
“Aku mempunyai keputusan ku sendiri, mohon kamu jangan memaksa ku.” Kata Sella sambil menggigit bibir.
“Lantas kenapa jika aku memaksa mu? Dan lagi pula, kamu boleh mengatakan bahwa kamu sudah mempunyai seseorang yang kamu sukai, membuat nya patah hati dan menyerah, kamu masih tercekat apa disana?”
“Aku tidak ingin menyakiti nya.” Sella mengatakannya dengan bersikeras, jika mengatakan ada orang yang telah ia sukai, maka itu artinya menyakiti pria itu sampai tuntas.
Dia hanya ingin menggunakan cara nya sendiri untuk meninggalkannya,dia ingin putus secara damai dengan Bryan.
Christy Lan bergumam dingin, “Kamu harus menyakitinya, kamu harus membuat nya patah hati dan menyerah pada mu.”
“Aku tidak mau!” Sella membantah.
“Sella, kamu juga jangan terlalu meremehkan dengan cara ku, jika kamu tidak melakukan sesuai yang aku katakan, besok tembok di distrik kalian semuanya tertempel dengan foto ibu mu dan pria liar yang lain.... Tidak peduli kalian hidup dimana, tidak bisa bersembunyi dari masalah ini, aku akan membuat kalian menjadi tren diseluruh internet.”
Sella menggenggam handphone, merasa sangat kesal sampai seluruh badannya gemetar.
“Lebih baik menurut dan lakukan dengan baik, katakan bahwa ada pria yang kamu sukai, lalu, buatlah dia menyerah dan patah hati, buat dia membenci mu, meninggalkan mu.”
“Aku mohon kamu jangan seperti ini......” Sella dengan lemas bersandar di tembok dan terduduk, suaranya yang memohon.
“Tidak ada gunanya memohon padaku! Ingin menolong ibumu, maka mohon lah pada dirimu sendiri! Sebentar lagi aku masuk ke restoran, harus mendengar kalimat kamu menyukai pria lain, jika tidak, lihat saja apa yang akan terjadi.”
Panggilan itu pun diakhiri.
Sella memegang wajah, ia ingin menangis, namun tidak berani menangis, hanya saja rasa benci memenuhi hatinya, malah tidak mampu melepaskannya.
Dia melihat pemandangan yang jauh, melihat balkon yang ada di samping, dia mempunyai sebuah, apakah dengan mati, maka semua masalah terselesaikan, pun tidak mau mengatakan kata-kata yang menyakitkan, pada pria yang sangat ia cintai? Tidak mau mengambil sebuah pisau, dan langsung menusuk hatinya?
Dia mempunyai sebuah niat untuk bunuh diri, dia berpikir, jika dirinya benar-benar meninggalkan dunia seperti ini, dengan begitu ibu akan sangat kesepian, tidak ada saudara, tidak ada keluarga, bagaimana dia bisa melewati seumur hidup ini?
Sella lebih baik menghilangkan niat bunuh dirinya ini, dia tidak membuat Bryan curiga, ia menarik nafas dalam, berdiri, lalu melihat ke arah meja makan, bayangan tubuh Bryan yang elegan, ketika matanya melihat kesini, dia berpura-pura secara alami berjalan ke arahnya.
Mata Bryan dengan serius memperhatikannya, wajah Sella yang lemah dan pucat, terlihat sebuah aura yang menyedihkan, Bryan benar-benar sangat sedih.
__ADS_1
“Ibu mu sedang mencari mu kah? Apakah sudah saatnya pergi?”
Sella berdiri di depannya, saat ia berjalan kemari, terlihat Christy pun sudah kembali ke tempat duduk nya.
Sella sedikit mengepal tangannya, dia melihat Bryan, akhirnya ia mengatakan kata-kata yang bertentangan dengan hatinya, “Maaf, telepon yang tadi bukanlah dari ibu ku.. ialah.. ialah telepon dari cinta pertama ku.”
Ekspresi wajah Bryan tercengang, dia melihat Sella sesaat, bibirnya tersirat senyuman yang seperti angin musim semi, “Karena kamu sudah meminta maaf, dan juga sudah berkata jujur, maka aku memaafkan mu.”
Sella dengan ekspresi sedih melihatnya, ia menggeleng-geleng kepala, “Tidak.... Yang ingin aku katakan ialah, aku.. aku menyukai cinta pertama ku, kita putus!”
Senyuman di mata Bryan tertahan, berkata dengan teguh, dengan ekspresi yang serius menatapnya, “Sella, kamu katakan sekali lagi.”
Sella merasa dia sudah marah, kepalanya diturunkan dengan sangat rendah, memaksa suaranya sendiri agar lebih keras, “Aku berkata kita putus! Aku ingin kembali ke sisi cinta pertama ku, karena orang yang aku cintai adalah dia.”
