
Setelah meninggalkan rumah Siti Zhang, di dalam mobil, Sella Ji terus menggenggam liontin giok itu, ia merenungkan.
Ia berpikir, kenapa saat itu ibunya membuangnya? Kenapa ia dengan begitu kejam meninggalkan dunia ini dan tak ingin merawatnya?
Jayce Ji menatap Sella Ji yang sedang menggenggam liontin itu sambil melamun, dalam hati ia merasa agak tegang, seolah ia tahu apa yang sedang dipikirkan Sella Ji, ia mengerutkan kening dengan khawatir.
“Kak.. bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Sella Ji tiba-tiba berkata.
Jayce Ji berpura-pura menatapnya dengan tenang, “Menanyakan apa?”
“Apakah kakek pernah memberitahumu tentang ayahku?” Sella Ji menatap wajah tampannya dengan penuh harap.
Jayce Ji tersenyum pahit, yang paling ia takutkan adalah Sella Ji akan menanyakan hal ini, ia telah berjanji pada kakek untuk tak memberitahunya tentang ini.
Jayce Ji fokus menyetir sambil menjawab lirih, “Sangat jarang.”
Sella Ji menjadi bersemangat, “Berarti ia pernah menceritakannya? Apakah kau tahu siapa ayahku? Dimanakah dia? Bisakah kau memberitahuku?”
Jayce Ji menghela nafas dan mendongak, berusaha membujuknya, “Sella, aku mengerti kau ingin menemukan ayahmu, tapi jika kakekmu tak memberitahumu tentang ini, berarti ia tak ingin ada hubungan antara kau dengan ayah kandungmu.”
Ekspresi gembira di mata Sella Ji perlahan memudar, dan ia kembali bersandar di kursi penumpang, “Aku tahu pasti terjadi sesuatu saat itu, jika tidak, kakek tidak akan mungkin tak memberitahuku, tapi... tapi aku sungguh ingin tahu siapakah ayahku.”
Jayce Ji mengulurkan tangan dan mengusap kepalanya dengan lembut, “Tenanglah, sepanjang sisa hidupmu, akulah keluargamu, tak peduli apapun yang terjadi, aku akan selalu di sisimu.”
Sella Ji mengatupkan bibirnya dan memaksakan diri tersenyum, “Terimakasih, kak Jayce.”
Jayce Ji diam-diam mendesah, dari ekspresi Sella Ji, ia tak melihat perasaan lain selain perasaannya sebagai saudara, hal ini membuatnya agak kecewa, tapi di satu sisi juga membuatnya merasa tenang.
__ADS_1
Dan kakek di surga juga takkan menyalahkannya, karena perasaan tak bisa diatur!
“Malam ini kita makan di luar?” tanya Jayce Ji.
Sella Ji mengangguk, “Baiklah, di manapun boleh.”
Jayce Ji menggeleng, sejak bertemu Bryan Gong, Sella Ji jadi tidak fokus dan sering melamun, tidak seperti sebelumnya yang selalu penuh semangat, sepertinya, pengaruh Bryan Gong terhadapnya cukup besar.
Jayce Ji mendengar ada sebuah restoran yang sangat bagus, dan ia merupakan sebuah restoran privat, saat kliennya mengajaknya ke sana saat itu, interiornya sangat bagus, dan sama sekali tidak berisik, ia berencana mengajaknya makan di sana.
Sella Ji lagi-lagi melamun, memikirkan seperti apakah ayahnya, di foto masa mudanya, ibunya sangatlah cantik dan mempesona, ia penasaran, orang seperti apakah yang bisa membuatnya jatuh cinta hingga bisa melahirkannya?
Saat sedang melamun, Sella Ji merasakan mobil Jayce Ji telah berhenti. Ia menatap ke sekelilingnya, dan terkejut. Ia telah beberapa kali mengunjungi restoran ini bersama Bryan Gong.
Bisa dibilang, Bryan Gong sangat sering mengunjungi restoran ini.
“Oh, baik!” Sella Ji segera melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil, di saat yang sama, ia merasa agak cemas, bagaimana jika ia bertemu dengannya di restoran ini? Tapi ia kembali berpikir, mana mungkin begitu kebetulan?
