
Semenjak Fara satu sekolah dengan Mayra, kini tidak lagi Mayra naik bus melainkan dijemput sopir pribadi kakek. Kakek dan nenek ternyata yang memilki ide dan mereka melakukan itu semata-mata demi keselamatan cucunya. Ya, pokoknya pulang-pergi ada sopir.
Namun, itu tidak berlaku hari ini. Karena ada tugas kelompok, maka Mayra dan Fara usai pulang sekolah langsung mengerjakan tugas mereka ditempat yang sudah dipilih.
Dan, sayangnya Mayra dan Fara tidak satu kelompok dalam tugas hari ini. Namun, Mayra bersyukur mendapatkan teman sekelompok yang tidak julid. Pokoknya teman sekelompok Mayra fine aja.
Kelompok Mayra mengerjakan tugasnya disebuah taman yang lokasinya tidak jauh dari sebuah masjid. Itulah yang Mayra deskripsikan saat tiba di lokasi.
Beberapa jam mengerjakan tugas dan sekitar pukul lima lebih lima belas menit sore, mereka bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Ntah mengapa Mayra juatru ingin lebih lama berada di taman itu.
"May ... kita balik duluan, ya?"
Mayra mengangguk. Memandang kepergian teman sekelompoknya yang mulai menjauh.
Mayra memandang langit, jingga warnanya. Desiran angin membelai kulitnya hingga reflek Mayra memejamkan mata. Menikmatinya.
"Gue boleh duduk?"
Reklek Mayra membuka mata. Ada Reynar yang duduk di bangku sebrangnya yang berada di sebuah gazebo.
"Silakan."
Hanya itu yang Mayra katakan. Detik selanjutnya ia memilih membereskan alat tulisnya ke dalam tas ransel. Lalu, ia meninggalkan gazebo tersebut menuju masjid.
Bukan ingin salat yang Mayra lakukan di masjid tersebut. Melainkan, ingin menghindari fitnah yang kapan saja bisa terjadi. Sebelum Mayra berada di posisinya sekarang, ia sudah berwudhu. Mayra sengaja membuka aplikasi Qur'an di ponselnya. Ia membaca dengan tartil dan makhrijul huruf yang tepat.
Singkat waktu, Mayra duduk di teras masjid yang cukup banyak orang. Ada yang tengah beristirahat, ada yang mengobrol, ada juga yang memainkan ponsel sembari menunggu adzan magrib.
Mayra di sana tidak ingin merepotkan orang rumah, tapi ia sudah mengabari Fara jika pulang terlambat. Namun, Fara ternyata juga belum menyelesaikan tugas kelompoknya. Baiklah, dua gadis itu memang tengah sibuk.
__ADS_1
Mayra memutar sebuah podcast ceramah dari sebuah aplikasi. Ia menikamati suasana senja di teras masjid dengan ditemani podcast ceramah.
Percayalah, Allah nggak akan ninggalin kita. Allah selalu ada untuk hamba-hamba-Nya.
"Gue lagi coba percaya itu."
Reflek tentunya, Mayra menoleh. Ntah sejak kapan ada Reynar duduk di sampingnya dengan jarak cukup jauh. Jadi, Reynar juga mendengarkan ceramah dari ponselnya? Mayra hanya diam.
Ingatlah jua, bahwa Allah-lah tempat terbaik untuk kita curhat, minta sesuatu bahkan nitip rindu untuk 'dia' yang jauh dari kita.
"Gue bakal coba percayain itu."
Reynar kembali berbicara membuat Mayra reflek (lagi) menoleh ke arahnya. Mayra menaruh ponselnya di tengah, ia bermaksud memberikan ponselnya pada Reynar. Sepertinya Reynar tertarik untuk mendengarkan juga.
"Ambil aja, gue nggak perlu."
"Lo ... saudaranya Fara?"
Mayra mengangguk, merespons Reynar. Jujur, Mayra was-was kali ini. Ingin ia pergi namun rasanya ada sesuatu yang menahannya agar tidak pergi. Apa itu?
"Lo kenapa belum balik? Kabur dari rumah?"
Pertanyaan konyol terlontar. Ada-ada saja memang Reynar.
"Habis ngerjain tugas kelompok. Sekalian mau magriban di sini." Mayra memandang ke depan tak menoleh ke samping sedikitpun.
"Lo ngerasa nggak, sih, kalau takdir itu kayak mainin manusia?"
Mayra terhenyak beberapa saa, namun detik selanjutnya ia menggeleng sebagai responsnya.
__ADS_1
"Takdir itu dari Allah, cuma Allah yang tau. Mana mungkin mainin manusia?" Kali ini Mayra bersuara.
Reynar, pemuda yang masih mengenakan seragam sekolahnya sama seperti Mayra itupun terlihat ingin curhat. Tapi, gengsi.
"Gue minta maaf sama Fara soal kemarin, di TPU," ujar Reynar yang sepertinya akan curhat (beneran). "Gue nggak maksud bentak dia kek gitu. Buat masalah di Singapur pun gue udah lupain, gak gue anggep serius. Cuma ... keadaan yang bikin gue uring-uringan."
Rasanya aneh Reynar bercerita seperti ini. Tetapi, mungkin karena Reynar benar-benar butuh tempat cerita maka Mayra biarkan saja.
"Gue kek gitu karena ibu gue meninggal."
Ha?! Mayra tidak salah dengar? Oh, pantas kalau sikap Reynar kemarin terlihat sayu, emosi, rapuh ... pokoknya benar-benar aneh.
"Innalillahi. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa almarhumah."
Reynar memandang Mayra. Mereka berdua tidak saling kenal, bertemu pun hanya baru beberapa kali, tetapi Reynar merasa cocok bercerita pada Mayra.
"Thanks."
Tepat saat Reynar mengucapkan 'Thanks' saat itu pula adzan magrib berkumandang. Mayra pun langsung bangkit, namun sebelum pergi dari sana. Ia sempat bicara pada Reynar.
"Kalau masih butuh tempat cerita, sebaiknya ke Allah. Cuma Allah tempat ternyaman untuk cerita tanpa kamu diolok atau apapun itu."
.
.
.
Lolos revisi 19 Juni 2021
__ADS_1