KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
42• (Meeting and request)


__ADS_3

"Makasih."


Blush!! Mendadak hati remaja laki-laki itu berdebar aneh. Ia pun rasanya ingin mengembangkan senyumnya. Namun, ia masih sadar bila ada gadis dihadapannya. Jadi, ia hanya bisa menahan senyum itu dan berdehem.


"Mayra ...."


Mayra dan remaja laki-laki itu menoleh ke belakang. Namun, bagi si pemilik suara pemandangan di depannya itu mengejutkan. Waktu seperti berhenti saat ini.


Fara.


Ia yang memanggil Mayra. Dan kini, ia tidak bergeming sembari berjalan pelan menghampiri Mayra yang berada di luar gerbang rumah. Meski yang Fara panggil adalah Mayra, tapi yang ia tatap remaja lelaki di belakang Mayra.


"Kenapa, Ra?"


Mata Fara terkerjap. Ia tersadar dari lamunannya. Fara menatap Mayra, ia tersenyum tipis.


"Se-sejak kapan pulang, May?"


Sesekali Fara melirik remaja lelaki di sana. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba mengambang di hatinya. Remaja itu mengingatkannya akan seseorang. Remaja itu mengingatkannya agar segera kembali ke Tanah Air.


"Baru, kok," kata Mayra. Ia menggandeng tangan kanan Fara. "Yuk masuk, Ra."


Fara mengangguk tetapi padangannya menatap ke punggung remaja laki-laki yang perlahan menjauh darinya. Remaja itu benar-benar orang yang ingin ia temui. Fara pun tidak menyangka bisa dipertemukan sejenak dengan remaja itu.


Remaja itu?


Reynar.


******


Malam tiba, usai melaksanakan salat isya' seluruh anggota Pernama turun ke meja makan untuk makan malam bersama. Sekalian, Candra ingin mengatakan pada papanya soal ia dan keluarganya.


Di antara dentingan sendok-garpu dengan piring, senyap mengisi. Sejak makan malam dimulai hanya ada percakapan sedikit dan hingga saat ini tidak ada percakapan kembali.


Candra, usai meneguk air putihnya. Ia menatap papanya yang masih menikmati makan malam.


"Pa ..."

__ADS_1


Kakek mendongak. Menghentikan aktivitas makannya dan meneguk air putih di dekatnya.


"Mungkin kami tidak akan lama di sini, mungkin minggu besok kami akan pulang ke Singapura," ujar Candra. "Bagaimana menurut Papa?"


Kalimat Candra membuat nenek dan Mayra ikut menghentikan aktivitas makannya. Mereka memilih menyimak percakapan Candra dan kakek.


"Itu keputusanmu ... jadi, terserah kau saja. Papa tidak melarangmu."


"Makasih, Pa."


Detik itu juga, Mayra menatap ke arah Fara. Begitupun Fara. Namun, persitatapan itu tidak berlangsung lama karena Fara cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


Mayra bergumam sedih dalam hati, "Aku pikir kamu akan di sini, Ra. Ternyata kamu akan jauh lagi."


Fara menatap sendu Mayra yang tengah menunduk. Jujur, selain Fara senang bisa berlama-lama di Tanah Air. Ia juga ingin bertemu dengan Reynar. Apalagi ia juga ingin meolontarkan maaf mengingat pertemuan terakhirnya dengan Reynar tidak baik.


"Pa ..."


Suara Fara memecah suara dentingan di meja makan. Semua menatap ke Fara.


"Pa, aku boleh ngelanjutin sekolahku di sini?" ujar Fara membuat orangtuanya terkejut.


"Mama dan Papa akan jaga Fara dengan baik di sini," sela Nenek. Selain tenang melihat Fara bersama mereka, nenek juga ingin menyelamatakan pergaulan Fara yang takutnya semakin tidak jelas. "Rika, Candra ... biarkan kalau Fara mau di sini. Toh, ada papa-mama dan Mayra bersamanya."


Baiklah, Candra dan Rika mengerti. Mereka mengangguk, mengizinkan putrinya tetap di Indonesia bersama kakek-neneknya dan Mayra.


"Makasih, ya, Pa, Ma."


Rika meraup wajah putrinya. Tatapannya jelas menyorotkan kesedihan, tapi jika putrinya bahagia, Mengapa tidak?


"Jaga dirimu baik-baik, ya. Mama dan Papa tidak di sini."


*****


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, gadis yang tidak pernah meninggalkan jilbabnya meski di kamar sekalipun itu belum terlelap ke dunia mimpi.


Mayra, ia masih betah duduk di kursi meja belajarnya. Tangannya asyik menulis sesuatu disebuah buku.

__ADS_1


"May ..."


Seketika Mayra menoleh. Ada Fara yang membuka pintu kamar dengan melongokkan kepalanya. Mayra mengulas senyum, ia menyuruh Fara masuk.


Kini, dua gadis itu duduk di atas kasur Mayra dengan memangku bantal. Mayra tebak, Fara pasti ingin bicara sesuatu padanya saat ini. Tetapi, Mayra ragu akan tebakannya sebab Fara masih diam hingga detik ini.


"Minta maaf aja cukup nggak, sih, May?" kata Fara. Ia memutar memori beberapa waktu lalu di benaknya.


"Kamu buat kesalahan?"


Fara menatap mata Mayra. Ia mengangguk lesu. "Dan itu udah lama banget. Apa maafku masih diterima?"


"InsyaAllah. Tapi, kamu harus tulus ngelakuinnya, Ra. Dan sebisa mungkin jangan diulangi."


Fara mengangguk. Namun, ia ingat tentang siang tadi. Gimana Mayra bisa ketemu Reynar? Sampai-sampai dianter lagi?


"May ... aku boleh tanya nggak?" ujar Fara. Mayra mengangguk. "Tadi siang ... kamu, kok, dianter cowok? Ceritanya gimana?"


Wajah Mayra berubah terkejut. Ia tegang sendiri sekarang. "Tolong Ra ... jangan mikir macem-macem soal itu, ya?"


Fara terkekeh kecil melihat ekspresi lucu Mayra, lalu mengangguk. "Gimana ceritanya, May? Kamu kenal dia?"


Mayra menggeleng. Ia menceritakan runtut tentang yang siang tadi. Dan mendengar cerita Mayra membuat Fara mengulas senyum. Fara pikir Reynar akan tumbuh menjadi playboy, ternyata tidak. Eh, ntahlah Fara meralatnya. Fara semakin tersenyum mengingat Reynar, temannya sejak sekolah dasar itu memang orang baik dasarnya.


Tapi... Ntah mengapa ia berubah jahat pada dirinya sendiri. Mampu berbuat baik pada orang lain tapi, tidak dengan diri sendiri, aneh bukan?


"Apa aku bisa ketemu dia, May?"


"HHA?"


Fara sadar, Mayra belum tahu siapa remaja yang menolongnya itu. Baiklah, nanti Mayra akan tahu semuanya dilain waktu.


"Bawa aku ke tempat kamu ketemu dia, ya, May."


.


.

__ADS_1


.


Lolos revisi 16 Juni 2021


__ADS_2