Ekspresi wajah Bryan tiba-tiba berubah, dia bangkit berdiri, dia yang mempunyai tinggi 180 cm, seketika seperti sebuah sinar yang sangat terang menekan ke tubuh Sella, membuat dia merasakan energi dari Bryan.
Apakah dia sudah mau marah?
Namun, kepalanya dengan perlahan di belai dengan lembut oleh sebuah telapak tangan yang besar, diatas kepalanya terdengar sebuah suara yang lembut, “Cukup, sudah cukup ributnya bukan? Aku tidak peduli cinta pertama mu, sekarang kamu adalah wanita ku, milik ku.”
Suara itu kuat dan sangat otoriter.
Sella tercengang, ia mengangkat kepala, dengan tidak berani percaya melihat mata Bryan yang begitu lembut seperti biasanya, bagaimana mungkin dia tidak marah sedikit pun?
Lantas dengan dia mengatakan bahwa dia menyukai orang lain, Bryan juga bisa memaafkannya?
Disamping, Christy pun kesal dan hampir menggila, dia mendengar perkataan Sella, namun, kenapa Bryan tidak merespon apapun? Dan malahan masih menggunakan ekspresi mata yang penuh toleransi dan kelembutan menatapnya.
Sebenarnya apa baiknya Sella? Disisi mana dia layak mendapat perlakuan Bryan seperti itu.
“Ayo! Aku antar kamu pulang! Aku lihat kamu hari ini sangat lelah, jadi berbicara sembarang.” Selesai Bryan mengatakannya, ia menggandeng tangannya, lalu berjalan pergi dari setapak jalan disamping.
Ketika Sella berjalan pergi, ia melihat Christy, Christy dengan rasa benci terus menatapnya sampai keluar.
__ADS_1
Keluar dari pintu tersebut, Bryan berjalan di depan, Sella ikut dari belakang, meskipun Bryan tidak marah, namun, dia merasakan ada sebuah aura di tubuh Bryan sudah berubah.
Bryan terus berjalan sampai ke lift, barulah dia menghela nafas, membalikkan kepala menarik nya masuk, dengan tatapan mata yang serius ia menatapnya berkata, “Beritahu aku, kenapa malam ini berbicara omong kosong seperti ini?”
Sella tidak berani melihat matanya, hanya menatap ujung sepatu nya sendiri , dengan sedikit sedih berkata, “Yang aku katakan ialah benar! Bukan berbicara omong kosong.”
Tangan Bryan dengan ringan memegang dagunya, dalam keadaan tidak melewati batas Sella, ia mendekatkan wajah kecilnya dan menatapnya, membuat sepasang mata hitam Sella yang bersinar itu langsung lurus menatapnya.
“Kamu benar-benar ingin putus dengan ku?” Bryan dengan serius menatapnya.
Mata Sella penuh dilapisi 1 lapis kabut, dia teringat dengan ancaman Christy, dia tahu dia tidak bisa melarikan diri dari masalah ini, tidak bisa bersembunyi, hanya bisa langsung menghadapinya.
Karena sudah mengatakan putus, maka langsung saja membuat penderitaan ini, langsung dengan sekali saja membuatnya menderita sampai ke puncaknya ?
Suara lift berhenti, Sella melihat matanya, dengan sangat pasti membalas, “Benar, kita putus!”
Selesai mengatakan hal itu, Sella memalingkan wajahnya , melepaskan tangan Bryan, dengan langkah besar berjalan ke arah pintu utama.
Bryan tercengang sesaat, ia berlari mengejar keluar, “Sella, tunggu aku!”
Sella tidak berjalan, namun berlari, dan terlebih lagi yaitu melarikan diri.
“Sella, kamu tunggu aku.” Bryan di belakang segera melangkahkan kaki panjangnya dan mengejar Sella.
Namun, Sella sudah berlari keluar pintu ruangan, dia pun berlari pergi ke jalan disamping, mobil Bryan berada di lapangan parkir, dia berhadapan pada bayangan punggung Sella, “Tunggu aku di simpang jalan, aku akan mengantar mu pulang.”
Sella menghilang di bawah lampu itu, Bryan sambil mengambil handphone dan meneleponnya, sambil terburu-buru berjalan ke lapangan parkir, ketika dia mengemudi keluar, berhenti di jalan samping, ia mengira Sella akan menunggunya.
Namun, dia sudah berkeliling beberapa putaran di samping, namun tidak melihat bayangan Sella, Bryan pun sedikit marah, apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini?
Tak disangka mencampakkannya dan lari begitu saja seperti ini, juga tidak mengangkat teleponnya.
Bryan pun kembali ke samping jalan hotel lagi, dia dengan kesal memukul stir mobil, dia tahu, Sella pasti sudah pulang, dia langsung melaju ke rumahnya. Masalah malam ini, dia harus meminta penjelasan pada Sella.
__ADS_1