KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Senja telah pergi dan kini petang telah menggantikan posisinya. Tepat diwaktu senja pula, Kakek menghembuskan nafas terakhirnya dan kembali kepada Sang Ilahi. Memang sudah jadi takdir setiap manusia untuk kembali kepada Sang Ilahi.


Manusia tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah. Semua telah menjadi kehendak Allah untuk menentukan takdir setiap makhluk-Nya yang Ia ciptakan. Dikediaman Kakek, tangis duka mewarnai disana. Ikhlas dan tegar memang tidak mudah tuk dilakukan, tapi apapun alasannya manusia harus bisa menerima semua takdir yang terjadi.


Ba'da maghrib...


Orang - orang tetangga Kakek datang untuk membantu memandikan, mengkafani, dan menyolatkan jenazah Kakek, serta mendo'akan sang almarhum. Proses itu tidak sebentar, butuh waktu lama untuk melaksanakan proses - proses tersebut. Orang - orang dan keluarga sudah mengenakan pakaian serba putih begitupun sang almarhum yang telah terbalut kain kafan.


Tangis keluarga mewarnai segala proses yang dilakukan untuk almarhum Kakek. Hingga saat ini Om Candra ataupun Tante Rika belum mengabari kepergian Kakek pada Mayra dan Fara, juga Meyna. Mereka tidak sanggup untuk mengatakan kepergian Kakek pada mereka bertiga.


Namun, mereka tetap berhak untuk tahu akan kepergian Kakek. Dengan nada gemetar dan sedih nan pilu, Tante Rika mengabari Mayra, Fara, dan Meyna satu per satu. Samar - samar pula ngajian yasin dan tahlil terdengar dan memenuhi satu ruangan dirumah mereka.


~Mayra


//Assalamualaikum Mayra. Tante ingin bilang sesuatu padamu, kamu ikhlas ya.// ucap Tante Rika bergetar disela tangisnya.


Mayra heran mendengar suara sang Tante yang sendu.


// Waalaikumsalam Tante. Katakan ada apa, kenapa Tante nangis?//


Tante Rika mengeluarkan air matanya, ia menggigit bibir bawahnya disertai air mata yang berderai.


// Mayra.... Kakek Mayra.... Kakek meninggal.// ucap Tante Rika menangis.


DEG!


DEG!


DEG!


Mayra yang mendengar langsung terkejut tidak percaya, jantungnya seakan dipaksa untuk berhenti. Mayra menutup mulutnya sambil menitikkan air mata yang tidak diharapkan untuk keluar.


"Innalillahi wa innailaihi roji'un.. Astagfiirullah Kakeeeeeeeekkkkk." gumam Mayra disusul jeritan tangisnya.


PRAKKK..handphone yang di genggamnya kini terjatuh dilantai. Seakan atmosfir kehidupan ini hilang seketika saat mendengar Kakek tiada. Air mata Mayra terus keluar membasahi pipinya.


Disebrang telepon Tante Rika masih menangis, ia tahu bagaimana perasaan Mayra setelah mendengar kabar duka ini. Tante Rika tidak sanggup untuk mengabari Fara dan Meyna, akhirnya Bi Ina lah yang mengabari mereka.


Mayra yang terduduk lemas dan bersimpuh dilantai hanya terus menangis dan menangis. Seakan ia sedang mimpi saat ini, rasanya berat dan sesak saat mendapati kabar duka dari Tante Rika.


"Ya Allah secepat inikah Kakek meninggalkan kami semua...Hiks hiks.. Ya Allah padahal tinggal dua tahun lagi hamba dan Fara bisa kembali ke tanah air, berkumpul bersama keluarga. Kakek.... maafkan cucu - cucumu yang tidak ada di sampingmu ketika sakaratul maut menjemputmu."


"Maafkan kami, Kek! Hiks... hiks... hiks... Ya Rabb semoga Kakek tenang disisi-Mu, semoga Kakek mendapat tempat terbaik disisi-Mu, aamiin. Kakek, maaf kami akan terlambat untuk datang menjengukmu yang terakhir kalinya. Khusnul khotimah ya Kakek... aamiin."


