KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
12• (Akhirnya tiba)


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 06.20 setempat. Di bawah selimut tebalnya ada seorang gadis tengah meringkuk. Bibirnya pun sedikit pucat. Walau mentari telah menampakan diri, gadis di bawah selimut itu tak kunjung bangun dan bersiap sekolah.


Yang dirasakan sekarang hanyalah tubuhnya yang pegal dan suhu tubuhnya yang hangat. Gadis itu sakit. Berniat izin hari ini dari sekolahnya.


"Non Fara!"


Panggilan dari luar kamar membuat Fara membuka selimut yang ia tutupkan di wajah. Sekilas gadis itu melirik jam di atas nakas. Pukul setengah tujuh lebih.


"Non Fara sudah bangun?"


Suara ART apartnya kembali terdengar. Namun, tak kunjung Fara sahut membuat ART membuka pintu tanpa izin.


"Non Fara, kenapa?" ART menatap Fara cemas. Tangannya pun ditempelkan di dahi Fara. "Non Fara panas! Biar bibi kompres, ya, Non?"


Fara memandang ART-nya tak berkedip. Mulutnya terkatup rapat. Ia tertawa dalam hati. Ada rasa heran juga di sana.


Kenapa orang lain bukan ibunya justru yang selama ini ada disisinya?


Kenapa disaat ia sakit orang lainlah yang merawatnya?


Tidak adakah sedikit waktu untuknya?


Fara tersenyum masam, membayangkan orangtuanya yang sibuk berkarier. Ya, walaupun Fara tahu itu juga demi dirinya, tapi harusnya ada sedikit waktu yang dicurahkan, bukan?


Ini sama sekali tidak!


Fara kembali menutup wajahnya dengan selimut. Ia memejamkan mata sekaligus mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya yang sangat lelah, hingga ia jatuh sakit seperti ini.

__ADS_1


Oh, ya ada ART-nya di sana! Fara lupa!


Masih dengan posisinya, Fara berkata, "Bibi bikinin aku salad buah aja. Nggak perlu kompres. Nanti juga sembuh sendiri."


Tanpa membantah bibi menuruti kemauan Fara. Ia keluar dari sana, dan beralih membuat salad buah.


Setelah pintu kembali ditutup barulah Fara membuka selimutnya. Kali ini semuanya, tidak hanya yang menutupi wajah. Fara berjalan menuju balkon kamarnya. Memandang pagi ini tanpa ekspresi.


Fara memutar memori, di mana ia dan orangtuanya pindah ke Singapura. Saat itu sebenarnya masih cukup berduka. Tapi, keputusan papanya sudah bulat. Tidak dapat dibantah maupun diubah.


"WOY!"


Terbelalak mata Fara saat menoleh. Reynar? Remaja lelaki itu tidak sekolah, sepertinya bolos. Fara kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"SAMA-SAMA NGGAK SEKOLAH!"


Jujur, Fara benci!


"Ngapain ngelamun di situ? Kurang kerjaan banget!" Reynar tetap bicara sekalipun Fara tak menanggapi. Fara acuh, sesukanya saja. "Alasan lo bolos apa, Ra? Cuma ngelamun di balkon? Nggak keren!"


Fara memutar bola matanya jengah. Gadis bersweater lilac dengan jeans putih sepaha itu kini benar-benar terganggu.


"Mending ngegame daripada rusuh pagi-pagi!!" ketus Fara.


"Nggak usah lo suruh gue udah on the way!!" Reynar berbalik badan, masuk ke kamarnya dan melakukan apa yang ia katakan. Ngegame!


******

__ADS_1


Hari perlombaan tingkat kota telah tiba. Dag-dig-dug hati Mayra karena terlalu gugup dan tidak percaya diri. Percayalah, Mayra bukan sosok yang suka tampil di depan khalayak. Ia lebih suka menyendiri di taman atau berkutat dengan bukunya jika kegiatan pesantren sedang longgar.


Kali ini Mayra dan satu santri, perwakilan pesantren As-Salam tengah menunggu giliran untuk bertanding di lomba qira' dan tartil Qur'an.


Mayra mewakili pesantren di lomba tartil Qur'an kali ini. Beberapa peserta sudah tampil dan semuanya, menurut Mayra patut diacungi jempol. Makhrijul hurufnya pas semua, tidak cacat.


Subhanallah!


Mayra sangat kagum. Peserta yang telah tampil Mayra puji dalam hati dengan kalimat tasbih (subhanallah).


Walau giliran Mayra masih cukup lama, tapi hatinya tak berhenti berdebar dari tadi. Sungguh, Mayra tak berbohong!


Berulang kali juga ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Begitu terus hingga tak terasa kini giliran Mayra tiba.


Deg!


Walau gugup, terus berusaha tenang. Akhirnya lantunan ayat suci AlQur'an keluar dari mulut Mayra dengan bacaan fasih dan makhrijul hurufnya tepat.


Setidaknya Mayra tak membuat malu pesantrennya dan mengukir senyum ustadzah Aina, selaku orang yang selama ini membimbing Mayra sebelum perlombaan ini.


Alhamdulillah!


.


.


.

__ADS_1


NEXT TAPI JAN LUPA LIKE!😌


__ADS_2