
Langkah Sella Ji terhenti sejenak, jika ia berada di sini, apakah ia sedang berbelanja bersama kekasihnya? Ia benar-benar tak ingin bertemu mereka.
Tapi tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di kepalanya, saat ini mereka tinggal di satu area pemukiman, ia takkan mungkin bisa menghindari mereka selamanya. Ia berhasil menghindari mereka sekali pun, belum tentu bisa menghindari mereka untuk kedua kalinya.
Tidak mungkin ia harus menghindari seluruh tempat yang mereka datangi.
Sella Ji sangat suka menghibur diri seperti ini, maka kemudian dengan langkah mantap, ia memasuki pintu mall.
Dan juga, mall ini sangat besar, mungkin mereka tak akan bertemu. Setelah memikirkan ini, Sella Ji berbelanja dengan tenang, ia pergi ke supermarket untuk membeli makanan ringan dan beberapa barang kebutuhan wanita, ia mendorong troli belanjanya sambil berjalan santai menyusuri rak barang-barang kebutuhan pokok. Karena mall itu sangat besar, ia juga segera mengenyahkan pikiran apakah ia akan bertemu dengan Bryan Gong.
Ia mulai mengingat-ingat barang apa yang harus dibelinya dan mencarinya.
Ia ingin membeli beberapa cangkir, karena mereka baru pindah rumah, masih banyak perabotan yang belum mereka punya. Dan kakaknya sangat sibuk, pasti ia takkan sempat membelinya, maka ia yang harus membelinya.
Saat menyusuri rak mangkok-mangkok dan cangkir, ia dengan cermat memperhatikan berbagai jenis cangkir yang dipajang di rak. Mall ini dipasok oleh merek-merek bagus dan terkenal, maka seluruh model dan warnanya sangat mempesona, ia tak tahu yang mana yang harus dipilihnya.
Sementara di depannya, seseorang sedang berjongkok untuk mengambil barang di rak bagian bawah, Sella Ji tidak melihatnya, maka troli yang didorongnya menabrak punggung pria itu.
Saat menyadari ia telah menabrak seseorang, Sella Ji terkejut, sebelum melihat siapa yang ditabraknya, ia segera meminta maaf, “Maaf, maaf...”
Pria yang ditabraknya perlahan bangkit berdiri, ia sangat tinggi, sekitar 1 kepala lebih tinggi darinya, tapi, meski pria itu masih memunggunginya, tapi rambut hitamnya yang tertata rapi dan tubuh gagahnya yang terbalut kaus ketat segera membuat Sella Ji ketakutan.
Sosok pria yang ditabraknya ini sangat familiar.
Sambil memegang sebuah mangkok makanan anjing, Bryan Gong menoleh dan menatapnya dengan jengkel.
Baru saja ia berjongkok untuk memilih mangkok makanan untuk Hero, troli seseorang menabraknya, bukankah ini sangat menjengkelkan?
__ADS_1
Apalagi, orang yang menabraknya rupanya Sella Ji sialan ini.
“Ma... maaf, aku tak tahu ada orang disini.” Kata Sella Ji dengan panik.
Jika ia menabrak orang lain masih tak apa, tapi ini lebih buruk, ia menabrak seorang pria yang sudah sangat jengkel dan membencinya.
Bryan Gong yang tinggi besar tiba-tiba menghampirinya, ia yang awalnya berdiri di depan rak, dengan ketakutan melangkah mundur, menatapnya dengan ekspresi ketakutan.
“Kau sengaja, bukan?” kata Bryan Gong sambil menggertakkan giginya.
Sella Ji menahan nafasnya, sudah berapa lama ia tak pernah berdiri sedekat ini dengannya? Meskipun ia sangat jengkel dan tidak senang, tapi Sella Ji masih bisa mencium aroma tubuhnya yang maskulin.
Ia menelan ludah dan menggeleng, membantah, “Aku tidak sengaja.”
“Aku... aku benar-benar tidak sengaja, aku ke sini untuk membeli cangkir!” setelah berkata, ia meraih sepasang cangkir dan meletakkannya di trolinya.
