
"Assalamualaikum"
Beberapa pasang mata yang tadinya menghadap ke stand es doger, mengamati apa-apa saja yang dimasukan hingga tersaji dengan manis nan nikmat. Salam itu menyita perhatian pembelinya kecuali penjual es doger.
"Waalaikumsalam"
Para santriwati di sana langsung mengalihkan wajah mereka kembali. Menengok sejenak dan menjawab salam sudah cukup.
Abyaz!
Mayra, Kayla dan Safa tak hiraukan keberadaan Abyaz yang membatu di dekat mereka. Bahaya bukan jika santriwati dekat-dekat santri putra?
"Kayla ... bisa bicara bentar nggak?" Kali ini Abyaz menunduk takut. Ia juga sedang menjaga pandang.
"Bicara apa?" balas Kayla terdengar ketus. "Nggak ada bicara-bicaraan. Bisa-bisa aku dihukum lagi gara-gara situ sama si 'ini'!"
Safa yang ditunjuk dengan kata 'ini' dalam kalimat Kayla pun menghela napas. Bukankah kemarin sudah baikan, ya?
"Mbak, ini tiga es dogernya." Si penjual menyodorkan satu-satu ke Mayra, Kayla, dan Safa. Mereka putuskan jajan es doger saja di tengah teriknya mentari. Toh, ini bukan hari untuk puasa sunnah senin atau kamis.
"Syukron, Pak!"
*****
__ADS_1
"Kayla ... itu Abyaz kayaknya serius mau bicara sama kamu." Mayra memberitahu. "Ayo bicara kalau memang ada yang ingin dibicarakan."
"Benar tuh kata Mayra, Kay!" sahut Safa.
Tiga gadis itu duduk di bangku panjang tak jauh dari stand es doger. Pandangan mereka tak berkeliaran disekitar. Fokus ke satu titik, yaitu es doger.
"Halah, palingan mau bilang maaf. Udahlah, biarin aja!" jawab Kayla. Ia masih menyimpan rasa tak suka pada Abyaz karena kejadian kemarin.
"Nggak baik marah lama-lama. Mending dimaafin biar plong hati kamu, La." Mayra membujuk.
"Iya, maafin aja," sahut Safa. "Kalau dia mau minta maaf. Tapi kita nggak tahu 'kan maksudnya Abzay pengin bicara sama kamu, Kay. Bisa aja cuma mau ketawain."
Seketika Kayla menarik ujung jilbab Safa. Membuat empunya memberengut kesal. Ia tiupin ujung jilbabnya dengan bibir bawah.
Mayra menggeleng kepala. Biasalah jika ia akan disuguhi perdebatan antara Safa dan Kayla tiap waktu. Itu sudah menjadi kebiasaan yang tak mampu ditinggalkan bila berjumpa.
"Eh, enak aja nyalahin aku! Kamu duluan ya yang mancing-mancing aku!" cetus Kayla tak terima.
"Mancing-mancing, mancing apaan?" sewot Safa. "Mancing drakula sih, iya!"
"Ikhhh...." Kayla menggeram kesal. "Dasar orang!"
"Yaiyalah orang masak drakula!" sahut Safa ketus. "Mana ada jaman sekarang drakula? Hallow ... haluanya udahan deh!"
__ADS_1
"Idiiihh... Yang bahas drakula siapa yang kesal siapa, aneh!" gumam Kayla lirih tapi Safa masih bisa mendengarnya.
Mayra yang berada di dekat Safa hanya bisa menghela napas, istigfar, dan terkekeh geli. Kali ini ia tak berniat melerai dua sahabatnya yang beradu mulut tak selesai-selesai.
Kebiasaan yang mungkin sulit dilupakan bila ketiganya mulai menjalani kehidupannya masing-masing. Jarang bahkan sulit bertemu. Dan, dipisahkan oleh jarak berkilo meter.
Adu mulut masih terjadi. Namun, fokus Mayra tak lagi ke sana. Ia juatru menikamati es dogernya sembari membayangkan suatu hari nanti yang akan menjadi suatu kenyataan.
Mereka tak mungkin akan sama-sama terus. Ada saatnya nanti mereka berpisah. Hanya bisa mengenang memori lama yang sulit terlupakan. Mengenang memori lama yang tanpa sadar diukir tiap hari.
"May ... kamu kenapa?"
Suara Kayla dan Safa membuyarkan Mayra yang tengah membayangkan hari ke depannya. Tentang ikatan persahabatan mereka. Senyumnya masih tersisa membuat Kayla dan Safa lega.
"Memangnya aku kenapa?"
.
.
.
Hallo! Sapa sini sapa!🥳
__ADS_1