Beberapa hari ini ia terus bertemu dengannya saja sudah sangat kebetulan, mana mungkin bisa lebih dari itu lagi.
Tapi sebenarnya, ia sangat menyukai masakan restoran ini, maka ia sangat senang bisa sekali lagi makan di sini.
Ia memasuki lift bersama Jayce Ji. Restoran itu berada di lantai 12, dan merupakan salah satu restoran milik pribadi. Saat itu Jayce Ji telah mendaftar dan menjadi pemegang kartu member emas di tempat ini. Orang biasa takkan mungkin bisa mendapatkannya.
Lift itu berdenting terbuka, dan Sella Ji mengikuti Jayce Ji melangkah ke pintu restoran, di sini suasananya sangat elegan, selain untuk makan, orang bisa menikmati suasana yang kental akan seni dan budaya.
Karena mereka tiba cukup awal, meskipun belum memesan meja, mereka masih bisa mendapatkan tempat, Sella Ji selalu suka duduk di dekat jendela, maka mereka berdua duduk di meja dekat jendela.
__ADS_1
Saat memesan, Sella Ji segera memesan dua menu paling favorit di tempat itu, Jayce Ji dengan terkejut bertanya, “Apakah kau sudah pernah ke sini sebelumnya?”
Sella Ji mengangguk, “Sudah pernah.”
Jayce Ji sudah bisa menebak, ia pasti ke sini dengan Bryan Gong, maka ia tak bertanya lebih lanjut. Setelah memesan makanan dan meminum tehnya, mereka menikmati pemandangan malam di luar jendela.
Cahaya lampu perkotaan mulai menyala, bagaikan bintang-bintang yang bersinar di angkasa, sangat menawan.
Sella Ji sedang menyisip tehnya, tiba-tiba ia mendengar suara ramah pelayan di pintu sedang menyambut seorang tamu, “Selamat malam, selamat datang.”
Sella Ji secara spontan menoleh untuk menatap tamu yang berjalan masuk itu, dan saat ia melihat sosok yang diterpa cahaya lampu kuning itu, ia gemetaran hingga cangkir tehnya ikut bergetar.
Ya Tuhan! Kenapa kebetulan sekali, ia benar-benar bertemu Bryan Gong.
Di sebelah Bryan Gong ada seorang pria muda, dan di belakang mereka, sesosok gadis yang tinggi dan berpakaian modis berjalan masuk, Sella Ji menatap gadis itu dan segera menjadi panik, jantungnya berdegup kencang.
Rupanya gadis itu adalah Christy Lan, Christy Lan yang sudah 3 tahun tak dijumpainya, kini ia telah lebih dewasa dan semakin cantik, selera fashionnya juga sangat bagus, tapi bagi Sella Ji, wajah ini hanya membuatnya sangat jengkel.
Ia tak bisa melupakan seluruh perkataan yang ia katakan padanya saat itu, perkataan itu sungguh menyakiti hatinya, bahkan setiap kali ia memejamkan matanya, ia masih ingat setiap ancaman dan intimidasi darinya.
Kini, bagaimana ia bisa bersikap tenang saat melihatnya berjalan memasuki restoran bersama Bryan Gong? Ia sangat mengkhawatirkan Bryan Gong, karena ada wanita yang begitu kejam dan licik itu di sisinya.
Baru saja masuk, Bryan Gong bisa merasakan ada seseorang di dekat jendela yang sedang menatapnya, dan tatapan itu terasa familiar, ia mengangkat alisnya dan memicingkan mata, dan ia melihat di sebuah meja di dekat jendela, duduk Sella Ji dan Jayce Ji.
Ia merasa muram dan tercekat, dulu Sella Ji sangat menyukai restoran ini, tak disangka, kini ia membawa seorang pria lain ke sini untuk makan.
Ia merasa sangat tidak terima! Tatapan Sella Ji dan Bryan Gong beradu, Sella Ji segera memalingkan pandangannya dan menunduk, berpura-pura meminum tehnya.
__ADS_1