KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
62• (Jiltusim manh-eun)


__ADS_3

Tok tok tok!!!


Merasakan perbedaan dalam diri Fara membuat Mayra bertanya-tanya. Tidak biasanya Fara mengurung diri dalam kamar. Waktu magrib telah tiba, namun Fara tidak kunjung keluar kamar. Pada akhirnya, Mayra menghampiri ke kamarnya yang terkunci dari dalam.


"Fara ... ayo kita salat berjama'ah. Kakek sama nenek udah nungguin di musala."


Ceklek!


Pintu dibuka. Mayra melihat basah disudut matanya. Fara pun tidak mau menatapnya saat ini. Sungguh Fara aneh.


"Ra, aku—"


"Aku lagi datang bulan, May."


Mayra mengangguk. Ia mengerti, tanpa bertanya lagi Mayra pergi dari sana. Mayra ingin bertanya lebih namun melihat respons Fara yang begitu singkat, membuatnya mengurungkan niat.


Fara kenapa?


******


"Ra, kamu mau—"


"Nggak, May. Aku lagi mager hari ini, jadi aku di kelas aja, ya."

__ADS_1


Mayra mengangguk. Niatnya ingin mengajak Fara keluar kelas untuk istirahat pun gagal. Mayra pun keluar sendirian. Ia menuju masala hanya seorang diri. Namun, saat di tengah perjalanan ia bertemu Zikra. Zikra pun kali ini sedikit berbeda. Ia menyapa hanya lewat senyum, tidak salam seperti biasanya.


"Kak Zikra, aku ada salah apa sama kakak?"


Pertanyaan Mayra membuat Zikra menghentikan langkah, bahkan perhatian para siswa di dekat mereka pun teralihkan. Suasana ramai tadinya kini menjadi senyap tanpa suara. Zikra tidak menoleh ke belakang, meski begitu ia mendengar Mayra.


******


"Ya udah kalau kamu mau naik bus lagi, May. Aku duluan."


Fara meninggalkan Mayra seorang diri di tribun tepi lapangan. Mayra berada di sana karena Zikra meminta. Katanya, Zikra ingin mengatakan sesuatu tentang pertanyaan Mayra di koridor istirahat tadi.


Mayra memandang ke depan. Ia belum menemukan tanda-tanda Zikra datang. Kembali, ia menunduk sembari mengetukkan alas sepatunya ke paving.


"Assalamulaikum."


Kini Zikra duduk di samping Mayra dengan jarak empat jengkal. Ia masih diam membuat hembusan dersik angin terdengar peka di telinga. Mungkin Zikra tengah menyiapkan kata bahkan menata hati.


"Aku tau kamu nggak mungkin menjalin hubungan dengan lawan jenis, Mayra." Zikra memadang hamparan selesa lapangan. "Tapi kamu harus tau, kalau kedekatan kamu sama cowok kemarin itu melukai dua hati."


Mayra terhenyak beberapa detik, lalu ia bertanya, "Maksudnya Kak Zikra melukai dua hati apa?"


Zikra justru tersenyum saat ini membuat Mayra menundukan pandangannya. "Kamu sepolos ini, ya, May?"

__ADS_1


"Ini sudah sore, Kak. Tolong katakan intinya saja."


Zikra mengangguk. Ia kembali menghembuskan napasnya. "Kemarin, cowok itu nyariin kamu. Dia juga sempat ketemu Fara dan mengobrol singkat. Pertanyaannya, kemarin kamu pulang dulu kenapa?"


Lagi-lagi Mayra terhenyak. Ia tidak bisa mengatakan apapun untuk pertanyaan Zikra, karena ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu.


"Aku cuma nggak mau ketinggalan bus."


"Nggak mungkin itu alasanmu, Mayra," bantah Zikra. Ia menduga kalau Mayra sengaja melakukannya untuk menghindari Reynar. "Kamu tau kalau Fara bilang, cowok kemarin bergantung ke kamu. Dia punya rasa sama kamu, May."


"Namanya Reynar, Kak." Mayra menatap sejenak Zikra lalu kembali menunduk. "Jadi, alasan Fara dan Kak Zikra bertingkah aneh hari ini apa?"


Zikra tak mengalihkan pandangnya membuat Mayra yang menoleh bersitatap dengannya. Mayra lekas menunduk detik itu. Zikra tidak menyangka jika Mayra—adik kelasnya kelas sepuluh—sepolos ini. Ia bahkan tidak peka jika ada yang kurang suka dengan kedekatannya dengan Reynar.


"Jiltusim manh-eun. Karena 'cemburu', Mayra."


.


.


.


Lolos Revisi 29 Juni 2021

__ADS_1


Guys! Because I like simple but not too simple, so I will extend my short words😂🤧 last word, HAPPY READING ALL


Zikra udah nerjemahin sekalian di kalimatnya😌


__ADS_2