Kisah Asmara Bryan

Kisah Asmara Bryan
Ranjang atau Sofa


__ADS_3

Sella Ji masuk ke dalam kamar hotelnya, melihat lelaki yang memegang ponsel itu duduk di atas sofa, lalu melihat ranjang itu, yang berwarna putih, membuat sekujur tubuhnya merasakan hawa panas yang menghantarkan gelombang ke seluruh pikirannya, ia mengalihkan pandangan ke sekitarnya, sofa di samping itu, jika Bryan Gong tidur disana pasti menderita, namun untuknya, cukup pas untuk berbaring semalam disana.



  



“Aku tidur di sofa!” Dia berbicara sambil menunjuk sofa.



Bryan Gong mengerutkan alisnya, “Kamu kenapa ingin tidur di sofa?”



Sella Ji berkedip, menunjuk ranjang di sampingnya, “Kamu tidur di ranjang.”



  



Bryan Gong tak dapat menahan rasa lucu itu, lalu ia duduk bersandar dengan nyaman, tangan panjangnya diletakkan di lengan sofa, sepasang matanya menatap wanita itu, “Di dunia ini mana ada prinsip lelaki tidur di ranjang, wanita tidur di sofa?”



“Tapi... Tapi sofa itu begitu kecil, kamu pasti tidak akan tidur dengan nyaman!” Sella Ji balik bertanya.



Bryan Gong sekali lagi ingin tertawa, dia mengukur panjang sofa itu dengan panjang tangannya, lalu ia menyetujuinya, “Benar, disini aku pasti tidak bisa tidur.”



“Tapi aku bisa! Jadi, aku tidak akan merasa menderita jika tidur di sofa.” Sella Ji berkata terus terang.



Bryan Gong menggelengkan kepalanya, “Tidak boleh, aku, Bryan Gong, tidak punya kebiasaan membiarkan wanita tidur di sofa.”



Lalu Sella Ji mau tak mau bertanya kepadanya, “Lalu bagaimana?”



“Tentu saja tidur bersama di ranjang.” Bryan Gong menunjuk ranjang besar dan lebar itu.



Hati Sella Ji tiba-tiba merasa bahaya, ia dengan panik menelan ludahnya, “Tidur... Tidur bersama?”



Bryan Gong dengan serius melihat wajahnya, lalu mengangguk, “Benar, tidur bersama.”

__ADS_1



Sella Ji dalam dunia percintaan, masih seorang yang polos, tidak punya pengalaman apa-apa, dan hal seperti lelaki dan wanita tidur di ranjang yang sama, di matanya sudah merupakan satu hal yang tak dapat diterima, apalagi bersama lelaki yang sangat dicintainya tidur bersama, ia merasa detak jantungnya semakin cepat.



Bryan Gong dapat melihat pikirannya, ia menghela napas kecewa, “Kamu tidak percaya padaku?”



“Percaya kamu apa?” Sella Ji bertanya walau sebenarnya ia tahu jawabannya.



“Percaya moralku.” Bryan Gong mengangkat matanya, mata yang dalam dan jelas, menunjukkan sebuah pertanyaan yang harus dijawab.



Sella Ji tak tahan ingin tertawa, tapi menahannya, lalu menjawab sambil mengangguk, “Percaya.”



Bryan Gong jelas-jelas mendengar jawabannya yang pasti, namun hatinya mengapa masih terasa sedikit pahit? Apakah wanita itu berharap ia adalah lelaki yang menjaga perilaku, lelaki yang tidak melakukan apapun baru dikatakan lelaki baik?



“Sudah larut, kamu mau mandi dulu atau aku?” Bryan Gong kembali memberikan pilihan kepada wanita itu.



Wajah Sella Ji sedikit merah, setelah berpikir sejenak ia berkata, “Kamu duluan.”




Bryan Gong dari sebuah laci mengeluarkan pakaian dalam sekali pakai, meletakkan yang punya wanita di sebelah, “Ini punyamu, kalau gitu aku mandi duluan.”



Napas Sella Ji menjadi cepat beberapa saat, menghadapi situasi seperti ini, dia benar-benar seperti seorang anak kecil, tidak tahu harus melakukan apa. Lalu saat itu, tangan panjang Bryan Gong hendak melepaskan kemejanya, dia yang berdiri di bawah cahaya lampu kristal, dengan postur 1,8m, proporsi badannya sangatlah sempurna, dada bidang, pinggang sempit, dan kaki panjang, dilengkapi dengan figur seperti ukiran yang sempurna, saat itu, setiap gerakannya, seperti membawa semacam godaan, yang membuat wanita yang melihatnya, akan kacau hatinya.



Saat gerakan Bryan Gong menunjukkan aksi liarnya, melepas kemejanya, Sella Ji dengan cepat membalikkan tubuhnya, berkata kepadanya, “Aku... Aku pergi ke balkon mencari angin.”