Cangkir itu adalah cangkir couple, begitu melihatnya, orang akan mengenali bahwa itu adalah cangkir couple. Melihatnya, ekspresi Bryan Gong menjadi dingin, rupanya ia dan kakaknya begitu romantis, bahkan cangkir saja cangkir couple!
Sella Ji juga menyadarinya, tapi ia tetap meletakkannya di trolinya karena ia memang menyukainya, bukan karena ada maksud lain.
Matanya tertuju pada mangkok yang dipegangnya, mangkok itu tak seperti untuk manusia, tapi mangkok anjing. Ia berusaha mencairkan suasana dan berkata, “Apakah kau sedang membelikan mangkok untuk Hero?”
Bryan Gong perlahan melangkah menuju ke trolinya dan meletakkan mangkok itu ke dalam. Di dalam trolinya sudah ada beberapa barang lain, ia pasti telah cukup lama berada di sini.
Sella Ji di belakangnya dengan penasaran bertanya, “Apakah kekasihmu tidak ikut?”
__ADS_1
Bryan Gong hanya mendorong trolinya tanpa mempedulikannya.
Sella Ji menghela nafas panjang, ia merasa bersalah tadi telah menabraknya.
Sella Ji mulai mencari barang-barang yang dibutuhkannya, sesekali ia bisa melihat Bryan Gong yang sedang memilih beberapa barang, dan setiap saat, di sisinya selalu ada segerombolan gadis yang mencuri-curi pandang kepadanya dan terkikik, karena pria yang sedang berbelanja sendirian di supermarket ini sangat tampan. Sella Ji tak bisa fokus lagi, ia melupakan semua yang ingin dibelinya dan ingin segera pergi saja. Ia mendorong trolinya ke kasir, beberapa orang berbaris di depannya, maka ia menunggu dengan sabar. Ia menatap ke sekeliling, mencari sosok Bryan Gong, tapi tak dapat menemukannya.
Saat menunggu antrian, tiba-tiba ia merasakan ada seseorang di belakangnya.
Ia menoleh dan terkejut, Bryan Gong berada di belakangnya, matanya yang hitam menatapnya tanpa ekspresi.
Begitu melihatnya, jantung Sella Ji berdegup kencang, ia menundukkan kepala dengan canggung, takut ia akan memergoki perasaannya terhadapnya. Akhirnya orang di depannya telah selesai membayar, saat Sella Ji mengeluarkan barang-barangnya dari trolinya, ia melihat pria di belakangnya juga mengeluarkan barang-barangnya, ia menoleh menatapnya. Pria itu meletakkan barang dari trolinya ke meja kasir, dan tercampur dengan barangnya.
“Kau...” Sella Ji tak tahu apa yang ingin ia lakukan.
“Bayarkan milikku.” Kata Bryan Gong sambil menunduk menatapnya.
Sella Ji terkejut, tapi ia tetap berkata pada kasir, “Akan kubayar bersama.”
Bryan Gong menyingkirkan trolinya dan berdiri di belakangnya. Seseorang mengantri di belakangnya, dan jaraknya agak terlalu dekat dengannya. Bryan Gong tak menyukainya, maka ia sekali lagi melangkah maju, hingga tubuhnya hampir menempel dengan punggung Sella Ji.
Sella Ji merasa tercekat, dan pikirannya menjadi kacau, ia tak tahu harus bagaimana.
Ia bahkan lupa meminta kasir untuk memisahkan barangnya, maka barang mereka saling tercampur di dalam dua plastik besar. Saat Sella Ji teringat di dalamnya ada beberapa bungkus pembalutnya, wajahnya memerah karena malu.
Sungguh memalukan!
__ADS_1
“Nona, harap maju agar tidak menghalangi antrian di belakang.” Sambil menggesek kartunya, kasir itu memperingatkannya. Sella Ji segera meletakkan dua plastik besar itu ke dalam trolinya, dan Bryan Gong mengikutinya dari belakang.