pun Umar dikenal sebagai khalifah yang dekat dengan rakyatnya. Beliau berkeliling tiap malam untuk memastikan rakyatnya tercukupi. Beliau juga pernah memikul karung gandum sendiri untuk diberikan pada rakyatnya yang membutuhkan.


Ada pula Utsman bin Affan. Beliau dikenal sangat dermawan. Beliau sahabat sekaligus menantu Rasulullah Saw. Utsman memiliki julukan Dzunnurrain— pemilik dua cahaya. Sebab Utsman memiliki julukan itu karena beliau menikahi dua putri Rasulullah, yaitu Ruqqayyah dan Ummu Kultsum.


Terakhir, Ali bin Abi Thalib. Imam dari Fatimah Azzahra binti Muhammad Saw. Diusia belianya beliau telah mempercayai ajaran yang dibawa Rasulullah. Beliau pemuda cerdas. Namun sayangnya, saat beliau menjadi khalifah, banyak yang menentangnya walau ada juga yang berpihak padanya.


Ali bin Abi Thalib pernah terlibat perang dengan Aisyah —istri Rasulullah— dalam perang Jamal. Dinamakan perang Jamal karena saat itu Aisyah menunggangi unta. Jamal adalah bahasa Arab yang jika diartikan ke bahasa Indonesia artinya unta.


.


.


.


Tersisip ilmu untuk kamu yang baca chapter ini. Moga manfaat🤗

__ADS_1


__ADS_2