Mayra menitikkan air matanya, sesekali ia memejamkan matanya untuk merasakan ketenangan disela tangisnya. Ia begitu hampa dan sedih mendengar Kakek yang ia cintai kini telah pergi tuk selama - lamanya. Hanya do'a yang bisa ia panjatkan pada Sang Ilahi untuk mengobati kerinduan pada sang Kakek.


Ana yang baru saja masuk kamar asrama, ia terkejut melihat Mayra duduk dilantai sambil menangis. Cemas yang Ana rasakan, ia takut terjadi sesuatu pada Mayra.


"Mayra?!" Ana menghampiri Mayra yang duduk dilantai.

__ADS_1


"Mayra, kenapa kamu nangis? apa yang terjadi, katakan saja padaku." Ana menanyai Mayra kalang kabut.


Mayra mengusap air mata di pipinya, ia menatap Ana di sampingnya. Gelengan kepala jawaban dari pertanyaan Ana.


"Kamu jangan bohong sama aku, May. Apa ini berkaitan dengan keluargamu?" Ana menanyai kembali.


Mayra menitikkan air matanya, ia menarik nafas perlahan.


"Kakekku meninggal, An. Kakek pergi untuk selamanya hiks..hiks.. padahal aku berharap Kakek akan menyaksikan kelulusan nanti, tapi Allah berkehendak lain." ucap Mayra menitikkan air mata.


Ana mengusap lembut bahu Mayra, "Sabar ya, May. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Kakekmu. Kamu ikhlaskan Kakek, May." ucap Ana ikut sedih.


"Syukron ya, An. Mungkin aku akan ijin untuk pulang ke Indonesia, aku mau melihat Kakek untuk terakhir kalinya. Walau aku tidak dapat melihat jenazah Kakek, An." ucap Mayra sendu.


"Semoga di ijinkan ya, May. Sekarang tenanglah, perbanyak istigfar untuk dirimu. Ayo kita bangun!" ucap Ana diangguki Mayra.


Dengan lembut Ana membantu Mayra dan memapahnya ke atas tempat tidur.


Tidak berbeda dengan Mayra, Fara dan Meyna juga tak kuasa menahan air mata mereka. Hampa yang mereka rasakan disaat kepergian Kakek. Tangis pilu dan duka mewarnai malam yang indah ini. Gemerlap bintang dan bulan tidak dapat membuat mereka tuk tak menangisi duka ini.


Hari ini malam ini adalah hari duka bagi keluarga alm. Kakek Pernama. Mereka berduka dengan kepergian sang Kakek, tangisan masih mewarnai walau jenazah Kakek telah dipendam dibawah tanah.


Untuk terakhir kalinya, Om Candra dan Tante Rika juga pekerja dirumah Kakek memberi penghormatan terakhir sebelum jenazah masuk ke liang lahat.


Sekitar pukul 22.30 malam, proses pemakaman Kakek selesai. Kakek dikubur tanpa menunggu kedua cucunya hadir disana. Hanya Meyna yang bisa mengantarkan Kakek ke rumah barunya, yaitu dibawah tanah. Meyna menitikkan air mata sambil mengusap batu nisan bertuliskan nama Kakek.


"Kakek, terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Kakek dan keluarga sangat baik padaku, semoga ini bisa menjadi amal untuk Kakek. Terima kasih ku ucapkan selalu, Kek. Maafkan aku yang telah membuatmu repot dan susah. Ku do'akan Allah memberi tempat terbaik untukmu, Kek." ucap Meyna dengan isak tangisnya.


Tetesan air matanya menimpa batu nisan Kakek. Tante Rika pun tidak kuasa menahan air matanya. Usapan lembut dan rangkulan hangat dari sang suami memberikan sedikit ketegaran padanya.


"Meyna, kita pulang sekarang! Kakek sudah tenang disana." ucap Om Candra lirih.


Meyna menatap beberapa menit gundukan tanah di depannya. Air mata tak kunjung usai walau Kakek telah dikubur didalam liang lahat.


"Ayo Om, Tante!" balas Meyna beberapa menit kemudian.


Langkah yang masih ragu dan berat untuk terperanjat kini sedikit demi sedikit menjauh dari makam Kakek. Bi Ina yang ikut juga tidak berhenti menitikkan air matanya.


16 juli adalah hari berdukanya seluruh keluarga alm. Pernama. Tanggal itu akan dikenang dengan deraian air mata.


