
"Nothing."
Dari kejauhan Fara menghela napas sangat panjang. Menyaksikan tingkah konyol Reynar membuat ia ingin menghadiahkan bogem padanya. Sungguh, temannya satu ini tak biasa. Sungguh menguras emosi.
"Your girlfriend so beautiful."
Kalimat itu terlontar dari mulut bobrok Reynar. Dan berhasil menarik pelototan mata dari lelaki bule itu. Reynar pergi setelah itu, tak peduli pada dua bule tadi.
"Gue nggak berhasil nemuin tuh foto." Reynar duduk di samping Fara. Mereka berada di taman depan gedung apartemen. Tujuannya masih tetap mencari foto yang dihempas angin.
Fara memukul lengan atas Reynar. Ia ingin sekali mengujani temannya itu dengan ratusan pukulan. Tapi sudahlah, tahan saja.
"Apaan main mukul gue, Ra!!?" geram Reynar. Ia menatap Fara dengan dahi berkerut.
Fara menghela napasnya lagi. Di dekat Reynar memang membuatnya cepat lelah. "Kita pulang."
Fara bangkit, hendak pergi namun dicegah dengan pertanyaan yang Reynar ajukan.
"Stop nyari, nih!?" Reynar masih duduk. Hanya memandang Fara yang sudah berdiri membelakanginya. "Lo nyerah gitu aja? Sia-sia dong gue bantu nyari, kalau yang ngajak nyerah duluan."
Detik itu juga Fara kembali duduk di tempat semula. Ia memandang lurus ke depan. Hanya matanya yang mengarah ke depan, tapi pandangannya kosong. Sorotnya semu.
__ADS_1
"Mungkin foto itu kelihatan biasa. Tapi sebenarnya nggak, Rey. Foto itu berarti menurutku." Fara mengeluarkan isi hatinya tanpa dipinta. Ya, mungkin itu isi hatinya yang mengartikan foto yang hilang sebagi hal berarti untuknya.
"Gue nggak nanya. Ngapa lo cerita?" kata Reynar enteng.
Fara memejamkan mata sejenak. Lalu, menoleh malas ke Reynar. "Bisa nggak sih jadi cowok yang enak diajak curhat? Ngeselin banget dari dulu!" sungut Fara.
"Huh!" Reynar menyandarkan kepalanya di kepala kursi. "Lanjutin, gue dengerin nih."
Fara kembali memandang kosong ke depan. Sedang menyiapkan diri untuk bercerita kembali.
"Nggak mungkin kenal 'kan sama cewek kerudung marun di foto tadi?" tanya Fara tak menoleh sedikitpun. Tanpa menunggi jawaban Fara kembali bicara. "Dia saudaraku, anak Om Heru kakaknya Papa. Namanya Mayra."
"Terus?" Reynar mulai tertarik untuk mendengarkan lebih.
"Dia sekarang udah yatim-piatu. Om Heru dan Tante Ratna ninggalin anaknya tepat di hari kelulusan sekolah dasar."
Fara menjeda sejenak. Buliran air mata terasa siap meluncur dari pelupuk.
"Di saat semuanya bahagia, cuma dia yang nggak. Bayangin aja diusia yang masih kecil orangtuanya dipanggil. Nggak kebayang betapa rapuhnya dia, Rey."
Reynar mengangguk samar walau Fara tak melihatnya. "Sekarang dia di Indo cuma sama kakek lo?"
__ADS_1
Fara mengangguk. "Tapi, kakek masukin Mayra ke pesantren supaya bisa bangkit lagi. Dia itu orangnya ceria. Murah senyum. Berarti buat aku."
"Sekalipun orangtuanya nggak ada, dia kelihatan fine-fine aja. Aku iri sama Mayra, Rey...."
Dahi Reynar berkerut. Ia tak mengerti Fara bicara seperti itu, maksudnya apa? Iri sama saudaranya yang yatim-piatu, kenapa?
"Lah, kenapa gitu?" tanya Reynar. "Harusnya lo itu bersyukur masih ada orangtua. Ini malah kebalikannya. Iri sama saudara lo yang yatim-piatu."
Fara tersenyum tipis. Reynar tak melihatnya karena Fara daritadi memandang lurus ke depan tanpa menoleh.
"Nggak usah dijelasin. Nggak akan paham, Rey." Fara menjeda suasana senja yang tenggelam dalam memori lama. "Dan sekarang tahu 'kan arti polaroid photo itu?"
Reynar mengangguk. Ia menarik dirinya agar duduk tegap. "Sorry deh. Lagian bukan kesalahan gue, Ra. Angin tuh yang nerbangin."
Fara hanya tersenyum. Masih betah meluruskan pandangannya ke depan.
.
.
.
__ADS_1
Lolos revisi dari aku, ya😇