Bryan Gong ternyata tidak mencegahnya, masih bagus ruang tamu disini dibuat dengan model pintu dorong yang mewah, walaupun kamar mandi tertutup kaca, tapi jika menarik pintu ini, masih dapat menutupi keindahan manapun.



Sella Ji tertiup angin malam, wajahnya sedikit memanas, pikirannya dipenuhi dengan penampilan Bryan Gong membuka baju tadi, dia juga melihat tubuhnya yang kekar, tubuhnya masih lebih dari standart jika dibandingkan dengan model lelaki, setiap ototnya seperti menyimpan kekuatan.



Sella Ji memegang wajahnya, ia merasa walaupun angin yang lebih kuat meniupnya, tidak akan menghilangkan rasa panas di wajahnya, di saat yang bersamaan, rasanya juga seperti sedang bermimpi.

__ADS_1



Baru saja kemarin, ia masih tidak berani berharap akan dapat bersamanya, namun hari ini, dia malah dengannya masuk ke dalam kamar yang sama, lalu akan tidur berbagi ranjang dengannya semalam, takdir benar-benar bisa bercanda.



Sella Ji yang sedang tertiup angin, mendengar langkah kaki dari belakangnya, mau tak mau membalikkan kepalanya, lalu menjumpai Bryan Gong keluar dengan mengenakan gaun mandi berwarna putih, rambut gelapnya masih basah, rambut gelapnya sedikit berantakan, beberapa helai poninya berada di keningnya, membuat wajahnya semakin liar.



“Mandi gih!” Bryan Gong berkata kepadanya dengan suara rendah.



Sella Ji menganggukkan kepala, ketika lewat samping tubuhnya, ia dapat mencium aroma sabun mandi dari tubuhnya, jantungnya lalu berdetak tak karuan, dia kembali ke sofa, mengambil pakaian dalam sekali pakai lalu masuk, gaun mandi tepat terletak dalam lemari di sebelah kamar mandi, dia mengambil selembar handuk lalu masuk.



Bryan Gong mendengar dari belakangnya pintu penghalang di tarik dengan rapat, bibirnya melengkung membentuk senyuman, awalnya ia berpikir bahwa dalam tiga tahun ini, ada yang berubah dari wanita itu.



Namun reaksinya malam ini, sedikit canggung dan imut polos, tampaknya, hatinya terhadap relasi lelaki wanita masih malu-malu seperti dulu.



Memikirkan hal ini, perasaan Bryan Gong tak dapat dijelaskan menjadi sangat baik. Sella Ji keluar setelah selesai mandi, rambutnya basah karena uap, ia menggulung hendak mengeringkannya, saat itu, wanita yang memakai gaun mandi putih itu, yang rambutnya digulung ke depan dadanya, wajahnya yang mulus seperti permata, nampak bersih dan indah, seperti dewi rubah yang tinggal dalam gunung pada cerita kuno, memancarkan napas yang berisi racun pengacau pikiran.



Bryan Gong membalikkan punggungnya menghadap balkon, kedua tangannya otomatis mencengkram pegangan pada balkon, mata gelapnya melihat wanita yang berjalan keluar itu, hati dan tubuhnya, semuanya sangat bergairah.



Dia juga sudah bukan lelaki yang menginginkan cinta yang polos seperti tiga tahun lalu, dia sudah 27 tahun, yang dia inginkan sudah berubah makin banyak, juga makin serakah.



Sella Ji mengencangkan gaun mandinya berjalan ke samping lelaki itu, dia dibuat malu oleh pandangan lelaki itu, dia mengaitkan rambut panjangnya yang tertiup angin ke telinga, memperlihatkan telinga mungilnya yang berkilau.



Bryan Gong menikmati keindahan wanita itu dari jarak dekat, walaupun ditutupi dengan gaun mandi yang lebar, namun, betapa anggun dan indah tubuhnya, hati Bryan Gong dapat otomatis menilainya.



“Cuaca malam ini sungguh bagus.” Sella Ji memegang pegangan pada balkon, ia memandang jauh ke lautan yang memantulkan bulan terang, di antara bintang-bintang, ada satu yang melintasi langit.



Dengan cepat Sella Ji berteriak gembira, “Ada bintang jatuh!” Setelah selesai berbicara, ia segera menangkupkan kedua tangannya dan menutup mata untuk membuat permohonan, Bryan Gong membalikkan tubuhnya, melihat bintang jatuh itu ditengah lautan bintang, di saat yang bersamaan, pandangannya yang lembut juga jatuh pada wajah wanita yang sedang memohon itu.



-----------------------


__ADS_1


Terima kasih kepada para pembaca atas dukungan yang diberikan kepada author. Author mendoakan supaya para pembaca sehat selalu dan Tuhan selalu memberkati kalian dan keluarga kalian. Jika kalian suka buku ini, jangan lupa ya untuk di share ke teman kalian. Sukses selalu!


__ADS_2