Selesai sudah perjalanan - perjalanan hidup yang Kakek lalui bersama keluarga, suka maupun duka. Usianya yang hampir memasuki 80 tahun merupakan batas hidupnya didunia ini. Do'a dari keluarga dan amal sang almarhum semoga menjadi penerang kuburnya, amiin.


* * * *


Keesokan paginya...


Suasana duka masih menyelimuti rumah Om Candra, kesedihan masih mengisi hati mereka. Rasanya seperti ada yang kurang setelah kepergian Kakek. Hari ini, Mayra akan kembali ke tanah air begitupun Fara. Mereka menyempatkan untuk melihat rumah baru sang Kakek, sebelum kembali menuntut ilmu dua tahun lamanya.


Pak Ade dan Bi Ina kembali bekerja seperti biasa, dan ikut menyambut para pelayat yang hadir pagi ini. Sudah sejak pukul 07.00 Bi Ina menyiapkan sarapan, namun belum juga disentuh. Nafsu makan mereka hilang seketika, hanya tangis yang mereka lakukan.

__ADS_1


"Tante, ayo kita sarapan. Bi Ina udah siapin daritadi loh. Ayo juga Om!" ucap Meyna.


Om Candra tidak membalas, namun ia langsung pergi ke meja makan. Sedangkan Tante Rika ia masih di posisinya tak bergeming sama sekali.


"Tante, yuk sarapan! Nanti Kak Fara dan Kak Mayra sedih kalau Tante nggak mau makan. Mereka akan segera pulang loh, Tant." Meyna membujuk lagi.


Akhirnya Tante Rika mengalah, ia pun menurut untuk diajak sarapan bersama. Suasana sarapan juga tidak luput dari kesedihan mereka. Hanya Meyna yang bisa tidak menangis hari ini, karena ia sudah ikhlas akan kepergian Kakek. Tidak seperti Om Candra dan Tante Rika yang masih belum mengikhlaskan kepergian Kakek.


* * * *


Perempuan berhijab lebar warna army dan gamis hitam, yang tak lain adalah Mayra kini telah sampai dibandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Bersyukur bisa kembali ke tanah air dengan selamat dan bisa melihat rumah baru Kakek. Dengan taxi Mayra menuju rumahnya, yang ditempuh sekitar 1 jam untuk sampai disana.


Kakek, aku kembali ke tanah air untuk melihat mu. Maafkan aku terlambat menjenguk dan mengantarkan mu ke rumah barumu, Kek.


batin Mayra.


Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Pandangannya kosong menatap ke luar jendela, melihat suasana jalanan yang padat.


1 jam kemudian...


Kini Mayra telah tiba dirumah, ia menatap rumah yang tampak berbeda. Disana ada tenda, kursi, dan bendera kuning berlafalkan arab 'Innailaihi wa innailaihi roji'un' menjadi pemandangan yang aneh untuk Mayra. Air mata kembali menetes, perlahan Mayra melangkah masuk.


Pak Ade yang melihat Mayra langsung menyapanya, Bi Ina yang sedang membereskan gelas - gelas diluar ikut menyapa Mayra disertai pelukan.


"Non Mayra." sapa Pak Ade ramah.


Mayra menganggukkan kepalanya, "Assalamualaikum Pak Ade."


"Waalaikumsalam Non."


Mayra kembali melangkah, namun terhenti oleh kedatangan Bi Ina.


"Non Mayra sudah sampai."


Mayra tersenyum, senyum yang memiliki dua arti yaitu senyum ramahnya dan senyum pilunya.


Bi Ina memeluk Mayra, Mayra pun membalas pelukan Bi Ina. Ia menitikkan air mata dipelukan Bi Ina, ARTnya.


"Ayo Non masuk! Non Meyna juga ada didalam." ucap Bi Ina.


"Iya, Bi. Mayra permisi dulu ya." balas Mayra diangguki Bi Ina.


Pertama kali masuk Mayra menatap sekeliling ruangan, tatapan matanya berhenti disebuah figura yang menampilkan foto Kakek dan Nenek, kedua putranya, juga kedua menantunya.


"Mayra"


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!! Makasih sebelumnya author ucapkan:)


__ADS_2