KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Suasana halaman pesantren terlihat ramai pagi ini, para santri santriwati bergotong royong membersihkan halaman pesantren. Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan rutin para santri santriwati di hari minggu pagi. Para pengajar dan pengurus pesantren juga turut serta bergabung dengan para santri santriwati.


Kegiatan hari ini benar - benar memperlihatkan hubungan erat ukuwah islamiyah antara muslim satu dengan yang lain. Dan memang sudah sepatutnya seorang muslim dan muslim lainnya saling memegang erat jalinan ukuwah.


Setelah kegiatan kerja bakti selesai beberapa santri pergi ke masjid untuk melantunkan sholawat. Sementara para santriwati masih terlihat sibuk membersihkan halaman pesantren juga beberapa ruangan di pesantren. Mendengar lantunan sholawat yang menggema dari speaker masjid membuat para santriwati semangat untuk segera menyelesaikan kegiatan mereka.


Berbeda dengan para santri santriwati yang melanjutkan kegiatan mereka, setelah kerja bakti bersama para santri Furqon memilih duduk diteras belakang rumah sambil menikmati pemandangan kolam ikan. Dirinya duduk termenung sendirian disana, entah apa yang ia pikirkan. Ustadz Hakam yang baru datang dan melihat Furqon pun langsung menghampiri.


Ustadz Hakam duduk dikursi samping Furqon, kedatangan nya juga tidak disadari adiknya sendiri. Ustadz Hakam menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat sang adik yang duduk termenung.


"Assalamualaikum" salam Ustadz Hakam.


Sontak Furqon menoleh, ia terkejut melihat Ustadz Hakam sudah duduk di sampingnya. "Waalaikumsalam, Mas. Sejak kapan disini?"


Ustadz Hakam memandang Furqon sambil tersenyum. "Baru saja kok, Fur. Kamu ada masalah? cerita sama Mas lah."


"Masalah? ndak ada kok, Mas." jawab Furqon.


"Beneran? terus kenapa melamun disini? banyak - banyak istigfar, jangan melamun nanti kesambet." sindir Ustadz Hakam.


"Iya, Mas. Aku diam tapi ndak melamun kok."

__ADS_1


Ustadz Hakam menepuk bahu Furqon. "Dari pada kamu disini sendirian, mending nyusul para santri di masjid. Sekalian latihan hadroh sana, kamu kan bisa ajarin mereka. Mas tak bantu Abah di kebun dulu."


Furqon mengangguk. "Iya, Mas. Ini juga mau ke masjid kok, tadi cuma mampir istirahat bentaran."


"Ya udah, Mas pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Mas." balas Furqon.


Sejenak mata Furqon mengamati ikan - ikan yang berenang di kolam, ia menghela nafasnya. Kemudian ia bangkit dan bersiap untuk ikut bergabung dengan para santri di masjid. Furqon memang sering ikut para santri belajar hadroh, selain itu ia juga sering menjadi vokal di hadroh santri As Salam 2.


Suara Furqon yang mulai terdengar bahkan hingga ke pesantren sebelah (As Salam 2). Kayla yang sedang memotong sayuran di dapur bersama dengan santriwati lain, tiba - tiba tangannya yang sedang sibuk memotong terhenti. Senyuman tersungging di bibirnya, sudut bibir tersebut tertarik.


* * * *


Di hari minggu ini, Meyna berniat untuk pergi jalan - jalan di taman perumahan bersama Om Candra dan Tante Rika.


Biasanya taman perumahan terlihat begitu ramai dikunjungi di hari libur seperti hari ini. Banyak orang - orang perumahan yang berolahraga, piknik bersama keluarga, jalan santai, hingga bersepeda disana. Suasana asri dan sejuk dengan rindangnya pepohonan membuat siapa saja betah disana.


Sekarang Meyna, Om Candra, dan Tante Rika memilih untuk jalan santai sambil menikmati pemandangan sejuk pepohonan disana. Obrolan santai dan canda tawa mengiringi tiap langkah kaki mereka. Tanpa sengaja ternyata mereka bertemu dengan Pak Sanjaya ditengah jalan santai mereka. Raut muka Om Candra seketika terlihat suram.


Meyna dan Tante Rika menyapa Pak Sanjaya dengan senyuman, begitupun Pak Sanjaya. Orang yang datang bersama Pak Sanjaya juga terlihat tersenyum ke arah mereka.

__ADS_1


"Assalamualaikum. Wah, ini putri Bapak kah?" sapa Tante Rika.


Pak Sanjaya membalas, "Waalaikumsalam. Betul, Rika. Ini adalah putriku, dia baru datang kemarin dari Singapura."


Putri Pak Sanjaya menganggukkan kepalanya menyapa Meyna, Tante Rika, dan Om Candra. Om Candra hanya membalas dengan datar, berbeda dengan Tante Rika dan Meyna yang membalas dengan ramah. Tante Rika yang melihat raut wajah suaminya pun memilih pamit.


"Pak Sanjaya, kami duluan ya. Mau lanjut jalan lagi. Assalamualaikum" ucap Tante Rika.


Pak Sanjaya mengangguk. "Iya, silahkan.


Dilain orang, Tante Rika sama seperti Pak Sanjaya dan putrinya yang sedang membicarakan tentang keluarga mereka. Tante Rika tampak tidak percaya melihat putri Pak Sanjaya hari ini, pasalnya putri Pak Sanjaya sudah lama tinggal di Singapura sejak menikah.


Akhir - akhir ini Fara terlihat sibuk dengan skripsinya, ia benar - benar mempersiapkan matang - matang kelulusanmya. Bukan hanya Fara, tapi juga Mayra yang begitu sibuk untuk kelulusan nya. Tanpa disangka waktu mereka lulus sudah semakin dekat, tidak terbayangkan. Mayra dan Fara juga sudah menghubungi keluarga di tanah air prihal kesibukan skripsi


Selain kebahagiaan akan kelulusan Mayra, ia juga turut bahagia karena beberapa hari lalu Ana telah di khitbah oleh calon imamnya. Mayra merasa bahagia hampir tak bisa berkata sahabatnya selama di Kairo setelah ini akan menjadi seorang istri. Berbeda dari Mayra, Fara justru terlihat cemas dengan hubungannya bersama Arnoz belakangan ini.


Apalagi Arnoz saat ini sedang pulang ke Indonesia untuk acara keluarga yang begitu penting, itu setahu Fara. Sudah dua hari ini Arnoz di tanah air dan sama sekali tidak mengabari Fara, hal ini semakin membuat Fara cemas. Mungkin ada puluhan panggilan yang Fara lakukan, tapi tetap saja tidak ada satu pun panggilan yang terjawab.


~ Kairo


Seorang gadis di pagi yang cerah ini sedang bersujud pada Sang Pencipta, terlihat begitu khusyu'. Akhirnya gadis itu yang tidak lain Mayra kini bangkit dari sujudnya. Namun, mulutnya masih melafalkan do'a tahiyat akhir di penghujung ibadahnya. Hingga akhirnya kepalanya sedikit terdongak dari pandangan tempat sujudnya, kemudian

__ADS_1


__ADS_2