
Berdiri Didepan Pintu
Sella tahu keberadaan Nyonya Song, dia bergegas berjalan kesana, Nyonya Song sedang membahas masalah donasi malam ini, kelihatan sangat senang.
"Nyonya Song apakah kamu ada waktu? Aku ingin minta tolong pada kamu." Sella dengan ekspresi panik berkata pada dia.
Nyonya Song melihat adalah dia, dengan senyum berdiri, "Baik! Masalah apa?"
Sella melihat dia, tatapan terlihat memohon padanya, "Aku ingin tahu nama donatur tiga item terakhir itu, bisakah kamu bantu aku tanya?"
Nyonya Song terkejut, "Kamu kenapa ingin tahu masalah ini?"
"Karena......karena aku dengan donatur kemungkinan adalah kerabat." Selesai mengatakan ini, Sella membuka ponsel dari dalam ablum mencari foto giok phoenix, lalu berkata pada Nyonya Song, "Aku dari kecil memakai giok ini dan giok ini sepasang, aku terus mencari kerabat aku."
Perkataan dia setengah bohong, tapi setengah lagi benar.
Nyonya Song adalah orang yang mengerti giok, dia melihat foto yang diponselnya, juga percaya, dia dengan serius mengangguk kepala berkata, "Baik, penyelenggara kali ini adalah teman baik aku, aku bawa kamu bertemu dengan dia, lihat dia ingin beritahu kamu atau tidak."
"Baik, terima kasih nyonya." Sella sangat berterima kasih.
Nyonya Song membawa Sella ke posisi utama, dia memanggil wanita yang berumuran empat puluh tahun ke samping, nyonya ini adalah promotor malam ini, juga adalah orang terhebat dibidang amal.
"Gita, aku ingin bantu nona ini tanya, nama donatur tiga item terkahir?" Nyonya Song bertanya pada dia.
Gita terkejut, lalu melihat Sella, "Apain kamu tanya ini?"
"Karena aku sedang mencari kerabat aku, mungkin donatur ini adalah kerabat aku." Selesai bicara, dia memperlihatkan foto ponselnya pada Gita, lalu Gita terkejut berkata, "Giok ini dengan yang tadi sepasang kan!"
__ADS_1
Karena Gita membuat amal, tentu saja sangat baik hati, dia berpikir sejenak kemudian berkata, "Jujur saja, aku tidak donatur ini siapa, saat dia kirim kesini tidak mengatakan nama, barang donasi ini juga sore ini baru sampai."
"Tapi pasti ada nomor telepon kan!" Nyonya Song sangat terkejut.
"Juga tidak ada nomor telepon, tapi ada alamat pengirim, aku percaya ini seharusnya adalah tempat tinggal donatur, aku bisa berikan pada nona ini."
Sella dengan mata berkaca-kaca berterima kasih pada kedua nyonya ini, "Terima kasih nyonya."
Tidak ada yang mengerti air mata dalam matanya betapa sedih juga betapa senang.
Tidak lama, Gita menyuruh orang menyatat alamat dan beri pada Sella, juga berharap dia bisa dengan cepat menemukan kerabatnya, Sella mengambil alamat, lalu berterima kasih lagi.
Setelah dia pergi, Gita berkata pada Nyonya Song, "Nona ini memang orang yang tahu bersyukur, meskipun hanya berkata terima kasih."
"Juga terlihat sangat kasihan." Nyonya Song sangat pandai melihat orang, dari tubuh Sella membuat dia ada rasa sakit hati.
Jika dia tidak bisa menemukan keluarganya, dia akan menyerah.
Sella membuat visa tour, menggunakan waktu satu bulan baru keluar, saat baru naik pesawat, hati dia sudah duluan terbang, dia duduk didekat jendela, melihat pesawat terbang, dia menjadi tidak sabar. Penerbangan yang lama ini, dia hanya dengan terdiam saja, yang duduk disampingnya adalah seorang pria, dalam perjalanan ingin mencari kesempatan berbicara padanya, namun dia hanya melihat jendela, terkadang menunjukkan ekspresi sedih, terkadang tersenyum, seperti berada didalam diri sendiri.
Pesawat mendarat, Sella berdiri dibandara yang asing, dia tidak bingung, juga tidak takut, dia menggantikan semua uangnya menjadi dollar, meskipun tidak banyak, tapi seharusnya cukup untuk perjalanan kali ini.
Sella adalah jurusan inggris, berkomunikasi tidak ada masalah, dia tidak ada banyak waktu jadi dia memilih naik taksi, dia memberi alamat pada supir lihat, ini adalah supir wanita, dia berkata padanya perjalanan ini sangat jauh, sudah yakin mau pergi kah?
Sella mengangguk kepala, dia pastikan ingin pergi.
__ADS_1
Wanita supir suruh dia naik mobil! Dalam perjalanan supir wanita ini tidak mengganggu dia, hanya mengendarai ke tempat yang ingin dia pergi, ke tempat khusus tempat tinggal orang kaya.
Sella melihat pemandangan luar, saat supir wanita mengatakan hampir sampai, dalam hati dia sangat antusias, dia menyuruh supir wanita ini memberi dia nomor telepon, jika dia tidak temukan orang, berharap bisa menelepon dia agar dia atau teman dia bisa menjemput dia ke bandara.
Ini adalah cara dia berjaga-jaga, karena jalan ini sangat sepi, sepertinya sangat susah memanggil taksi.
Supir wanita pelan-pelan mencari jalan, akhirnya mobil di berhenti di manor putih, lalu berkata pada dia, "Nona, tempat yang kamu cari sudah sampai, disini."
Sella melotot mata melihat manor putih yang seperti kastil ini, dia tidak menyangka, tiga item ini dari sini keluar? Selesai bicara, dia berjalan ke depan pintu melihat alamat, memang tempat ini.
Supir taksi berkata pada dia, "Nona jika ada keperluan bisa telepon aku, aku pulang dulu."
Sella juga tidak meninggalkan dia, karena waktu dia mencari pelanggan sangat penting, dia tersenyum sebentar, "Baik, terima kasih."
Sella berdiri didepan pagar ukiran bunga, dia menghela nafas, lalu melihat bell yang sangat cantik ini, dia mengulur tangan menekan tombol.
Bell ditekan agak lama karena manor ini sangat besar, tidak lama ada pria barat yang berumur lima puluhan tahun keluar, dengan pakaian pengurus rumah, dia dengan lembut bertanya pada Sella, "Nona, apakah kamu yang menekan bell?"
Sella mengangguk kepala, "Iya, aku ingin bertemu dengan majikan manor ini."
"Apakah kamu adalah tamu tuan kita?"
"Aku dari luar negri datang kesini, bisakah kasih aku masuk?" Sella dengan ekspresi memohon.
"Maaf nona, aku tidak bisa membiarkan kamu masuk, karena aku belum pastikan status kamu." Pengurus rumah dengan sopan menolak dia.
Sella juga sudah membuat persiapan, dia memberi foto giok yang sudah di print padanya, "Tolong kamu memperlihatkan pada majikan kamu, ini adalah giok aku, jika dia ingin bertemu dengan aku, kamu baru kembali membukakan pintu ya?"
__ADS_1
Pengurus rumah mengambil giok lalu melihat dan sangat terkejut, kemudian berkata pada dia, "Baik, tunggu sebentar." Sella tunggu didepan pintu, kecemasan dia juga sudah ditahan, dia tahu tidak boleh panik, panik juga tidak berguna, hanya bisa dengan tenang hadapi.